Sydney | EGINDO.co – Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun dan saham-saham Asia merosot pada hari Jumat karena lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi, mendorong investor untuk segera memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut oleh bank sentral di seluruh dunia.
Minyak mentah Brent sempat menyentuh level tertinggi dalam empat bulan di angka $109,97 per barel pada hari Jumat setelah melonjak 6 persen dalam perdagangan semalam, namun kemudian menghadapi tekanan jual dan terakhir turun 0,6 persen menjadi $107. Meski demikian, harga minyak masih mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 11 persen.
Arus minyak melalui Selat Hormuz tetap terhambat akibat aksi saling serang antara AS dan Iran, sementara kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran merebut kendali atas pelabuhan Mocha di Yaman, yang mengancam ekspor minyak Arab Saudi di Laut Merah.
“Lalu lintas maritim melalui Selat Bab el-Mandeb sangat terancam oleh pergerakan maju Houthi,” ujar Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets. Ia memprediksi harga Brent bisa mencapai $121,99 per barel pada akhir tahun ini akibat kembali memanasnya perang skala penuh antara Arab Saudi dan Houthi.
Hal ini menjadi peringatan keras bagi pasar yang akhirnya mulai memperhitungkan risiko perang berkepanjangan. Komentar Presiden Donald Trump bahwa perang tersebut bisa berlangsung melampaui pemilihan umum sela bulan November turut memperburuk situasi, di mana imbal hasil obligasi melonjak secara global akibat kekhawatiran inflasi yang meningkat.
Imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun—yang menjadi acuan—naik hingga 3 basis poin pada hari Jumat menjadi 4,9790 persen. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir dan nyaris menyentuh level psikologis penting 5 persen, sehingga meningkatkan beban biaya keuangan bagi utang pemerintah AS yang mencapai $40 triliun. Imbal hasil tenor 30 tahun juga mencetak rekor tertinggi baru dalam 19 tahun di angka 5,3836 persen, yang mendorong kenaikan suku bunga hipotek AS dan menghambat pasar perumahan.
Imbal hasil obligasi tenor dua tahun juga mencapai puncak baru dalam 14 bulan di angka 4,5961 persen setelah melonjak 12 basis poin dalam perdagangan semalam. Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya spekulasi pasar bahwa Federal Reserve AS harus menaikkan suku bunga bulan ini untuk meredam inflasi; pasar kini memperkirakan adanya peluang sekitar 70 persen untuk langkah tersebut. Aksi jual besar-besaran di pasar obligasi AS sebagian disebabkan oleh program pembelian kembali (buyback) obligasi pemerintah (Treasury) yang nilainya tidak mencapai target yang diharapkan sebesar $6 miliar.
Pasar obligasi Asia turut terimbas aksi jual global; imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor tiga tahun melonjak 14 basis poin (bps) ke level tertinggi dalam 15 tahun di angka 5,01 persen. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 8 bps menjadi 2,98 persen setelah data menunjukkan inflasi tingkat grosir Jepang tetap tinggi, yang memperkuat argumen bagi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat oleh Bank of Japan.
Lonjakan harga minyak meningkatkan signifikansi data harga konsumen (CPI) AS untuk bulan Agustus yang akan dirilis hari ini; data ini bisa menjadi penentu keputusan mengenai kenaikan suku bunga The Fed pekan depan. Perkiraan pasar mengarah pada kenaikan bulanan sebesar 0,2 persen untuk ukuran inti CPI, meskipun terdapat risiko angka yang lebih tinggi mengingat data indeks harga produsen (PPI) semalam menunjukkan persistensi harga.
Kenaikan Suku Bunga Akan Terjadi
Analis JPMorgan kini memperkirakan delapan dari sembilan bank sentral di pasar maju akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun, termasuk The Fed, BOJ, keempat bank sentral di Eropa, serta bank sentral Australia dan Selandia Baru.
“Pengetatan kebijakan saat ini diperkirakan akan berlangsung moderat, namun risiko terhadap perkiraan kami cenderung mengarah pada tindakan lebih lanjut mengingat pertumbuhan ekonomi yang tangguh, inflasi inti yang sulit turun (persisten), dan tekanan harga komoditas,” ungkap mereka dalam sebuah catatan.
Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga semalam untuk kedua kalinya tahun ini, dan sejumlah pejabat memperkirakan pengetatan lebih lanjut, termasuk kemungkinan kenaikan pada bulan Oktober.
Kenaikan imbal hasil obligasi meningkatkan tingkat diskonto yang digunakan dalam valuasi perusahaan, sehingga memicu penurunan tajam pada saham-saham Asia. Indeks MSCI Asia-Pasifik (di luar Jepang) turun 1,5 persen, sementara indeks Nikkei Jepang anjlok 2,2 persen. Saham-saham unggulan (blue-chip) Tiongkok turun 0,8 persen dan indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,6 persen.
Bursa Eropa diperkirakan akan dibuka lebih tenang; kontrak berjangka saham kawasan tersebut cenderung datar karena imbal hasil obligasi di sana telah mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade pada perdagangan semalam. Kontrak berjangka Nasdaq tidak banyak berubah, sementara kontrak berjangka S&P 500 naik tipis 0,2 persen. Nilai tukar dolar AS menguat seiring naiknya imbal hasil obligasi Treasury, setelah mencatatkan kenaikan 0,4 persen semalam terhadap mata uang utama lainnya. Pada hari Jumat, posisinya stabil di angka 99,04.
Di pasar komoditas, harga emas naik 0,4 persen menjadi $4.334 per ons setelah sempat turun hampir 2 persen semalam, di mana emas gagal menarik minat beli sebagai aset *safe-haven*.
Sumber : CNA/SL