Nilai Kasih dan Solidaritas dalam Kearifan Batak Toba

Dr Wilmar Eliaser Simandjorang
Dr Wilmar Eliaser Simandjorang

Oleh: Dr Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl. EC., Dipl. Plan., M.Si

Di tengah menguatnya individualisme dan renggangnya ikatan sosial di era digital, pertanyaan tentang bagaimana manusia merawat relasi menjadi semakin relevan. Modernitas memang menghadirkan kemudahan, tetapi pada saat yang sama juga berpotensi mengikis nilai kebersamaan. Dalam konteks ini, kearifan lokal menawarkan sumber refleksi yang penting, termasuk dari tradisi Batak Toba yang menempatkan kasih dan solidaritas sebagai fondasi kehidupan bersama.

Kearifan Batak Toba tidak sekadar kumpulan adat, melainkan sistem nilai yang hidup dan diwariskan lintas generasi. Tradisi lisan menjadi medium utama, di mana ungkapan-ungkapan adat berfungsi sebagai penuntun etika sosial. Di dalamnya terkandung kesadaran mendasar bahwa manusia tidak pernah berdiri sendiri, melainkan hidup dalam jejaring relasi yang saling bergantung.

Salah satu ungkapan yang merefleksikan hal itu berbunyi: “Marsiamin aminan songon lambak ni gaol, marsitungkoltungkolan songon suhat di robean.” Ungkapan ini menegaskan bahwa solidaritas bukan pilihan, melainkan kebutuhan dasar dalam kehidupan sosial. Seperti rumpun pisang yang tumbuh berkelompok dan saling menopang, demikian pula manusia dipanggil untuk hidup dalam kebersamaan yang saling menguatkan.

Secara simbolik, lambak ni gaol (rumpun pisang) terdiri dari lapisan-lapisan yang saling membungkus dan menopang. Tidak ada bagian yang berdiri sendiri. Gambaran ini mengajarkan bahwa kekuatan kolektif lahir dari keterhubungan, bukan dari kemandirian yang terlepas dari yang lain. Dalam konteks masyarakat hari ini, nilai ini menjadi pengingat bahwa kohesi sosial tidak boleh digantikan oleh kecenderungan menonjolkan diri secara berlebihan.

Sementara itu, bagian ungkapan “marsitungkoltungkolan songon suhat di robean” menggambarkan kasih dalam relasi yang setara dan harmonis. Tanaman suhat (talas) yang tumbuh berdampingan melambangkan kehidupan yang saling menaungi tanpa saling meniadakan. Kasih di sini tidak bersifat dominatif, melainkan memberi ruang bagi yang lain untuk tumbuh bersama.

Nilai-nilai tersebut menemukan bentuk konkret dalam sistem kekerabatan Batak Toba yang berbasis genealogis. Relasi mardongan tubu mengatur hubungan dalam satu marga, yang menuntut kehati-hatian, hormat, dan tanggung jawab. Ungkapan “Manat mardongan tubu tubu, molo naeng sangap ho” menegaskan bahwa kehormatan tidak dibangun secara individual, melainkan dijaga bersama melalui sikap rendah hati dan pengendalian diri.

Sementara itu, konsep sabutuha menekankan ikatan persaudaraan yang lebih mendalam—bukan sekadar hubungan darah, tetapi juga keterikatan emosional dan moral. Ungkapan “Sabutuha namarsarurut” menjadi pengingat bahwa keutuhan relasi harus dijaga, bahkan di tengah perbedaan dan potensi konflik.

Dalam dinamika kekinian, tidak jarang muncul gejala renggangnya hubungan sosial, bahkan di dalam komunitas sendiri. Ketika relasi mulai bergeser dari semangat kebersamaan menuju kecenderungan eksklusivitas atau keinginan untuk menonjolkan peran secara berlebihan, maka benih-benih disintegrasi perlahan dapat muncul. Dalam situasi seperti ini, kearifan lokal justru menjadi cermin untuk mengoreksi arah.

Kearifan Batak Toba tidak memberi ruang bagi sikap yang mengedepankan diri di atas kebersamaan. Sebaliknya, ia menuntun pada kesadaran bahwa setiap individu adalah bagian dari keseluruhan yang lebih besar. Kehormatan sejati tidak lahir dari pengakuan diri, melainkan dari kemampuan menjaga harmoni dan memperkuat relasi.

Konflik memang tidak dapat dihindari, baik dalam keluarga, komunitas, maupun ruang publik. Namun, yang membedakan adalah cara menyikapinya. Ungkapan “Tampulan aek do na mardongan sabutuha” menggambarkan bahwa relasi, seperti air, pada akhirnya harus kembali menyatu. Pengampunan dan kerendahan hati menjadi kunci pemulihan.

Lebih jauh, sistem kekerabatan Batak Toba menunjukkan relevansi kuat dalam konteks diaspora. Mobilitas masyarakat yang tinggi membuat banyak individu hidup jauh dari kampung halaman. Namun, sebagaimana tercermin dalam ungkapan “Tali papaut, tali panggongan, tung taripar laut sai tinanda do rupani dongan sabutuha,” identitas genealogis tetap menjadi perekat sosial yang melampaui batas geografis.

Di sinilah pentingnya literasi komunitas berbasis genealogis. Pemahaman akan asal-usul bukan sekadar pengetahuan tentang silsilah, tetapi juga kesadaran etis tentang bagaimana membangun relasi. Ia menjadi penopang solidaritas, sekaligus penyeimbang terhadap kecenderungan fragmentasi dalam komunitas.

Puncak dari seluruh nilai tersebut adalah harmoni sosial. Ungkapan “Aek siurukuruk tu silallan aek Toba: na metmet ndang adong na marungutungut, namagodang sude marlas ni roha” menggambarkan kehidupan bersama yang rukun, di mana perbedaan tidak menjadi sumber konflik, melainkan diarahkan menuju kesepahaman.

Pada akhirnya, kearifan Batak Toba mengingatkan bahwa kehidupan yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh kemajuan material, tetapi oleh kualitas relasi antarmanusia. Kasih, solidaritas, dan kesediaan untuk merendahkan hati menjadi fondasi utama.

Di tengah tantangan zaman, nilai-nilai ini bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi sumber inspirasi untuk merawat keutuhan komunitas. Ia menjadi penegasan bahwa kebersamaan harus selalu dijaga dari kecenderungan yang dapat memecah, sekecil apa pun itu, demi kehidupan sosial yang lebih utuh, adil, dan bermartabat.@

***

Penulis adalah Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PSGI)

Scroll to Top