Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec., Dipl_Plan., M.Si
Di banyak komunitas genealogis—terutama yang berbasis marga dan kekeluargaan—kita kerap menjumpai sebuah ironi yang berjalan senyap dan sering luput dari perhatian bersama. Sumber daya sesungguhnya tersedia, jejaring sosial terbentang luas, nilai budaya mengakar kuat, dan semangat kebersamaan tidak pernah benar-benar padam. Namun, bila diamati dengan jujur dan tenang, capaian yang dihasilkan kerap belum sepenuhnya sebanding dengan potensi yang dimiliki. Aktivitas tetap berlangsung, pertemuan terus digelar, program disusun dan dijalankan, tetapi dampak yang diharapkan masih menyisakan ruang untuk ditingkatkan.
Situasi ini kiranya tidak tepat jika semata-mata dipandang sebagai kurangnya kerja keras. Justru sebaliknya, banyak anggota komunitas telah mencurahkan waktu, tenaga, bahkan pengorbanan yang tidak sedikit. Dalam konteks ini, mungkin yang perlu kita telaah bersama bukanlah intensitas kerja, melainkan cara pandang dan cara bertindak yang masih bertumpu pada pola-pola lama. Kita bekerja dengan sungguh-sungguh, namun pertanyaannya: apakah kita sudah bekerja dengan cara yang paling tepat dan relevan dengan kebutuhan saat ini?
Dalam kerangka refleksi tersebut, kisah sederhana dalam buku The Big Red Tractor and the Little Village karya Francis Chan menjadi menarik untuk dijadikan bahan perenungan bersama. Dikisahkan sebuah desa memiliki sebuah traktor merah besar—sebuah simbol kemajuan, efisiensi, dan potensi yang menjanjikan perubahan. Namun karena tidak memahami cara mengoperasikannya secara benar, warga justru menggunakannya dengan cara yang kurang tepat: generasi muda menarik dari depan, sementara generasi tua mendorong dari belakang. Semua terlibat, semua bekerja keras, semua merasa berkontribusi, namun traktor itu tetap tidak bergerak sebagaimana mestinya.
Gambaran ini, bila kita renungkan secara terbuka, terasa cukup dekat dengan realitas banyak komunitas kita. Potensi tidaklah kurang—bahkan dalam banyak hal dapat dikatakan melimpah. Namun tanpa pemahaman yang tepat, potensi tersebut belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kekuatan yang berdampak. Di titik ini, kita diajak untuk mempertimbangkan sebuah refleksi yang cukup mendasar: bahwa manusia, termasuk komunitas, kerap hidup di bawah potensi terbaik yang sebenarnya telah dimilikinya.
Lebih jauh lagi, pengalaman menunjukkan bahwa keterbatasan yang kita rasakan sering kali bukan semata disebabkan oleh kekurangan sumber daya, melainkan oleh keterbatasan pemahaman. Dalam banyak situasi, ketidaktahuan justru menjadi faktor yang lebih membatasi daripada kekurangan itu sendiri. Kita memiliki apa yang dibutuhkan, namun belum sepenuhnya memahami bagaimana memanfaatkannya secara optimal.
Pada lapisan yang lebih dalam, terdapat pula kenyataan bahwa kebenaran—baik dalam bentuk pengetahuan, pengalaman, maupun nilai-nilai luhur yang diwariskan—kadang sudah tersedia di tengah kita, tetapi belum sepenuhnya dihidupi. Dalam kondisi demikian, kebenaran yang diabaikan pada hakikatnya tidak berbeda dengan kebenaran yang tidak pernah ada. Ia tidak memberi arah, tidak menghasilkan perubahan, dan tidak menghadirkan kemajuan yang berarti.
Dalam kisah tersebut, perubahan mulai menemukan jalannya ketika Farmer Dave menemukan sebuah buku lama di loteng berdebu—sebuah sumber pengetahuan yang selama ini terabaikan. Ia mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, hingga memahami cara kerja traktor yang sesungguhnya. Penemuan ini menjadi titik balik penting. Bukan karena hadirnya sesuatu yang baru, melainkan karena lahirnya pemahaman baru atas sesuatu yang sebenarnya telah lama dimiliki.
Namun demikian, sebagaimana yang sering kita temui dalam kehidupan komunitas, perubahan tidak berhenti pada aspek teknis semata. Tantangan yang lebih halus justru muncul dari dinamika sosial. Kebiasaan lama kerap memberikan rasa aman, sementara cara-cara yang sudah dikenal terasa lebih nyaman untuk dipertahankan. Dalam situasi seperti ini, perbedaan pandangan tidak selalu berkembang menjadi ruang dialog yang terbuka, tetapi terkadang membentuk batas-batas yang tidak kasat mata, yang secara perlahan dapat menghambat proses pembaruan.
Kearifan lokal masyarakat Batak sejatinya telah lama memberikan landasan yang sangat bijaksana dalam mengelola relasi tersebut: “Na matua ala pon poda, na umposo ala pon gogo.” Yang tua menjadi sumber hikmat dan kebijaksanaan, sementara yang muda menjadi sumber tenaga dan semangat. Keduanya hadir bukan untuk saling mendominasi, melainkan untuk saling melengkapi dalam harmoni yang seimbang. Sejalan dengan itu, ungkapan “Timbo tiang ni jabu, lobi timbo do tiang ni sopo” mengandung harapan agar generasi penerus mampu melangkah lebih tinggi dan lebih jauh—bukan untuk menandingi, tetapi untuk melanjutkan dan menyempurnakan.
Nilai-nilai ini mengingatkan kita bahwa keberlanjutan komunitas tidak terletak pada upaya mempertahankan pola lama secara kaku, melainkan pada kemampuan untuk memperbarui diri tanpa kehilangan akar. Menghormati masa lalu tidak harus dimaknai sebagai menahan laju masa depan. Sebaliknya, penghormatan yang sejati justru tercermin dalam kemampuan menjaga warisan tetap hidup dan relevan dengan perkembangan zaman.
Dalam konteks inilah, peran pemimpin komunitas menjadi semakin strategis. Kepemimpinan tidak lagi cukup dimaknai sebagai kemampuan menjaga rutinitas atau mempertahankan stabilitas. Ia menuntut kegigihan untuk terus belajar, keberanian untuk membuka ruang pembaruan, serta keteguhan untuk tetap berjalan di tengah resistensi yang sering kali hadir secara halus. Pada saat yang sama, pemimpin juga dituntut memiliki kerendahan hati untuk merangkul berbagai pandangan, menjaga keseimbangan, dan memastikan bahwa kebersamaan tetap terpelihara.
Pada akhirnya, setiap komunitas genealogis sesungguhnya memiliki “traktor merah”-nya masing-masing—potensi besar yang mungkin belum sepenuhnya dioptimalkan. Maka pertanyaan yang patut kita renungkan bersama bukan lagi apakah potensi itu ada, melainkan apakah kita telah cukup berani untuk memahami dan menggunakannya dengan cara yang benar.
Sebab, perubahan besar tidak selalu lahir dari sesuatu yang sepenuhnya baru. Sering kali, perubahan justru berawal dari kesediaan untuk meninjau kembali, memahami ulang, dan memanfaatkan secara tepat apa yang telah kita miliki sejak lama.
Tanpa proses itu, komunitas mungkin tetap tampak bergerak—namun sesungguhnya belum sepenuhnya melangkah menuju kemajuan yang kita harapkan bersama.@
***
Penulis adalah Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS_GI)