Pengamat Budiyanto: Perilaku Melanggar Dianggap Biasa

Pemerhati masalah transportasi dan hukum AKBP ( P ) Budiyanto S.Sos.MH.
Pemerhati masalah transportasi dan hukum AKBP ( P ) Budiyanto S.Sos.MH.

Jakarta|EGINDO.co Pengamat transportasi dan hukum Budiyanto mengatakan, Fenomena pelanggaran lalu lintas masih banyak kita dapatkan terutama di jalan – jalan strategis Ibu Kota Jakarta, misal: Parkir pada bahu dan badan jalan, trotoar, tikungan jalan dan ditempat – tempat yang cukup berpotensi terjadinya fatalitas kecelakaan lalu lintas adalah pelanggaran melawan arus.

Mereka memperlihatkan sikap dan perilaku dianggap biasa, hal ini dapat kita lihat dari gestur mereka yang melakukan pelanggaran melihat ada petugas lewat dianggap biasa bahkan ada yang melakukan pelanggaran melawan arus ditegur malah marah, ironis sekali. “Hukum harus dipahami, dimengerti dan dilaksanakan,”ujarnya.

Dikatakan Budiyanto, dalam tata cara berlalu lintas telah diatur tentang tata cara berlalu lintas yang benar. Pasal 105: Setiap orang yang menggunakan jalan wajib:
a.Berlaku tertib ; dan / atau
b.Mencegah hal- hal yang dapat merintangi dan membahayakan keselamatan berlalu lintas.

Baca Juga :  Pengamat Budiyanto: Pelanggaran Odol, Berpotensi Kecelakaan

Lanjutnya, dalam pasal 106 ayat 1 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang LLAJ, setiap pengemudi kendaraan bermotor wajib berlaku wajar dan penuh konsentrasi. Pasal 106 ayat ( 4 ) setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib memenuhi ketentuan, antara lain:
a.Rambu perintah dan rambu larangan
b.Marka jalan.
d.Gerakan lalu lintas.
e.Berhenti dan parkir

ilustrasi melawan arus

Ia katakan, parkir sepeda motor pada badan dan bahu jalan, tikungan dan melawan arus dari aspek hukum sangat jelas merupakan pelanģgaran lalu lintas. Parkir di bahu dan badan jalan serta tikungan sudah barang tentu akan mereduksi kapasitas jalan yang berakibat pada kemacetan karena volume kendaraan bermotor mengalami over capaciti.

Baca Juga :  Pertamina Uji Coba Beli LPG 3 Kg, Memakai MyPertamina

Mantan Kasubdit Bin Gakkum Polda Metro Jaya AKBP ( P ) Budiyanto S.Sos.MH menjelaskan, melawan arus adalah mengambil sebagian lajur orang lain yang dapat berakibat pada potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas.
Perilaku melanggar menganggap sebagai hal yang biasa sangat ironis dan membahayakan. Ironisnya kita sebagai Negara hukum semua kegiatan atau actifitas di ruang publik ada aturan yang perlu dipahami dan dilaksanakan.

Ungkapnya, adanya pembiaran terhadap perilaku melanggar akan membentuk budaya atau karakter yang salah sehingga harus ada langkah yang simultan dari mulai edukasi, memberikan pemahaman, penggelaran tugas yang memiliki nilai prefentiv dan penegakan hukum, termasuk partisipasi masyarakat dalam memberikan kontribusi secara proposional terhadap tanggung jawab menyadarkan masyarakat kita bahwa sikap dan perilaku menyimpang dalam berktifitas berlalu lintas adalah cukup membahayakan dan berpotensi terjadinya kecelakaan. Kita harus ingat bahwa setiap peristiwa kecelakaan lalu lintas diawali adanya pelanggaran.

Baca Juga :  Polisi Hong Kong Tangkap Mantan Jurnalis Apple Daily

Membangun karakter disiplin berlalu lintas adalah tanggung jawab kita bersama tidak boleh hanya menyerahkan kepada Instansi di bidangnya semata. “Justru kita harus menjadi pelopor dan memberikan suport kepada para pemangku kepentingan agar mereka bekerja maksimal dan profesional dan proporsionalitas,”tandasnya.

Ada istilah bahwa berbicara lalu lintas menurut Budiyanto, bukan hanya sekedar pergeseran orang dan barang dari satu tempat tempat lain dengan sarana transportasi tapi lebih bernuansa lebih luas karena menyangkut urat nadi kehidupan, cermin budaya dan modernitas.

“Perilaku masyarakat dalam beraktifitas di jalan merupakan bagian dari cermin budaya suatu Daerah atau Negara,”tegas Budiyanto.

@Sadarudin

Bagikan :