Jakarta|EGINDO.co Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa musim kemarau kini telah mencakup lebih dari separuh wilayah daratan Indonesia. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung lebih kering dan lebih panjang karena dipengaruhi fenomena El Nino yang diprediksi masih bertahan hingga awal 2027.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/7/2026), hingga pertengahan Juli 2026 sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen luas daratan Indonesia telah memasuki periode kemarau. Wilayah yang terdampak meliputi sebagian besar Pulau Jawa serta sejumlah daerah di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
Dari perspektif ekonomi, musim kemarau yang berlangsung lebih lama berpotensi memberikan tekanan terhadap sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, dan ketahanan pangan nasional. Berkurangnya ketersediaan air untuk irigasi dapat menurunkan produktivitas pertanian, sementara ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berisiko mengganggu aktivitas industri, distribusi barang, serta rantai pasok di berbagai daerah.
BMKG memperkirakan potensi karhutla akan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Karena itu, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat diimbau meningkatkan langkah antisipasi untuk meminimalkan kerugian ekonomi maupun dampak terhadap lingkungan.
Dalam kesempatan yang sama, Teuku Faisal Fathani menegaskan bahwa BMKG terus memperkuat koordinasi dengan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah guna mendukung upaya mitigasi, termasuk pemantauan cuaca dan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan ekstrem.
Sejumlah media nasional seperti Kompas.com dan Katadata juga menyoroti potensi dampak El Nino terhadap perekonomian Indonesia. Kedua media tersebut menyebut bahwa fenomena iklim tersebut dapat memengaruhi produksi pangan, meningkatkan risiko inflasi bahan pokok, serta mengganggu sektor energi apabila kekeringan berlangsung lebih lama dari biasanya.
Melihat kondisi tersebut, dunia usaha diharapkan mulai memperkuat strategi mitigasi risiko, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya air, serta menjaga kelancaran rantai pasok agar aktivitas ekonomi tetap berjalan optimal selama musim kemarau 2026. (Sn)