Pemerintah Genjot Daya Saing RI Masih Kalah Dari Malaysia

ilustrasi

Jakarta | EGINDO.com    – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Suharso Monoarfa mengakui, daya saing Indonesia masih tertinggal dari negara lain. Termasuk di kawasan Asia Tenggara.

“Seperti kita ketahui bersama, bahwa daya saing sumber daya manusia (Indonesia) masih tertinggal,” ujarnya dalam acara Laporan Indonesia’s Occupational Employment Outlook 2020 (IOEO) dan Indonesia’s Occupational Tasks and Skills 2020 (IndoTaSk), Selasa (25/5).

Menteri Suharso mengungkapkan, berdasarkan laporan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) dalam The Global Competitiveness Report Tahun 2019, daya saing Indonesia masih berada di peringkat 50 dari 141 negara. Dengan begitu, posisi Indonesia masih tertinggal dibandingkan negeri tetangga Malaysia.

“Jadi, (Indonesia) masih sedikit di bawah Malaysia, Thailand, dan Singapura di peringkat pertama,” terangnya.

Merespon tantangan itu, pemerintah akan mendorong upaya pembangunan sumber daya manusia dilakukan secara holistik dan terintegrasi. Salah satunya dengan menyediakan sistem informasi pasar kerja yang kredibel dan berkelas.

“Karena (sistem informasi pasar kerja) salah satu prasyarat yang harus dipenuhi. Ini sebagai bagian dari upaya reformasi pendidikan dan pelatihan vokasi kita,” ucap dia mengakhiri.

Pengangguran Indonesia 9,77 Juta

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan, tak hanya SDM yang tertinggal saja, ternyata dampak pandemi covid 19 pada tahun 2020 juga memberikan tekanan yang besar terhadap sektor Ketenagakerjaan Indonesia.

Hal itu terlihat pada periode 2 Agustus 2020, terdapat sekurang-kurangnya 29 juta penduduk usia kerja yang terdampak pandemi covid-19 sehingga membuat tingkat angka pengangguran terbuka mencapai 7,07 persen atau sebanyak 9,77 juta orang menganggur.

Berdasarkan data tersebut tingkat pengangguran terbuka masih didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruaan yang seyogyanya merupakan calon tenaga kerja yang siap pakai.

Selain itu, pandemi covid 19 juga menekan sektor informal di mana mayoritas pekerjaan di sektor informal yang memiliki produktivitas yang rendah pada akhirnya yang menurunkan daya saing sumber daya manusia Indonesia.

Akses kelompok rentan seperti perempuan, penyandang disabilitas serta penduduk Daerah Tertinggal terhadap kesempatan kerja yang berkualitas juga masih rendah. Mayoritas mereka masih bekerja di sektor informal karena sulit mengakses lapangan kerja formal dan inklusif.

“Megatrend dunia seperti dinamika perubahan demografi, perkembangan teknologi yang cepat pembangunan ekonomi hijau, sesungguhnya memberi peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing yang secara responsif dan adaptif,” ujarnya.

Namun dalam merespon berbagai tantangan tersebut, upaya pembangunan sebagai manusia dilakukan secara holistik dan terintegrasi. “Salah satu prasyarat yang harus terpenuhi adalah tersedianya sistem informasi pasar kerja yang kredibel dan berkelas sebagai bagian dari upaya reformasi sistem pendidikan dan pelatihan vokasi Indonesia,” pungkasnya.

Sumber: Merdeka.com/Sn