Pelaku Pasar Cermati Rencana IPO Nusantara Sawit Sejahtera

saham
ilustrasi saham

Jakarta | EGINDO.com    – Lonjakan harga sawit di pasar global mendorong pelaku pasar mencermati rencana IPO (Initial Public Offering) PT Nusantara Sawit Sejahtera yang akan melepas saham di Bursa Efek Indonesia sebelum akhir tahun ini.

Usia tanaman, lokasi kebun dan pabrik, serta kepastian pemasaran produk menjadi pertimbangan pelaku pasar dalam menjadikan emiten kelapa sawit pilihan investasi.

Vice President/Senior Technical Portfolio Advisor PT Samuel Sekuritas Indonesia (Samuel Sekuritas), Muhammad Alfatih, mengatakan sebagai perusahaan yang berdiri tahun 2008, maka kemungkinan tanaman sawit milik PT Nusantara Sawit Sejahtera sedang berada dalam puncak produksinya.

Sebagai pemilik tanaman muda, perusahaan perkebunan masih terhindar dari faktor biaya peremajaan tanaman dan penurunan produksi akibat usia tanaman dalam jangka waktu yang relatif panjang.

“Keunggulan lain adalah dari lokasi yang relatif dekat dengan pelabuhan, sehingga biaya juga semakin efisien. Selain itu, dari kontrak pembelian yang sudah dimiliki sehingga pemasaran lebih stabil,” kata Alfatih menjelaskan daya tarik saham NSS, Rabu (27/10/2021).

Dilihat dari prospek kenaikan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), Alfatih berpendapat, secara umum saham perusahaan perkebunan sawit saat ini sangat menarik untuk dijadikan pilihan investasi atau transaksi di pasar saham.

“Menurut saya, saham sektor perkebunan kelapa sawit sangat menarik untuk menjadi pilihan karena dari harganya saat ini termasuk rendah dibandingkan pada 2 hingga 3 tahun lalu. Di sisi lain, harga penjualan minyak kelapa sawit justru sedang tertinggi selama 3 tahun terakhir,” jelasnya.

Selain itu, dia mengatakan saham emiten sawit termasuk Laggard Stock di Bursa Efek  Indonesia. Memang, kinerja sahamnya di bawah rata-rata benchmark atau setara punya tingkat keuntungan yang lambat dibandingkan pergerakan pasar.

Namun, sebenarnya kondisi ini memberikan peluang rebound dan justru memberikan peluang beli bagi investor.

Baca Juga :  Merkel Ragukan Pertemuan Biden Atas Sengketa Pipa Gas Rusia

Apalagi, dari sisi fundamental relatif baik. Saat ini, harga komoditas sedang naik sesuai dengan siklus sektoral setelah krisis pandemi Covid-19 yang cenderung mereda.

Alfatih juga mengatakan, mengingat luas lahan yang semakin terbatas, intensifikasi lahan perusahaan perkebunan juga masih dapat jadi strategi untuk meningkatkan produktivitas.

Dengan melakukan pengolahan produk turunan dari minyak kelapa sawit, nilai tambah komoditas sawit bisa ditingkatkan.

Sebagai pemilik tanaman muda, perusahaan perkebunan masih terhindar dari faktor biaya peremajaan tanaman dan penurunan produksi akibat usia tanaman dalam jangka waktu yang relatif panjang.

“Keunggulan lain adalah dari lokasi yang relatif dekat dengan pelabuhan, sehingga biaya juga semakin efisien. Selain itu, dari kontrak pembelian yang sudah dimiliki sehingga pemasaran lebih stabil,” kata Alfatih menjelaskan daya tarik saham NSS, Rabu (27/10/2021).

Dilihat dari prospek kenaikan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), Alfatih berpendapat, secara umum saham perusahaan perkebunan sawit saat ini sangat menarik untuk dijadikan pilihan investasi atau transaksi di pasar saham.

“Menurut saya, saham sektor perkebunan kelapa sawit sangat menarik untuk menjadi pilihan karena dari harganya saat ini termasuk rendah dibandingkan pada 2 hingga 3 tahun lalu. Di sisi lain, harga penjualan minyak kelapa sawit justru sedang tertinggi selama 3 tahun terakhir,” jelasnya.

Selain itu, dia mengatakan saham emiten sawit termasuk Laggard Stock di Bursa Efek  Indonesia. Memang, kinerja sahamnya di bawah rata-rata benchmark atau setara punya tingkat keuntungan yang lambat dibandingkan pergerakan pasar.

Namun, sebenarnya kondisi ini memberikan peluang rebound dan justru memberikan peluang beli bagi investor.

Apalagi, dari sisi fundamental relatif baik. Saat ini, harga komoditas sedang naik sesuai dengan siklus sektoral setelah krisis pandemi Covid-19 yang cenderung mereda.

Baca Juga :  Kamis Pagi Rupiah Menguat 28 Poin

Alfatih juga mengatakan, mengingat luas lahan yang semakin terbatas, intensifikasi lahan perusahaan perkebunan juga masih dapat jadi strategi untuk meningkatkan produktivitas.

Dengan melakukan pengolahan produk turunan dari minyak kelapa sawit, nilai tambah komoditas sawit bisa ditingkatkan.

Sumber: Tribunnews/Sn

 

Bagikan :