Penumpang KRL Berjubel, Bagaimana Solusinya ?

Pengamat Pemerhati masalah transportasi dan hukum AKBP ( P ) Budiyanto SH. SSOS. MH.
Pengamat Pemerhati masalah transportasi dan hukum AKBP ( P ) Budiyanto SH. SSOS. MH.

Jakarta|EGINDO.co Pemerhati masalah transportasi dan hukum menjelaskan, Sarana transportasi KRL untuk wilayah Jabodetabek masih menjadi idola atau diminati oleh warga karena dengan pertimbangan harga ticket yang terjangkau dan ketepatan waktu.

Lanjutnya, dengan alasan tersebut KRL setiap hari penumpangnya mengalami trend peningkatan bahkan akhir – akhir ini penumpangnya mengalami over / berjubel.

Ia katakan, PT KAI ( Commuter line ) dalam rangka menyikapi masalah tersebut berusaha untuk menambah atau mengganti komponen – komponen KRL yang lama dengan cara ingin import KRL bekas dari Jepang namun tidak diperbolehkan dengan tujuan agar menggunakan produk dalam negeri ( INKA ).

Ilustrasi penumpang KRL yang berjubel

Dikatakannya, yang menjadi kendala apakah INKA mampu memproduksi dalam waktu cepat untuk memenuhi kebutuhan PT KAI ( Commuter line ) tersebut. Apalagi perkembangan peminat KRL pasca Pandemi makin menunjukan trend peningkatan.

Baca Juga :  Suhendra: Gandeng Kampus, APP Group Perekrutan Karyawan

“Indikator secara kasat mata jelas akhir- akhir ini penumpangnya makin berjubel sehingga tidak nyaman dan pengap,”ujarnya.

Mantan Kasubdit Bin Gakkum AKBP ( P) Budiyanto mengatakan, bagaimana menempatkan penumpang perempuan pada tempat atau gerbang yang terpisah untuk menghindari tindakan atau perilaku yang berkaitan dengan pelecehan dan sebagainya. Apakah dengan situasi yang berjubel memungkinkan jaminan tersebut.

Menurut Budiyanto, tetap harus ada gerbong khusus untuk penempatan penumpang perempuan. Perlu ada akselerasi penambahan gerbong KRL untuk menambah kapasitas penumpang dan quota gerbang untuk penumpang perempuan. Atau bila memungkinkan head way dipersingkat yang memungkinkan jumlah perjalanan KRL bisa meningkat.

“Untuk dalam waktu pendek produk dalam Negeri kelihatannya masih sulit untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dilain pihak import KRL bekas juga dilarang,”tandasnya.

Baca Juga :  Korsel Ingin Selesaikan Sengketa Masa Perang Dengan Jepang

Kata pengamat transportasi Budiyanto, jalan tengahnya ( win – win solution ) dan mengoptimalkan manejemen operasional KRL sehingga ada peningkatan jumlah perjalanan dan kapasitas penumpang yang diangkut.

@Sadarudin

Bagikan :
Scroll to Top