Jakarta|EGINDO.co Kinerja obligasi berlabel Environmental, Social, and Governance (ESG) kembali menunjukkan ketahanan yang kuat di pasar global. Instrumen utang berkelanjutan tersebut tercatat memberikan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan obligasi konvensional, seiring dengan menyempitnya credit spread serta meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga di sejumlah negara maju.
Data Bloomberg menunjukkan bahwa Indeks Bloomberg Global Aggregate Green, Social, Sustainability (GSS) membukukan performa yang lebih baik dibandingkan Bloomberg Global Aggregate Index. Hingga 28 Januari 2026, selisih kinerja kedua indeks mencapai 93 basis poin, mencerminkan permintaan investor yang tetap solid terhadap aset berbasis keberlanjutan.
Penguatan mata uang euro turut menjadi katalis positif. Apresiasi euro meningkatkan nilai pengembalian obligasi ESG berdenominasi mata uang tersebut, sekaligus menarik arus dana global ke pasar obligasi berkelanjutan di kawasan Eropa.
Sepanjang Januari 2026, semua sektor yang tergabung dalam indeks GSS berhasil membukukan kinerja positif. Sektor keuangan tampil sebagai kontributor utama penguatan indeks, didorong oleh tingginya penerbitan green bond dan sustainability bond oleh lembaga perbankan serta institusi pembiayaan multilateral.
Sementara itu, penyempitan credit spread paling signifikan tercatat pada sektor consumer discretionary. Kondisi ini mengindikasikan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek perusahaan sektor konsumsi non-primer yang aktif menerbitkan obligasi berlabel keberlanjutan.
Sejumlah analis menilai outperform obligasi ESG tidak lepas dari perubahan ekspektasi kebijakan moneter global. Pelaku pasar mulai mengantisipasi siklus pelonggaran suku bunga setelah inflasi menunjukkan tren moderasi di beberapa ekonomi utama.
Menurut laporan riset yang dipublikasikan Bloomberg serta diperkuat oleh analisis pasar dari Reuters, kombinasi antara permintaan investor institusional, komitmen dekarbonisasi, dan dukungan regulasi membuat obligasi ESG memiliki basis investor yang lebih stabil dibandingkan obligasi tradisional.
Instrumen GSS juga diuntungkan oleh mandat investasi berkelanjutan dari dana pensiun, sovereign wealth fund, hingga manajer aset global. Banyak investor kini menjadikan faktor ESG sebagai kriteria utama alokasi portofolio, bukan sekadar pelengkap.
Dengan fundamental permintaan yang kuat, spread yang terus menyempit, serta potensi penurunan suku bunga, prospek obligasi ESG diperkirakan masih konstruktif dalam jangka menengah. Namun demikian, pelaku pasar tetap mencermati risiko volatilitas mata uang dan dinamika inflasi global yang dapat memengaruhi arah imbal hasil ke depan. (Sn)