Mitratel Putar Strategi di Tengah Lonjakan Harga Bahan Baku, Ekspansi Fiber Tetap Ngebut

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) merespons kenaikan harga bahan baku fiber optik dengan strategi yang lebih adaptif dan terukur. Lonjakan harga high-density polyethylene (HDPE) sebesar 15–17% yang dipicu konflik di Timur Tengah, sebagaimana disampaikan Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi, menjadi tantangan bagi industri infrastruktur digital nasional.

Direktur Investasi Hendra Purnama menegaskan bahwa perusahaan tidak mengambil langkah ekspansi secara agresif tanpa perhitungan, melainkan mengedepankan efisiensi dengan tetap menjaga kesinambungan pertumbuhan. Optimalisasi desain jaringan, pemanfaatan aset yang sudah ada, serta penguatan kerja sama dengan mitra dan vendor menjadi langkah utama untuk menekan biaya sekaligus menjaga rantai pasok tetap stabil.

Selain itu, Mitratel menerapkan pendekatan belanja modal yang lebih selektif dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar. Strategi ini dilakukan agar setiap investasi tetap produktif dan memberikan imbal hasil yang optimal. Menurut Hendra, penyesuaian yang dilakukan lebih pada prioritas proyek, bukan pengurangan kualitas layanan maupun penghentian ekspansi.

Di tengah tekanan biaya, perusahaan memastikan bahwa kenaikan harga material tidak berdampak langsung terhadap performa jaringan. Kualitas layanan tetap dijaga melalui standar operasional yang ketat, termasuk sistem pemantauan terintegrasi dan pemeliharaan preventif. Dengan demikian, dampak utama dari kenaikan harga lebih dirasakan pada aspek efisiensi investasi dan perencanaan proyek yang semakin disiplin.

Untuk menjaga efisiensi permodalan, Mitratel juga memperkuat model kemitraan dan skema infrastructure sharing. Pendekatan ini dinilai mampu menopang ekspansi jaringan secara berkelanjutan, sekaligus mendukung pemerataan konektivitas, terutama di luar Pulau Jawa.

Sejumlah media seperti Bisnis Indonesia dan Kontan juga menyoroti bahwa langkah efisiensi dan selektivitas investasi menjadi kunci bagi perusahaan telekomunikasi dalam menghadapi tekanan global saat ini.

Dari sisi kinerja, Mitratel masih mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2025 dengan pendapatan mencapai Rp9,53 triliun atau naik 2,4% secara tahunan. Kontributor terbesar tetap berasal dari bisnis menara dengan porsi 81,8%, sementara lini fiber optik mulai menunjukkan akselerasi signifikan dengan pertumbuhan 18,1% dan kontribusi sekitar 6%.

“Perusahaan tetap menjaga keseimbangan antara efisiensi biaya dan keberlanjutan ekspansi,” ujar Hendra pada Kamis, 16 April 2026. Ia menambahkan bahwa arah pertumbuhan Mitratel akan terus dijaga secara prudent agar tetap sehat dari sisi arus kas sekaligus relevan dengan kebutuhan industri telekomunikasi ke depan. (Sn)

Scroll to Top