Nilai Tukar Rupiah Bertahan Rp17.000, Brilian Moktar: Mei – Juni Bisa Tebus Rp18.000 per Dollar AS

rupiah
Rupiah dan Dollar AS

Medan | EGINDO.com – Nilai tukar Rupiah bertahan Rp17.000 dan akhir pekan penutupan nilai tukar Rupiah tembus diatas Rp.17.000 per dollar Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut kurang baik bagi roda perekonomian Indonesia.

Hal itu dikatakan Brilian Moktar, SE, MM, MH pada Sabtu (11/4/2026) kepada EGINDO.com di Medan tentang kondisi nilai tukar rupiah pada bulan April 2026, dimana pada bulan Maret 2026 lalu juga nilai tukar rupiah sempat dua kali tembus Rp17.000,- per dollar AS.

Dijelaskannya kebijakan dibidang ekonomi Indonesia sekarang ini sangat jelek dimana Pemerintah tidak berani menyatakan keadaan keuangan secara transparan sehingga nilai tukar rupiah tembus Rp.17.000,- per dollar Amerika Serikat dan bertahan berhari-hari dan terus merangkat naik diatas Rp17.000,- berulang kali.

Brilian Moktar, SE, MM, MH

“Melihat kondisi yang ada, estimasi saya pada bulan Mei dan Juni nilai tukar rupiah bisa jebol Rp18.000 per Dollar AS,” kata Brilian Moktar, SE, MM, MH menjawab pertanyaan EGINDO.com tentang kondisi rupiah terhadap dollar AS pada bulan mendatang.

Brilian Moktar, SE, MM, MH pengamat ekonomi dan politisi senior itu memprediksi pada bulan Mei dan Juni nilai tukar rupiah bisa jebol Rp18.000 per Dollar AS memiliki alasan yang kuat mengingat sampai kini tidak ada kepastian hukum bagi investasi di Indonesia, fundamental ekonomi kerakyatan masih sangat lemah sehingga Bank Indonesia tidak mampu intervensi terhadap nilai tukar rupiah.

Menurut Brilian Moktar apa bila nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dollar AS akan membuat kondisi ekonomi Indonesia atau perekonomian rakyat semakin parah. Pemerintah seperti tidak berdaya mengendalikan nilai tukar rupiah. Pemerintah harus segera merangkul pihak perbankan, pemerintah merangkul para pengusaha dan menciptakan kepastian hukum dalam berusaha para pengusaha di Indonesia.

“Pasalnya, pundamental ekonomi kerakyatan sekarang ini sangat lemah. Ekonomi masih dikuasai kapitalis baru. Saat ini banyak kelas menegah kebawah yang tingkat likwiditasnya sudah menurun. Namun, pemerintah tidak cepat tanggap untuk mengatasinya agar kembali pulih,” katanya menegaskan.@

Fd/timEGINDO.com

Scroll to Top