Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS, 29 November 2023

ilustrasi rupiah
ilustrasi rupiah

Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah hari ini berpeluang menguat mengambil momentum pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) saat pejabat Bank Sentral Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal beragam perihal suku bunga acuan.

Kemarin (28/11/2023), rupiah berhasil ditutup menguat 58,50 poin atau 0,38 menuju level Rp15.435 per dolar AS, saat mayoritas mata uang Asia perkasa di hadapan greenback.

Mengutip Reuters, Rabu (29/11/2023), dolar AS melemah secara luas pada awal perdagangan Rabu dan mencapai titik terendah terhadap yen dalam lebih dari dua bulan.

Dolar AS juga perlahan mendekati level terendah tiga bulan terhadap mata uang utama lainnya, seiring meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mulai menurunkan suku bunga pada awal tahun depan.

Baca Juga :  Beredar Dokumen Sebut TNI Intervensi Soal Tambang Ilegal

Dolar AS jatuh ke level 147,02 terhadap yen Jepang dan mendorong euro kembali di atas US$1,10, setelah Gubernur Fed Christopher Waller, yang dikenal hawkish dan berpengaruh di bank sentral, pada Selasa menandai kemungkinan penurunan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.

“Dia relatif hawkish, secara historis, jadi jika sikapnya berubah sedikit lebih dovish, hal ini menunjukkan bahwa mungkin konsensus umum dari anggota dewan adalah bahwa suku bunga telah mencapai puncaknya, bahkan mungkin bisa diturunkan pada tahun depan,” kata Kyle. Rodda, analis pasar keuangan senior di Capital.com.

Berdasarkan indikator CME FedWatch, perkiraan pasar saat ini menunjukkan peluang sebesar 40% bagi The Fed untuk mulai melonggarkan kebijakan moneternya pada Maret mendatang, dibandingkan dengan peluang sebesar 22% pada hari sebelumnya.

Baca Juga :  Nilai Tukar Rupiah Masih Berisiko Melemah

Terhadap sejumlah mata uang, greenback merosot ke level terendah lebih dari tiga bulan di 102,60. Indeks dolar mengincar penurunan hampir 4% untuk bulan November, kinerja bulanan terburuk dalam setahun.

“Kami menjadi kurang konstruktif terhadap prospek dolar AS, karena kemajuan dalam mengurangi inflasi AS menunjukkan risikonya cenderung ke arah pelonggaran The Fed lebih awal dibandingkan nanti,” kata ekonom di Wells Fargo dalam sebuah catatan.

Sumber: Bisnis.com/Sn

Bagikan :