Kisah Perjalanan Eka Tjipta Widjaja Sampai ke Makassar

kota
Kota Makassar tempo doeloe

Mengenang Lima Tahun Meninggalnya Eka Tjipta Widjaja

 

Oleh: Fadmin Malau

SETELAH Revolusi Tiongkok tahun 1911-1912, Fujian menjadi ajang pertarungan penguasa lokal dan terbagi menjadi wilayah-wilayah politik dan militer. Pada awal tahun 1930-an, bagian barat Fujian digabungkan ke dalam wilayah komunis Jiangxi Soviet. Pemberontakan dari tentara nasionalis terhadap tentara komunis terjadi tahun 1933. Pendudukan Jepang atas Fujian dimulai tahun 1938, Jepang terutama di kawasan pesisir, sehingga pemerintahan provinsi mundur ke Yongan, Fujian tengah. Sejak tahun 1949, Fujian dikuasai oleh tentara merah dan menjadi bagian Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Dalam buku Masyarakat dan Kebudayaan Cina Indonesia yang ditulis Hidayat Zainal Mutakin menjelaskan tentang gelombang kepergian kaum Tionghoa dari tanah leluhurnya. Sebagian besar karena motif ekonomi disebabkan jumlah penduduk yang banyak sehingga sulit mencari pekerjaan di negeri sendiri. Kemudian dalam buku “Kongsi dan Spekulasi Jaringan Kerja Bisnis Cina” yang ditulis J.L. Vleming, Jr menjelaskan bahwa kaum Tionghoa datang ke Indonesia dalam beberapa gelombang migrasi. Tujuan kedatangan kaum Tionghoa itu untuk mencari nafkah dan penghidupan yang lebih baik.

Baca Juga :  Jutaan Data Pasien Bocor, Apa Saja Data Yang Bocor ?

Dijelaskan juga pada pertengahan abad ke-19, jumlah imigran mencapai seperempat juta orang. Jumlah tersebut terus meningkat hingga tahun 1930, dimana ada setengah juta etnis Tionghoa pindah ke Hindia-Belanda. Orang-orang Tionghoa yang jumlahnya makin banyak itu kemudian tinggal berkelompok di satu wilayah yang berada di bawah kontrol pemerintah Hindia-Belanda yang kemudian biasa disebut pecinan.

Templestraat atau jalan Temple tahun 1930, kini menjadi jalan Sulawesi. (Foto: Sumber KITLV)

Eka Tjipta Widjaja lahir dengan nama Oei Ek Tjhong pada 27 Februari 1921 di Quanzhou, Provinsi Fujian, Tiongkok. Dalam usia kanak-kanak Eka Tjipta Widjaja turut menjadi seorang imigran asal Quanzhou, Tiongkok dibawa sang ibu.

Pasalnya, Eka Tjipta Widjaja terlahir dari keluarga yang kondisi ekonomi serba kekurangan. Keluarganya ingin mengubah hidup maka sang ayah Oei Tjek Tjai yang lahir di Tjoan Tjioe, Zhang Zhou, Tiongkok pada tahun 1891 adalah ayah dari Eka Tjipta Widjaja yang telah terlebih dahulu menjadi imigran asal Quanzhou, Tiongkok ke Makassar, Indonesia.

Baca Juga :  Mata-Mata China Dipenjara 20 Tahun Di AS Karena Spionase

Tanpa didampingi anak dan istri, Oei Tjek Tjai naik kapal laut ke Makasar, Sulawesi Selatan yang kemudian berhasil membuka sebuah toko kecil di Makassar. Untuk itu, Eka Tjipta Widjaja yang masih kanak-kanak berusia 9 tahun bersama ibunya memutuskan menyusul sang ayah dan menjadi imigran atau merantau dari Tiongkok ke Makassar, Indonesia tahun 1930.

Memang warga Provinsi Fujian Quanzhou, Tiongkok terkenal sebagai pelaut tangguh, mengharungi lautan hal yang biasa dimana waktu itu orang berlayar antar negara masih langka. Eka Tjipta Widjaja yang masih kanak-kanak itu bersama ibunya berlayar mengarungi lautan bebas untuk menyusul sang ayah yang telah berada di Makassar.

Bersama sang ibu, Eka Tjipta Widjaja kecil berlayar selama tujuh hari tujuh malam. Tentunya Eka Tjipta Widjaja bukan dengan ibunya saja akan tetapi ada ratusan imigran asal Quanzhou, Tiongkok yang berimigrasi. Berdasarkan buku “Kongsi dan Spekulasi Jaringan Kerja Bisnis Cina” yang ditulis J.L. Vleming, Jr menyebutkan pada tahun 1930 setengah juta etnis Tionghoa pindah ke Hindia-Belanda.

Baca Juga :  Pengamat Budiyanto: Parkir Liar Menjamur, Siapa Yang Salah?

Satu tekad dan keberanian luar biasa dari Eka Tjipta Widjaja dengan ibunya meninggalkan Provinsi Fujian, Tiongkok datang ke Makassar Indonesia bermodalkan apa adanya, membawa uang pas-pasan untuk bekal dalam perjalanan.

Hal itu terungkap dari mengutip wawancara Eka Tjipta Widjaja dengan wartawan beberapa tahun lalu mengatakan tidak memiliki uang yang cukup untuk merantau ke Makassar, Indonesia. “Kami tidak punya uang banyak, kami miskin maka hanya bisa tidur di tempat paling buruk di kapal, di bawah kelas dek. Ada uang lima dollar, tetapi tidak bisa dibelanjakan, karena untuk ke Indonesia saja kami masih berutang 150 dollar pada rentenir,” kata Eka Tjipta Widjaja mengenang. (BERSAMBUNG besok bagian keempat)

 ***

Bagikan :