Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang
SAYA tidak menulis sebagai pengamat. Saya menulis sebagai pargolat — orang yang pernah ditugaskan membuka kabupaten. Banyak yang menulis tentang Batak. Tapi sedikit yang menulis tentang mengapa pejabat Batak harus menulis. Inilah yang belum pernah ditulis orang: Di Tanah Batak, jabatan tanpa tulisan adalah kekuasaan yang hilang. Tulisan tanpa jabatan adalah pengetahuan yang menggantung.
- Teori Memorie van Overgave yang Hilang
Belanda mewajibkan setiap pejabatnya di Tapanuli untuk menulis. Bukan hanya J. Tideman dengan Simeloengoen 1922, tapi juga:
- C.A. van Ophuijsen — Bataksch Leesboek, Controleur di Tapanuli
- J. Warneck — Toba-Batak Deutsches Wörterbuch 1906
- H. van der Tuuk — Tobasche Spraakkunst
- J.C. Vergouwen — Het Rechtsleven der Toba-Bataks 1933, Controleur Toba yang menulis hukum adat paling lengkap
- Westenberg, Beekman, Ypes — penulis Memorie van Overgave Afdeeling Bataklanden
Mereka adalah pejabat penulis. Mereka berkuasa di Tapanuli karena mereka menulis. Indonesia merdeka menghapus kewajiban itu. Akibatnya bupati-bupati kita pergi tanpa meninggalkan buku.
Saya sebagai Penjabat Bupati Samosir PERTAMA mencoba mengembalikan kewajiban itu — bukan dengan laporan tahunan, tapi dengan catatan pinggir dari Pusuk Buhit.
- Teori Pargolat Modern
Saya sambungkan I. Tampubolon (Demang 1935) yang menulis Adat Mendirikan Hoeta dengan tugas saya 2004. Kalau Tampubolon membuka Huta Horsik di Motung, saya membuka Kabupaten Samosir di Pangururan selaku si tattas nambur — from nothing to something dengan paradigma SAMOSIR MEMBANGUN digerakkan MISSION DRIVEN.
- Teori 4 Generasi Pejabat Penulis
Generasi I: Penulis Belanda yang berkuasa di Tapanuli — Ophuijsen, Warneck, Van der Tuuk, Vergouwen, Tideman, Westenberg
– Generasi II: Tampubolon — menulis untuk adatnya
– Generasi III: Soekarno-Hatta — menulis untuk merebut negara
– Generasi IV: Saya sendiri — Penjabat Bupati Samosir PERTAMA — menulis setelah jabatan agar jabatan itu tidak sia-sia
- Catatan dari Pusuk Buhit: Dari Belati Menderes hingga Piagam Danau Toba
Dari 2004-2005 hingga 30 September 2026 saya masih melihat masyarakat menyadap pinus dengan alat tradisional yang disebut belati menderes (pisau deres / arit deres rakitan). Bila disadap terus di titik yang sama tanpa jeda dan tanpa rotasi silvikultur, pinus habis getahnya akhirnya mati. Dari jauh hijau, dari dekat penuh luka.
Itulah dali lama — dali pemberdayaan getah dan dali devisa kayu. Dua-duanya tanpa tulisan dan tanpa pembaruan, akhirnya menuju kematian hutan. Karena itu saya menawarkan Dali Ketiga: Pariwisata berbasis GEOPARK KALDERA TOBA, bukan mass tourism.
Untuk itu, dari Dolok Pusuk Buhit saya titipkan Lima Catatan Penyelamatan Danau Toba:
- Keramba Jaring Apung yang merusak keindahan dan kualitas air Danau Toba harus dilarang dan ditata ulang. Danau Toba bukan kolam ikan.
- Penebangan hutan di hulu harus dihentikan. Hutan hulu adalah atapnya Danau Toba.
- Pupuk teknologi kimia harus kembali ke organik. Tanah sudah lelah, Danau sudah eutrofikasi.
- Belati menderes 2004-2026 harus diperbarui dengan SOP lestari. Jangan lukai pohon yang sama terus-menerus.
- Hotel-hotel dan home stay jangan buang limbah ke Danau Toba. Setiap hotel, resort, home stay, restoran wajib punya IPAL dan septik tank kedap. Jangan jual keindahan Danau Toba di brosur, tapi buang limbahnya ke dalam Danau Toba itu sendiri.
Danau tanpa KJA perusak, hulu tanpa tebang, tanah tanpa kimia, pinus tanpa luka menderes terus-menerus, dan hotel tanpa limbah ke danau — itulah SAMOSIR MEMBANGUN yang sesungguhnya.
Penutup
Pejabat datang dan pergi. Laporan pertanggungjawaban hilang di lemari besi. Yang tinggal hanya buku. Kalau hari ini kita masih tahu Simeloengoen, itu karena Tideman menulis 1922. Kalau hari ini kita masih tahu aturan mendirikan huta, itu karena Tampubolon menulis 1935. Kalau hari ini Samosir masih ada, itu karena ada Penjabat PERTAMA yang mau membuka lebatnya hutan birokrasi 2004 dengan catatan pinggir.
Dari Dolok Pusuk Buhit saya belajar: pinus pun butuh jeda untuk hidup, apalagi manusia, apalagi Danau Toba. Pejabat Penulis, Penulis Pejabat — itu bukan dua orang, itu satu orang dalam dua waktu.@
***
Penulis Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang adalah Penjabat Bupati Samosir Pertama dan kini di Dolok Pusut Buhit, 30 September 2026