Pemerhati: Ekspor Turun Meski Neraca Perdagangan Surplus

Tumpukan kontainer di pelabuhan menunggu diangkut ke kapal
Tumpukan kontainer di pelabuhan menunggu diangkut ke kapal

Jakarta|EGINDO.co Pemerhati ekonomi Bhima Yudhistira mengingatkan, jangan senang dulu melihat neraca perdagangan yang masih surplus di bulan Oktober 2023. Karena kalau ditelisik lebih dalam lagi, secara tahunan kinerja ekspor maupun impor Indonesia justru mengalami penurunan tajam.

“Yang menjadi catatan adalah kinerja surplusnya memang cukup gemuk, tapi harus diwaspadai. Karena kinerja ekspor secara kumulatif dari Januari sampai Oktober 2023 negatif 15 persen, impornya anjlok 7 persen lebih,” kata Ekonom dari Center for Economic and Law Studies (Celios) ini dalam keterangannya kepada RRI, Rabu (15/11/2023).

​Hal itu menandakan surplus tercipta bukan karena kinerja ekspornya sedang tinggi dan impornya sudah terganti dengan produk lokal. Tapi, katanya, yang terjadi justru permintaan komoditas ekspor sedang turun, utamanya dari Tiongkok yang ekonominya sedang melambat.

Baca Juga :  Pemerhati: Tabrak Lari Termasuk Kejahatan Lalu Lintas

“Sehingga permintaan produk pengolahan primer dari Indonesia terganggu, misalnya untuk produk sawit maupun batu bara. Di sisi lain, impor bahan baku Indonesia untuk keperluan industri manufaktur juga sedang mengalami tekanan,” ucap Bhima.

Menurutnya, kondisi itu menyebabkan menurunnya kapasitas industri manufaktur. Terutama di akhir tahun ini dan awal tahun 2024 nanti.

“Jadi ada sinyal yang tidak begitu baik dan perlu diwaspadai. Jangan terlena dengan surplus perdagangan yang seolah-olah tinggi, tapi sebenarnya bukan surplus yang diharapkan,” ujar Bhima lagi.

Bhima menekankan perlunya memperluas pasar di luar pasar tradisional AS, Tiongkok dan India. Selain itu, pemerintah harus memberikan insentif bagi sektor industri manufaktur agar tetap meningkatkan produksinya.

Baca Juga :  APBN Semester I/2023 Surplus, Akhir Tahun Bakal Defisit

Peneliti dari lembaga kajian ekonomi dan keuangan INDEF, Ahmad Heri Firdaus dalam kesempatan berbeda juga menyampaikan pendapat serupa. Menurutnya, surplus neraca dagang terbantu dari sejumlah harga komoditas berfluktuatif tapi masih cenderung tinggi.

“Juga ada beberapa subsektor industri yang kinerjanya sedang melambung, dan menjadi penopang surplus. Seperti industri logam dasar, sawit, batubara, yang merupakan produk unggulan ekspor,” kata Ahmad.

Tapi, lanjutnya, untuk industri yang terkait dengan kebutuhan masyarakat seperti makanan dan tekstil sedang menurun. Apalagi industri yang sebagian besar bahan bakunya masih impor, akan mempengaruhi kinerja ekspor maupun impor.

“Sehingga stabilitas ekonomi makronya perlu dijaga, termasuk stabilitas nilai tukar. Mengingat gejolak geopolitik membuat ketidakpastian masih tinggi, dikhawatirkan akan mempengaruhi kinerja perdagangan internasional di bulan November ini,” ucapnya.

Baca Juga :  China Surplus Perdagangan Dengan AS Sebesar US$42 Miliar

Sumber: rri.co.id/Sn

Bagikan :