Osaka Steel Angkat Kaki dari Indonesia, Tekanan Finansial dan Persaingan Jadi Faktor Utama

Osaka Steel Hengkang dari RI, Tutup Perusahaan Patungan dengan KRAS
Osaka Steel Hengkang dari RI, Tutup Perusahaan Patungan dengan KRAS

Jakarta|EGINDO.co Penghentian operasional perusahaan patungan antara PT Krakatau Steel Tbk. dan produsen baja asal Jepang, Osaka Steel, dipastikan bukan semata persoalan domestik, melainkan berkaitan erat dengan tekanan keuangan yang dialami perusahaan induk di negara asalnya.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan bahwa keputusan Osaka Steel untuk menarik diri dari Indonesia dipicu oleh ketidakmampuan perusahaan menghadapi persaingan yang semakin ketat di industri baja nasional, di tengah kondisi keuangan yang memburuk secara global.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima pemberitahuan resmi terkait penghentian kegiatan usaha tersebut. Berdasarkan informasi yang diperoleh, manajemen pusat Osaka Steel menilai operasional di Indonesia tidak lagi memberikan prospek keberlanjutan.

“Terdapat sinyal kuat bahwa perusahaan induk Osaka Steel mengalami kesulitan keuangan. Dari pusat mereka menyampaikan bahwa persaingan semakin berat dan secara finansial tidak memungkinkan untuk terus beroperasi, sehingga diputuskan untuk menutup kegiatan usahanya di Indonesia,” ujar Faisol saat ditemui di kompleks DPR RI, Rabu (4/2/2026).

Sejumlah analis menilai, hengkangnya Osaka Steel juga mencerminkan dinamika industri baja nasional yang kian kompetitif, terutama dengan meningkatnya kapasitas produksi dalam negeri serta derasnya produk impor berharga murah. Kondisi ini menuntut efisiensi tinggi dan skala ekonomi besar, yang tidak semua pemain mampu penuhi.

Seperti pernah disoroti Kompas, tekanan global terhadap industri baja—mulai dari fluktuasi harga bahan baku, penurunan permintaan di beberapa kawasan, hingga kompetisi regional—membuat sejumlah produsen internasional melakukan rasionalisasi bisnis, termasuk menutup atau melepas aset di luar negeri. Senada dengan itu, Bisnis Indonesia juga mencatat bahwa perusahaan baja skala menengah kini menghadapi tantangan berat untuk bertahan tanpa dukungan modal dan teknologi yang berkelanjutan.

Meski demikian, Kemenperin menegaskan bahwa penghentian operasional perusahaan patungan tersebut tidak akan mengganggu stabilitas industri baja nasional secara keseluruhan. Pemerintah memastikan pasokan baja tetap aman dan mendorong optimalisasi peran produsen dalam negeri guna menjaga kinerja sektor manufaktur strategis.

Langkah Osaka Steel ini sekaligus menjadi pengingat bahwa daya saing industri tidak hanya ditentukan oleh kapasitas produksi, tetapi juga oleh ketahanan finansial dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar global. (Sn)

Scroll to Top