Jakarta|EGINDO.co Geliat aktivitas domestik pada bulan Mei 2026 menunjukkan sinyal pemulihan secara bulanan, meskipun performa tahunan masih tertahan di zona negatif. Berdasarkan laporan terbaru Survei Penjualan Eceran dari Bank Indonesia (BI) yang dirilis resmi Kamis, 9 Juli 2026, performa pasar ritel nasional mulai merangkak naik dari tekanan dalam yang terjadi pada periode sebelumnya.
Performa Bulanan Ditopang Momentum Hari Besar
Secara bulanan (Month-to-Month/MtM), kinerja penjualan eceran pada Mei 2026 mencatatkan perbaikan signifikan dengan hanya mengalami kontraksi tipis sebesar -1,5%. Angka ini membaik drastis jika dibandingkan dengan kejatuhan mendalam pada bulan April yang sempat menyentuh angka -11,6%.
Pemicu utama dari perbaikan ini adalah rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yang jatuh sepanjang Mei, meliputi perayaan Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, serta Hari Raya Waisak. Momentum libur panjang tersebut mendorong lonjakan permintaan masyarakat di beberapa sektor strategis. Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi mencatatkan pertumbuhan positif sebesar +1,0% (MtM), yang diikuti oleh sektor Suku Cadang dan Aksesori serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor yang tumbuh +1,3% (MtM).
Analisis Bank Indonesia: Stimulus musiman dari libur keagamaan berhasil menahan laju penurunan daya beli, memberikan nafas segar bagi para pelaku usaha ritel setelah koreksi tajam pasca-musim perayaan utama di awal tahun.
Sektor Makanan dan Sandang Tekan Kinerja Tahunan
Kondisi berbeda terlihat pada performa tahunan (Year-on-Year/YoY). Penjualan eceran Mei 2026 justru mengalami penurunan sedalam -3,9%, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan capaian April yang terkontraksi -3,7%.
Penurunan ini utamanya dipicu oleh melambatnya konsumsi pada tiga kelompok utama:
-
Makanan, Minuman, dan Tembakau: Terkontraksi -4,1% (YoY)
-
Sandang (Pakaian): Merosot hingga -12% (YoY)
-
Peralatan Informasi dan Komunikasi: Mengalami tekanan terdalam sebesar -18,4% (YoY)
Proyeksi Juni: Normalisasi Pasca-Libur dan Tantangan Libur Sekolah
Memasuki bulan Juni 2026, para peritel diperkirakan masih harus menghadapi tantangan berat. Kinerja penjualan eceran diproyeksikan kembali terkoreksi tipis sebesar -0,8% secara bulanan (MtM). Penurunan ini lumrah terjadi menyusul berakhirnya efek stimulus HBKN, meskipun sebagian wilayah akan mulai didukung oleh pengeluaran terkait musim libur sekolah. Secara tahunan, tekanan diprediksi menebal dengan perkiraan kontraksi mencapai -4,4% (YoY).
Ekspektasi Inflasi: Tekanan Jangka Pendek, Stabil di Akhir Tahun
Selain memotret kondisi pasar saat ini, data makroekonomi BI per Kamis, 9 Juli 2026 ini juga menyoroti persepsi konsumen terhadap pergerakan harga hingga akhir tahun 2026.
| Periode Proyeksi | Indeks Ekspektasi Harga (IEH) | Tren | Faktor Penggerak |
| Agustus 2026 (3 Bulan Mendatang) | 178,0 (naik dari 175,8) | Meningkat | Persiapan tahun ajaran baru & faktor musiman |
| November 2026 (6 Bulan Mendatang) | 167,5 (stabil dari 167,6) | Sangat Stabil | Kelancaran pasokan & distribusi barang |
Masyarakat memperkirakan adanya kenaikan harga yang cukup terasa pada Agustus 2026. Hal ini tercermin dari naiknya Indeks Ekspektasi Harga (IEH) ke level 178. Kenaikan ini umumnya dipicu oleh siklus belanja ajaran baru sekolah serta penyesuaian harga transportasi ritel.
Kendati demikian, angin segar datang dari proyeksi jangka menengah. Pada November 2026, tekanan inflasi diperkirakan melandai secara signifikan dan berada pada kondisi yang sangat stabil. IEH bergerak stagnan di posisi 167,5, mengindikasikan optimisme konsumen bahwa rantai pasok dan stabilitas harga pokok akan terjaga dengan baik oleh pemerintah hingga menjelang akhir tahun. (Sn)