Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang
HARI ini tanggal 18 Juli 2026, di bawah Monumen Nasional Jakarta, akan digelar Konser Akbar Monas gagasan Pdt. Dr. Stephen Tong. Sebuah panggung yang mempertemukan musik klasik Eropa: Strauss, Beethoven, Tchaikovsky, Rossini. Dengan musik Nusantara: Sudharnoto, Marzuki, Gombloh, Surarjo.
Secara literal, ini konser. Tapi secara makna, ini adalah advokasi kebangsaan.
1. Fakta: Dua Dunia, Satu Panggung.
Data programnya jelas. Sesi 1 dibuka Tritsch Tratsch Polka Strauss dan ditutup Overture William Tell Rossini. Sesi 2 ada Sabre Dance Khachaturian dan Waltz Tchaikovsky. Sesi 3 puncak: Symphony No. 9 Beethoven.
Di sela-sela itu disisipkan Garuda Pancasila, Rayuan Pulau Kelapa, Dari Sabang Sampai Merauke, Indonesia Pusaka. Aransemen Addie MS dan Singgih Sanjaya.
Fakta ini penting. Negara tidak sedang memilih antara Barat atau Timur. Negara sedang mempertemukan keduanya di ruang paling simbolik: Monas.
- Advokasi: Pendidikan Karakter Lewat Keindahan
Pdt. Dr. Stephen Tong dihormati Menteri Agama sebagai “Guru Bangsa”. Dan seorang guru tahu: karakter tidak dibangun hanya lewat pelajaran di kelas.
Generasi Emas 2045 butuh 3 hal: Kecerdasan, Keterampilan, dan Budi Pekerti. Musik klasik Eropa melatih disiplin, logika, dan daya juang. Symphony No. 9 Beethoven mengajarkan persaudaraan sedunia.
Musik Nusantara melatih cinta tanah air, gotong royong, dan identitas. Indonesia Pusaka mengingatkan kita dari mana kita berasal. Ketika keduanya didengar bersamaan oleh 1 juta anak muda di Monas, yang terjadi adalah pendidikan rasa berskala nasional. Ini investasi SDM paling murah dan paling berdampak.
Sebagai penggiat lingkungan berbasis GEOPARK, saya melihat paralelnya. GEOPARK menjaga warisan geologi agar tidak punah. Konser ini menjaga warisan rasa agar tidak punah. Bangsa tanpa rasa akan kering. Bangsa tanpa akar akan rapuh.
- Seruan: Jadikan Ini Gerakan Nasional
2026 ke 2045 tinggal 19 tahun. Kita tidak punya waktu untuk gaduh. Saya mengadvokasi 3 langkah:
- Wajibkan tayangan ulang konser ini di sekolah, kampus, dan balai desa. Gratis.
- Masukkan kurikulum “Apresiasi Musik Kebangsaan” berbasis konser ini ke sekolah.
- Jadikan Monas sebagai panggung tahunan pertemuan budaya dunia dan budaya Nusantara.
Penutup
Konser Akbar Monas 2026 bukan hiburan. Ini laboratorium Generasi Emas 2045. Di sanalah anak Indonesia belajar: bisa mengagumi Beethoven tanpa malu menyanyikan Garuda Pancasila. Bisa mendunia tanpa kehilangan Indonesia.
Karena di tahun 2045, kita tidak hanya butuh insinyur dan dokter. Kita butuh manusia Indonesia yang utuh: cerdas, terampil, dan berjiwa besar. “Di kaki Monas malam itu, kita sedang menempa Generasi Emas 2045.”
***
Penulis Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang adalah Penggiat Lingkungan Berbasis GEOPARK