Operasi Sisir: Menghapus Jerat Mencekik Hutan Indonesia

Operasi Sisir Jerat
Operasi Sisir Jerat

Jakarta | EGINDO.co – Kekhawatiran terus-menerus muncul di hutan yang dihuni oleh satwa liar, sehingga menyebabkan ancaman. Bahan-bahan seperti nilon, tali, kawat, dan kabel digunakan untuk membuat perangkap, khususnya jerat. Perangkap ini, meskipun sederhana dan sangat efisien, namun menimbulkan ancaman terhadap berbagai jenis hewan, termasuk gajah, harimau, dan monyet, tanpa diskriminasi.

Kondisi tersebut, operasi pembersihan perangkap dilakukan bersama oleh Arara Abadi, salah satu unit pengelolaan kehutanan Asia Pulp and Paper (APP), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), dan masyarakat setempat. Bapak Rudi Chaya Perdana dan Bapak Ahmad Sunarko dari BBKSDA Riau, perwakilan dari Arara Abadi, dan tim yang berdedikasi memulai misi untuk menyelamatkan penghuni liar hutan.

Mereka bermula dari jantung kawasan konsesi Arara Abadi Distrik Nilo yang alamnya beradu dengan jerat perambahan. Pada 10 hingga 11 Januari 2024, tim menyelidiki dedaunan lebat dengan tujuan menyapu bersih jerat kawat berbahaya tersebut.

Baca Juga :  KSEI: Oki Pulp & Paper Mills Undur Jadwal Penerbitan Obligasi

Sunarko berbicara kepada media tentang pentingnya inisiatif mereka. “Saat ini maraknya perburuan, jual beli satwa liar yang diambil dari alam yang dipasarkan secara terbuka baik secara online maupun tradisional. Kemudian maraknya kematian hewan di alam terutama gajah, harimau, beruang, tapir, dan rusa akibat jerat. Selain itu banyak juga kasus atau kejadian satwa liar yang cacat fisik bahkan cacat permanen akibat jerat,” ujarnya.

Menghapus Jerat

Survei Kebenaran Dasar dimulai, sebuah penyisiran yang cermat untuk mengungkap jebakan tersembunyi yang tersembunyi di balik bayang-bayang. Saat tim menjelajah lebih jauh ke dalam hutan, mereka menemukan sisa-sisa jerat yang telah merenggut nyawa tidak hanya hama tetapi juga gajah, harimau, dan makhluk lain yang menghuni hutan. Kenyataan yang disayangkan muncul – jerat, yang awalnya ditujukan pada satu sasaran, menjadi jebakan mematikan bagi makhluk apa pun yang tidak menaruh curiga yang melintasi jalan mereka.

Baca Juga :  Mendag: Revisi Aturan Impor Di E-Commerce Tak Kunjung Terbit

Masyarakat sekitar, yang berjuang untuk melindungi tanaman mereka dari binatang liar, secara tidak sengaja berkontribusi terhadap krisis ini. Kebun yang dipenuhi racun yang bertujuan untuk mengendalikan hama menjadi perangkap maut bagi satwa liar yang tidak menaruh curiga. Keseimbangan yang rumit antara kebutuhan manusia dan pelestarian alam liar masih belum jelas, dan tim Operasi Sisir Jerat mendapati diri mereka menavigasi jaring tersebut.

Tidak adanya jerat di kawasan HTI membawa secercah harapan namun perjuangan masih jauh dari selesai. Syarif Hidayat, Forest Sustainability Head Arara Abadi, mengatakan perburuan liar merupakan ancaman nyata yang berdampak langsung terhadap menurunnya populasi satwa liar. Alat yang digunakan oleh pemburu ilegal adalah jerat (tali atau kabel), perangkap (lubang atau sangkar) , racun dan senjata api, termasuk senapan buatan lokal. Banyak pemburu liar yang memasang jerat untuk mendapatkan spesies satwa liar.

Baca Juga :  3.003 Kasus Baru Covid-19 Di Singapura, Meninggal 17 Orang

Dalam menghadapi krisis kepunahan yang dipicu oleh jerat, Operasi Sisir Jerat dibentuk sebagai sebuah front persatuan antara badan-badan pemerintah, perusahaan, dan komunitas lokal yang berdiri tegak, bertekad untuk mengubah nasib hutan Indonesia.

Sunarko menyatakan perlunya upaya yang berkelanjutan dan diperluas. “Harapan kami adalah kegiatan seperti ini akan semakin ditingkatkan, dengan peningkatan cakupan wilayah di mana satwa liar yang dilindungi tumbuh subur. Kolaborasi lintas sektoral sangat penting bagi keamanan dan keselamatan satwa liar kita,” katanya.

Saat matahari terbenam di Distrik Nilo, Operasi Sisir Jerat tetap menjadi kisah komitmen umat manusia untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi pada alam, sehingga hutan Indonesia dapat bernafas kembali.@

Rel/fd/timEGINDO.co

 

Bagikan :