Penguatan Hilirisasi dan Sektor Manufaktur Dorong Surplus Neraca Dagang Agustus 2026 Tembus US$3,55 Miliar

Ilustrasi Infografis ini memvisualisasikan surplus neraca dagang Indonesia sebesar US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026.
Ilustrasi Infografis ini memvisualisasikan surplus neraca dagang Indonesia sebesar US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026.

Jakarta|EGINDO.co Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menyatakan optimismenya terhadap ketahanan eksternal ekonomi nasional. Optimisme ini didorong oleh kenaikan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 yang tercatat sebesar US$3,55 miliar, meningkat signifikan dari bulan sebelumnya yang berada di angka US$0,12 miliar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), secara kumulatif surplus neraca dagang Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2026 telah mencapai US$7,25 miliar. Capaian ini ditopang oleh surplus nonmigas sebesar US$28,54 miliar, di tengah defisit migas yang tercatat di angka US$21,29 miliar.

Meski secara tahunan angka ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025—di mana surplus Agustus 2025 mencapai US$5,49 miliar dan kumulatif Januari–Agustus 2025 sebesar US$29,35 miliar—tren pemulihan kini kian nyata. Neraca perdagangan kembali mencatatkan surplus dalam dua bulan berturut-turut setelah sempat mengalami defisit dan mengakhiri tren surplus selama 72 bulan pada Mei 2026 lalu.

Didorong Penguatan Hilirisasi dan Industri Pengolahan

Perbaikan kinerja neraca dagang pada Agustus 2026 ini utamanya ditopang oleh penguatan surplus perdagangan nonmigas yang melonjak menjadi US$6,09 miliar (dari US$3,10 miliar), serta penurunan defisit migas menjadi US$2,54 miliar (dari US$2,98 miliar).

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, mengungkapkan bahwa ekspor industri pengolahan tumbuh 6,62% dan menjadi kontributor utama pertumbuhan ekspor. Hal ini mencerminkan keberhasilan dan keberlanjutan program hilirisasi di tanah air.

Sepanjang Januari–Agustus 2026, beberapa komoditas utama penopang ekspor nonmigas mencatatkan pertumbuhan positif secara tahunan (CtC):

  • Besi dan baja: Naik 4,88% dengan nilai mencapai US$19,18 miliar.

  • CPO dan turunannya: Naik 6,57% dengan nilai mencapai US$17,75 miliar.

  • Batu bara: Naik 4,31% dengan nilai mencapai US$16,58 miliar.

Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menambahkan bahwa peningkatan ekspor nonmigas yang mencapai US$25,62 miliar juga didorong oleh komoditas berbasis sumber daya alam seperti nikel, lemak dan minyak hewani/nabati, logam mulia, perhiasan, permata, serta produk kimia manufaktur. Adapun China, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia.

Struktur Impor Cerminkan Aktivitas Produksi yang Ekspansif

Di sisi impor, struktur impor periode Januari–Agustus 2026 masih didominasi oleh bahan baku/penolong (US$133,38 miliar) dan barang modal (US$36,74 miliar). Kedua komponen ini secara bersama-sama mencakup 91,3% dari total impor, sementara barang konsumsi hanya porsi kecil yakni 8,7%.

Lonjakan impor pada mesin/peralatan mekanis yang naik 15,26% (CtC) serta mesin/perlengkapan elektrik sebesar 22,94% (CtC) dinilai menunjukkan tingginya kebutuhan input produksi dan barang modal. Tren ini sejalan dengan aktivitas produksi, investasi domestik, serta komitmen dalam mendukung keberlanjutan industri manufaktur nasional.

Sinergi Kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia

Menanggapi dinamika ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Di tengah dinamika global, fondasi ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat yang tercermin dari surplus neraca dagang, inflasi yang terjaga, serta sektor manufaktur yang kembali berada di zona ekspansif.

“Ke depan, Pemerintah akan terus memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat, mendorong investasi dan aktivitas industri, serta meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk Indonesia,” ujar Airlangga.

Senada dengan hal tersebut, Bank Indonesia menyatakan akan terus memperkuat bauran kebijakan serta sinergi erat dengan pemerintah dan otoritas terkait. Langkah strategis ini diambil guna memastikan ketahanan eksternal ekonomi nasional semakin kokoh serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan ke depan. (Sn)

Scroll to Top