Nelayan Kepulauan Seribu Keluhkan Pasokan Solar dan Iklim

Kapal nelayan tradisional sandar di Dermaga Utara Pulau Tidung. (Foto: Fadmin Malau)
Kapal nelayan tradisional sandar di Dermaga Utara Pulau Tidung. (Foto: Fadmin Malau)

Jakarta | EGINDO.co – Para nelayan Kabupaten Kepulauan Seribu DKI Jakarta Utara mengeluhkan masih sulitnya mendapatkan pasokan Solar dan kondisi iklim di laut Kepulauan Seribu membuat nelayan kesulitan melaut. Hal itu diungkapkan Ibrahin Hasan (42) dan Barkah (37) kepada EGINDO.co belum lama ini di Dermaga Utara Pulau Tidung Kepulauan Seribu tempat sandar kapal nelayan tradisional.

Ibrahin Hasan mengatakan mayoritas nelayan di Kepulauan Seribu memiliki tantangan yang harus mereka hadapi tentang ketersediaan bahan bakar solar yang minim dan nelayan masih sangat sulit mendapatkannya. Selain itu tantangan juga datang dari kondisi alam yang lebih banyak tidak bersahabat dari pada bersahabat.

Menurutnya pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi untuk nelayan sangat kurang di Kabupaten Kepulauan Seribu. Untuk itu katanya diusulkan agar dibukanya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk masyarkat Kepulauan Seribu.

Baca Juga :  Mengenal Adat Sumando, Tapanuli Tengah

Masyarakat Kepulauan Seribu sudah mengusulkan diadakan SPBU apung untuk kebutuhan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar yang berkurang bagi nelayan. “Harusnya sudah ada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) sehingga untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar bagi nelayan terpenuhi, tidak lagi harus dari SPBU apung,” kata Hasan menegaskan.

Sementara itu Barkah nelayan penduduk Pulau Pari mengakui kondisi nelayan di Kepulauan Seribu penuh tantangan, baik dari alam dimana kondisi alam lebih banyak tidak bersahabat dari bersahabat sehingga lebih banyak kapal nelayan tradisional yang sandar dari pada yang melaut disebabkan pasokan bahan bakar solar untuk melaut yang masih kurang dan kondisi alam.

Baca Juga :  Perekonomian ASEAN Tunjukkan Kinerja Positif Satu Dekade

Pantauan EGINDO.co memang lebih banyak kapal nelayan tradisional yang sandar dari pada melaut seperti di Dermaga Utara Pulau Tidung, hanya beberapa kapal nelayan tradisional yang berlayar yakni berangkat pagi hari dan pulang petang hari.

Tidak heran apa yang dikatakan Barkah bahwa hasil tangkapan nelayan tradisional di Kepulauan Seribu umumnya baru bisa memenuhi kebutuhan ikan untuk penduduk Kepulauan Seribu, belum lagi bisa memasok untuk kebutuhan ikan diluar Kepulauan Seribu.

Sementara itu diakui para nelayan hasil laut dari Kepuluan Seribu sangat baik dan dari sejumlah potensi yang ada itu dapat meningkatkan ekonomi masyarakat Kepulauan Seribu terutama dari hasil laut apa bila ada perbaikan infrastruktur untuk kebutuhan nelayan. Kini kapal kapal nelayan tradisional itu harus berfungsi ganda, disamping yang utama untuk menangkap ikan juga untuk melayani para wisatawan untuk kegiatan wisata bahari yang sedikitnya para wisatawan mengunjungi 6 pulau yakni Pulau Harapan, Pulau Kelapa, Pulau Panggang, Pulau Pramuka, Pulau Tidung, dan Pulau Untung Jawa.@

Baca Juga :  Luhut Harap Proyek Tol Cisumdawu Rampung Akhir Tahun Ini

Fd/timEGINDO.co

Bagikan :