Jakarta|EGINDO.co Rencana penghimpunan dana melalui pasar obligasi korporasi pada 2026 diperkirakan tetap bergairah. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat, dua emiten perbankan berencana menerbitkan surat utang dengan total nilai mencapai Rp7,71 triliun pada tahun tersebut, seiring kebutuhan pendanaan dan penguatan struktur permodalan.
Secara keseluruhan, terdapat 43 perusahaan dari berbagai sektor yang telah menyampaikan rencana penerbitan surat utang. Nilai indikatif yang dihimpun dari seluruh korporasi itu mencapai Rp71,35 triliun. Dari sisi sektoral, perusahaan multifinance menjadi kontributor terbesar dalam pipeline penerbitan, mencerminkan tingginya kebutuhan pembiayaan ulang (refinancing) serta ekspansi penyaluran kredit.
Pefindo memproyeksikan total penerbitan surat utang korporasi sepanjang 2026 berada pada kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun. Proyeksi tersebut mempertimbangkan sejumlah faktor pendorong, terutama jatuh tempo obligasi lama yang perlu direstrukturisasi serta peluang pendanaan baru di tengah tren suku bunga yang relatif rendah.
Kondisi biaya dana yang lebih kompetitif dinilai meningkatkan minat korporasi mengakses pasar obligasi dibandingkan sumber pembiayaan lain. Selain itu, stabilitas likuiditas domestik dan permintaan investor institusi—seperti dana pensiun dan asuransi—turut menopang prospek penerbitan.
Sejumlah media ekonomi nasional, termasuk Kontan dan Bisnis Indonesia, juga menyoroti bahwa momentum penurunan suku bunga berpotensi dimanfaatkan emiten untuk mengunci biaya pendanaan jangka menengah hingga panjang. Strategi ini dinilai penting guna menjaga profil jatuh tempo utang tetap sehat sekaligus mendukung rencana ekspansi usaha.
Dengan pipeline yang sudah terbentuk sejak awal tahun, aktivitas penerbitan obligasi korporasi diperkirakan akan berlangsung bertahap mengikuti dinamika pasar keuangan, arah kebijakan moneter, serta kebutuhan pendanaan masing-masing emiten. (Sn)