Mitsubishi Electric Mulai Persiapan Industri untuk Jet Tempur GCAP

Ilustrasi Jet Tempur GCAP
Ilustrasi Jet Tempur GCAP

Tokyo | EGINDO.co – Mitsubishi Electric berencana membangun tiga fasilitas untuk memproduksi sistem elektronik bagi pesawat tempur canggih yang sedang dikembangkan oleh Jepang, Inggris, dan Italia. Perusahaan memperkirakan proyek ini akan berkontribusi terhadap laba pada akhir dekade ini, menurut direktur keuangan perusahaan.

Perusahaan asal Jepang ini merupakan peserta utama dalam *Global Combat Air Programme* (GCAP), yang bertujuan untuk mengoperasikan pesawat tempur garis depan pada tahun 2035. Rencana pembangunan fasilitas ini menandakan bahwa proyek tersebut telah melangkah melampaui tahap kesepakatan pemerintah dan desain awal menuju tahap pengembangan industri.

“Menurut perkiraan saya, proyek ini bisa mulai berkontribusi pada pendapatan sekitar tahun fiskal 2029 atau 2030, atau mungkin setahun sebelumnya,” ujar Kenichiro Fujimoto dalam sebuah wawancara. Ia menambahkan bahwa perusahaan akan menerima imbalan atas penugasan personel dan pembuatan prototipe.

Secara industri, GCAP dipimpin oleh Mitsubishi Heavy Industries (Jepang), BAE Systems PLC (Inggris), dan Leonardo (Italia). Kanada telah bergabung sebagai pengamat, sementara Jerman dan Arab Saudi sempat dibahas sebagai calon mitra tambahan, meskipun para pejabat proyek menegaskan bahwa masuknya pihak baru tidak boleh menghambat target peluncuran pada tahun 2035.

Produsen radar dan rudal asal Jepang ini berupaya meningkatkan penjualan tahunan di sektor pertahanan hingga lebih dari 50 persen, mencapai 690 miliar yen (4,4 miliar dolar AS) pada Maret 2031.

Perusahaan memperkirakan ekspor akan menyumbang porsi signifikan dari pertumbuhan tersebut, termasuk melalui proyek GCAP, penyediaan peralatan untuk kapal perang kelas Mogami yang akan dipasok Jepang ke Australia, serta komponen untuk rudal udara-ke-udara AIM-120 AMRAAM buatan perusahaan pertahanan AS, RTX Corp.

Pada bulan April, Jepang melonggarkan aturan pembatasan ekspor senjata yang telah berlaku selama beberapa dekade demi memperkuat industri pertahanan dalam negeri, di tengah tekanan terhadap produksi senjata Barat akibat konflik di Ukraina dan Timur Tengah.

Menipisnya stok rudal AS selama konflik dengan Iran, ditambah dengan pasokan senjata ke Ukraina, dapat membuka peluang bagi produsen Jepang saat Washington berupaya mengisi kembali persediaan senjatanya, kata Fujimoto.

“Tidak ada hal spesifik yang bisa saya ungkapkan, namun secara makro, kemungkinannya memang ada,” ujarnya.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top