Nasdaq Tergelincir, Imbal Hasil Menguat di Tengah Ketakutan Konflik Timur Tengah

Nasdaq di NYSE
Nasdaq di NYSE

New York | EGINDO.co – Imbal hasil obligasi pemerintah AS sedikit melandai pada hari Selasa, meskipun imbal hasil tenor panjang tetap berada di dekat level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir setelah imbal hasil Treasury 30-tahun sempat menyentuh level yang belum pernah terlihat sejak 2007.

Pergerakan ini terjadi di tengah kekhawatiran bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kecemasan akan inflasi dan menekan pasar saham. Indeks Nasdaq Composite berakhir turun 1,33 persen, Dow Jones Industrial Average turun 0,22 persen, dan S&P 500 turun 0,69 persen.

Harga minyak ditutup pada level tertinggi dalam lebih dari tiga minggu setelah Iran menyatakan akan mengambil sikap yang lebih ofensif dan Selat Hormuz akan tetap ditutup, sementara Amerika Serikat menutup kemungkinan perpanjangan gencatan senjata.

Namun, kenaikan harga terbatas; kontrak berjangka minyak mentah Brent berakhir naik 15 sen, atau 0,17 persen, di level $91,02 per barel, sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik 44 sen, atau 0,52 persen, di level $84,94 per barel. Kedua kontrak tersebut ditutup pada level tertinggi sejak 24 Juli.

Imbal hasil Treasury terus meningkat meskipun data ekonomi AS yang lemah sempat meredakan kekhawatiran mengenai kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Para pelaku pasar kini memperkirakan hanya ada peluang 35 persen untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan September, namun terdapat peluang 69 persen untuk kenaikan suku bunga pada bulan Desember.

Kebangkitan kembali inflasi dapat memicu kembali ekspektasi akan laju kenaikan suku bunga yang lebih cepat.

“Kita hidup di dunia di mana kita akan terus menghadapi serangkaian guncangan pasokan,” ujar Will Compernolle, ahli strategi makro di FHN Financial.

Biaya akibat konflik Iran yang sedang berlangsung juga menambah kekhawatiran mengenai arah kebijakan fiskal AS. Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 30 tahun terakhir tercatat turun 1,78 basis poin menjadi 5,2922 persen, setelah sempat menyentuh level 5,3371 persen—angka tertinggi sejak 2007. Imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun turun 1,2 basis poin menjadi 4,712 persen, setelah sempat mencapai 4,7478 persen, level tertinggi sejak Januari 2025.

Kenaikan imbal hasil AS terjadi bersamaan dengan melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah Jepang ke level tertinggi dalam 30 tahun. Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan analis bahwa seiring makin menariknya imbal hasil Jepang, para investor di negara tersebut—terutama dana pensiun dan perusahaan asuransi—mungkin mulai mengalihkan modal dari surat utang AS ke obligasi Jepang.

Pergeseran semacam itu akan menambah tekanan kenaikan pada imbal hasil Treasury. Imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun sempat bergerak tepat di bawah ambang batas 3 persen untuk pertama kalinya sejak pertengahan 1990-an, sementara imbal hasil obligasi zona euro juga berada di dekat level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Pasar Bersikap Hati-Hati

Indeks-indeks utama Wall Street jatuh ke level terendah dalam dua minggu, tertekan oleh penurunan saham-saham teknologi berkapitalisasi besar.

“Tidak ada hal yang bisa mematahkan reli momentum sekuat kenaikan suku bunga, dan hari ini kita melihat bukti nyata akan hal tersebut,” ujar Tony Welch, Chief Investment Officer di SignatureFD.

Tingginya imbal hasil cenderung membebani pasar saham karena membuat saham menjadi kurang menarik bagi investor, serta meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan yang sedang menggelontorkan dana besar untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang padat modal.

Indeks STOXX 600 pan-Eropa turun 0,69 persen, sementara indeks saham global MSCI turun 0,77 persen.

CBOE Volatility Index—yang dikenal sebagai indikator ketakutan pasar Wall Street—mencapai level tertinggi dalam lebih dari sepekan.

Saat ini, investor mengalihkan perhatian pada rilis risalah rapat kebijakan terbaru The Fed hari Rabu, serta simposium Jackson Hole pekan depan; acara ini akan dicermati secara ketat untuk mencari petunjuk mengenai bagaimana para pembuat kebijakan menafsirkan data ekonomi terkini. “Mengingat berkurangnya kandungan informasi dalam pernyataan kebijakan FOMC dan konferensi pers Ketua Fed (Kevin) Warsh, risalah rapat FOMC bisa dibilang menjadi lebih penting dalam menyampaikan keseimbangan pandangan di antara para pembuat kebijakan,” ujar Jonas Goltermann, kepala ekonom pasar di Capital Economics.

Federal Open Market Committee (FOMC) adalah badan penentu suku bunga The Fed.

Di pasar mata uang, indeks dolar—yang mengukur nilai dolar AS terhadap sekeranjang mata uang termasuk yen dan euro—naik 0,13 persen menjadi 99,67, sementara euro turun 0,04 persen ke level $1,1574. Terhadap yen Jepang, dolar menguat 0,13 persen menjadi 159,64.

Harga emas spot turun 1,61 persen menjadi $4.344,82 per ons.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top