Jakarta|EGINDO.co Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2025 masih mencatatkan surplus sebesar USD 3,45 miliar. Secara bulanan, surplus neraca perdagangan ini mengalami peningkatan sebesar USD 1,21 miliar. Dengan demikian, Indonesia telah mencatatkan surplus perdagangan selama 57 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Surplus ini didorong oleh komoditas nonmigas, khususnya bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan nabati, serta besi dan baja. Di sisi lain, neraca perdagangan untuk komoditas migas tercatat defisit sebesar USD 1,43 miliar, yang disebabkan oleh impor minyak mentah dan hasil minyak.
Berdasarkan negara mitra dagang, Indonesia mengalami surplus dengan beberapa negara, di antaranya Amerika Serikat, India, dan Filipina. Dengan Amerika Serikat, surplus tercatat sebesar USD 1,58 miliar, dengan India sebesar USD 0,77 miliar, dan dengan Filipina sebesar USD 0,73 miliar. Komoditas utama penyumbang surplus dengan Amerika Serikat adalah mesin, perlengkapan elektrik, pakaian rajutan, dan alas kaki.
Sementara itu, Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan dengan Tiongkok, Australia, dan Ekuador. Defisit dengan Tiongkok tercatat sebesar USD 1,77 miliar, dengan Australia USD 0,19 miliar, dan dengan Ekuador USD 0,13 miliar. Defisit dengan Tiongkok disebabkan oleh impor mesin dan peralatan mekanik, peralatan elektrik, serta plastik dan barang plastik. Sedangkan dengan Ekuador, defisit dipicu oleh impor komoditas kakao serta tembakau dan rokok.
Sumber: rri.co.id/Sn