Oleh: JSB
Menoleh jauh kebelakang, ketika memikirkan kepemimpinan dalam keluarga besar ada dua gambar yang terus saya ingat. Gambar pertama terjadi di awal 1960-an ketika Letkol M.H. Sinaga sebagai salah seorang inisiator yang ingin membangun Tugu Toga Sinaga di Samosir. Ia mengutus para natua-tua menghadap T.P.R. Sinaga, Bupati Simalungun, anak dari Gr. Paulus Sinaga.
T.P.R. Sinaga berkata, temui langsung ayah saya. Keputusan ada pada orangtua. Para utusan menyeberang ke Samosir, menemui Gr. Paulus Sinaga, cucu Op. Palti Raja generasi ke-12. Sebagai haha doli dan raja jolo, ia punya hak untuk menolak. Bahkan ia sudah menyiapkan Hatian untuk tugu Bonor Pande, kelompoknya sendiri. Namun Gr. Paulus melakukan hal sebaliknya. Diluar dugaan para utusan Gr Paulus menyerahkan Hatian itu. Katanya dalam bahsa batak Toba, tanda tulus ni rohangku, hupasahat Hatian on tu hamu anggi doli asa bahen hamu ma on gabe simbol Tugu Parsadaan Toga Sinaga.
Disini, Gr. Paulus meneruskan warisan Palti Raja yang fenomenal. Palti Raja tidak mewariskan kuasa untuk menang sendiri, tapi warisan menjadi Pandita Raja yang penuh holong persaudaraan. Pandita Raja bukan raja yang memerintah, tapi raja yang merawat. Ia tidak menjaga batu tugunya sendiri, ia menjaga Ruma Bolon Ruma Parsattian agar tetap utuh.
Ruma Bolon Ruma Parsattian PPTSB bukanlah gedung. Ia adalah rumah bersama. Tempat semua horong si Tolu Ompu si Sia Ama, semua Boru, bisa masuk dan merasa aman, nyaman dan damai. Saat itu Gr. Paulus mengerti: kalau setiap horong membangun rumahnya sendiri-sendiri maka Ruma Bolon Ruma Parsattian akan kosong, lama kelmaan akan retak dan lapuk.
Gambar kedua lebih sederhana: induk ayam dan hujan
Ketika badai datang, pintu handing tertutup oleh angin badai, induk ayam merentangkan sayapnya. Anak-anaknya masuk ke bawah. Tubuhnya basah, menggigil, tapi anak-anaknya hangat. Di sudut lain, ayam jantan bertengger di tempat kering, menyelamatkan dirinya sendiri. Dua pemimpin, dua pilihan yang berbeda.
Pemimpin pertama tidak bisa menghentikan hujan, tapi ia bisa memberikan tubuhnya sebagai tempat berlindung. Pemimpin kedua mencari aman untuk dirinya sendiri. Dalam bahasa Batak Toba, inilah perbedaan antara pemimpin yang punya sahala dan yang kehilangan sahala. Sahala tidak hilang karena kalah berdebat. Sahala hilang karena tidak lagi mau basah bersama.
PPTSB hari ini seperti Ruma Bolon yang sedang diuji ketahanan konstruksinya oleh kencangnya angin badai. Perbedaan pendapat ada, persaingan ada. Itu wajar. Rumah yang besar pasti banyak suara dengan keinginan dan ekspektasi yang berbeda-beda. Pertanyaannya bukan bagaimana menghentikan angin badai, tapi siapa yang bersedia menjadi sayap ketika anginbadai itu datang.
Émile Durkheim pernah menulis dan mengatakan dalam bukunya The Division of Labor in Society (1893) bahwa solidaritas bukan sekadar semboyan, tapi tindakan nyata ketika seseorang harus memilih antara kepentingan kelompok dan kepentingan bersama. Robert Putnam menyebutnya modal sosial (social capital) dan kepercayaan timbal balik (Putnam, 2000)
Saat memutuskan menyerahkan Hatian, Gr. Paulus melakukannya tanpa membaca Durkheim. Demikian juga induk ayam melakukannya tanpa membaca Putnam. Mereka hanya mengerti satu hal: persaudaraan harus diwujudkan, bukan diucapkan. Pemimpin PPTSB masa kini dan mendatang tidak perlu menjadi yang paling tinggi suaranya tetapi suara yang paling lembut. Ia perlu menjadi yang paling manat. Manat bukan berarti lemah. Manat berarti menghormati yang datang sebagai hahaanggi, merangkul yang berbeda sebagai dongan tubu.
Jangan menjadi pemimpin yang hanya mencari tempat teduh ketika angin badai datang menerpa, sementara anggota dibiarkan kehujanan dalam ketidakpastian. Ketika angin badai datang, sayap pemimpin harus menjadi perlindungan. Ketika ketakutan melanda, kehadirannya harus menjadi pengharapan.
Tugu Toga Sinaga akhirnya berdiri dan diresmikan pada tahun 1970 bukan dari batu Bonor Pande, tapi dari Hatian yang direlakandengan hati tulus. Itulah pelajaran yang paing tertinggi yang penuh makna dan nilainya: parsadaan tidak dibangun dari kemenangan satu kelompok, tapi dari kerelaan satu orang untuk melepaskan miliknya demi kepentingan bersama yaitu parhahamaranggion si tolu ompu si sia ama.
Rumah Bolon PPTSB akan tetap utuh bukan karena atapnya baru, tapi karena ada penjaga yang mau basah demi yang 1.4 juta anggota di dalamnya tetap merasakan kehangatan, kenyamanan dan kedamaian. Itulah warisan Palti Raja: menjadi Pandita Raja yang menjaga rumah agar tetap menjadi rumah parsadaan.
Saya mengutip falsafah sakral Op. Palti Raja yang mengatakan: Parhatian Sibola Timbang Parninggala Sibola Tali. Tuginjang sora mongga tutoru sora meleng.
Dan lyric Sebagian Mars Toga Sinaga yang sangat fenomenal itu: Horasma Sinaga// Horas nang Boruna//Horas Saluhutna//Horasma SUDE. Sude artinya semua. Tidak ada yang ditinggalkan di luar sayap.@
***
Cipayung, 11 Oktober 2026. JSB penulis adalah Peneliti Independen tentang Kekerabatan masa kontemporer Departemen Antropologi Universitas Indonesia. Email; [email protected]