OPINI: Memantau Arah Suku Bunga Acuan Global

Federal Reserve AS
Federal Reserve AS

Jakarta|EGINDO.co Sudah menjadi kelaziman, setiap pengambilan kebijakan terkait dengan suku bunga acuan di berbagai negara, salah satu referensi utama yang diambil adalah stance atau arah kebijakan suku bunga yang ditetapkan oleh bank sentral Amerika Serikat, yakni The Federal Reserve Bank.

Namun, sekali lagi perlu ditegaskan di sini, bahwa keputusan The Fed dalam menetapkan suku bunga acuan tidak mutlak menja-di rujukan bagi bank-bank sentral negara-negara lain untuk diikuti, karena situ-asi, kondisi dan persoalan ekonomi yang dihadapi AS sangat mungkin berbeda dengan negara-negara yang lainnya.

Di masa pandemi Covid-19 (2020—2022), disusul perang di Ukraina mulai Februari 2022, yang semuanya men-dorong eskalasi kenaikan harga barang dan komodi-tas lantaran terdistorsinya rantai pasokan global, telah mendongkrak tingkat inflasi sedemikian rupa terutama di negara-negara maju.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa infla-si tahunan di AS sempat menyentuh 9,1% (2022), Jerman 10%, Inggris 10,6%, dan rata-rata inflasi di zona Eropa menyentuh 9,6%. Bahkan inflasi di Turki sempat mencapai 81% dan Argentina 115,5%.

Dengan kondisi seperti itu, logika ekonomi yang bisa dilakukan bank-bank sentral adalah segera mena-ikkan suku bunga acuan secara agresif.

Maka, salah satu contohnya, jika suku bunga di AS, fed fund rate, yang sekarang mencapai 5,25%—5,50%, ini merupa-kan bukti sahih bahwa resep menjinakkan inflasi yang liar adalah dengan mena-ikkan suku bunga acuan atau menerapkan kebijakan moneter ketat.

Baca Juga :  Sri Mulyani: APBN Surplus Rp204,3 Triliun Hingga Mei 2023

Tak hanya The Fed yang agresif menaikkan suku bunga acuan, pun demiki-an dengan Bank of England (BoE) dan European Central Bank (ECB). Efeknya memang mujarab, kini inflasi telah bergerak melandai mes-kipun masih di atas target inflasi masing-masing negara maju yang sebesar 2%.

MASA JEDA Hanya saja, ibarat dua sisi mata uang, ketika di satu sisi pelandaian inflasi menunjuk-kan keberhasilan, di sisi lain langkah pengetatan kebijak-an moneter telah menahan pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju tersebut.

Wajar jika negara-negara maju dikatakan menghadapi soft landing atau “resesi ringan” karena pertumbuh-an ekonomi yang kontraktif alias minus atau setidaknya tumbuh sangat rendah di bawah 1%.

Bagaimana kondisi saat ini setelah pandemi Covid-19 dinyatakan selesai dan efek perang di Ukraina masih dirasakan? Dewasa ini ter-lihat sejumlah bank sentral sudah memasuki pola ber-tahan atau mengambil jeda waktu untuk menahan diri menjaga level suku bunga acuannya, meskipun dengan narasi tetap pada level yang tinggi, setidaknya untuk jangka menengah sebelum mendapatkan momentum ter-baik untuk memulai pelan-daian.

Baca Juga :  KKP: Selidiki Perusakan Terumbu Karang Lindungi Nelayan

Dalam seminggu terakhir, bank sentral di AS, Brasil, Indonesia, Inggris, Turkiye, Afrika Selatan, dan Jepang mengadakan pertemuan kebijakan moneter. Seperti diperkirakan secara luas, The Fed memilih mem-pertahankan suku bunga acuan pada level tertinggi sejak 22 tahun lalu pada 20 September (yakni 5,25%—5,50%), tetapi tersirat 12 dari 19 anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memperkirakan kenaikan suku bunga acuan sekali lagi sebelum akhir tahun (tepat-nya November).

Diperkirakan pula The Fed akan menurunkan suku bunga acuan hanya sebesar 50 basis poin untuk 2024 atau lebih rendah dari perki-raan penurunan yang sebesar 100 basis poin pada Juni silam.

Ketua FOMC Jeremy Powell menekankan bahwa pertimbangan utama peng-ambilan kebijakan terkait suku bunga acuan sangat bergantung pada ekspektasi inflasi ke depan dan data makroekonomi terkini.CATATA NDengan mengacu pada per-kembangan harga minyak di pasar dunia yang berkecende-rungan naik di atas 80 dolar AS per barel akhir-akhir ini, sebagai dampak “kesepakat-an pengurangan produksi” oleh Rusia dan Arab Saudi, maka stance kebijakan mone-ter di negara-negara maju tampaknya masih cenderung ketat atau hawkish, meski-pun dengan sinyal kuat yang melonggar di pertengahan tahun depan.

Jika langkah The Fed bisa dijadikan rujukan, maka stance kebijakan bank-bank sentral di negara maju dan negara berkembang akan cenderung relatif sama, yakni berhenti sesaat untuk mengambil jeda waktu tetap menahan suku bunga acuan sambil mencermati kepasti-an inflasi tahunan menurun secara permanen.

Baca Juga :  Delegasi Wushu, Atlet Dan Official, Diberikan Pengawalan

Proyeksi ekspektasi infla-si di hampir seluruh dunia menunjukkan arah ke bawah (baca: melandai) mulai pertengahan tahun depan sebagai “terminal terakhir” bagi bank-bank sentral mem-pertahankan suku bunga acuannya. Setelah jeda waktu berlangsung dan berhenti, maka ada ruang terbuka bagi bank-bank sentral memulai langkah pelonggaran kebi-jakan moneternya untuk memberikan sentimen positif bagi peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan.

Pelajaran berharga yang bisa diambil terkait perge-rakan inflasi dan suku bunga acuan selama 2,5 tahun terakhir ini adalah bahwa kenaikan inflasi yang diikuti dengan kenaikan suku bunga acuan di berbagai negara ber-gerak begitu cepat dan dalam tempo pendek.

Sebaliknya, pergerakan penurunan laju inflasi dan kebijakan pelong-garan moneter (penurunan suku bunga acuan) berjalan begitu lamban. Maka, kata-kata kunci yang bisa dikemukakan di sini adalah perlunya “kesabaran” dan “kegesitan” setiap pelaku ekonomi dan dunia bisnis untuk menyikapi dinamika inflasi dan suku bunga acuan yang terjadi.

Sumber: Bisnis.com/Sn

Bagikan :