New Delhi/Perth | EGINDO.co – Harga minyak turun pada hari Jumat saat pasar menimbang kemungkinan gencatan senjata antara AS dan Iran di tengah kekhawatiran bahwa peningkatan serangan oleh pemberontak Houthi terhadap Arab Saudi dapat mengganggu pasokan dari produsen utama di Timur Tengah tersebut.
Harga minyak Brent turun $1,47, atau 1,4 persen, menjadi $105,11 per barel pada pukul 05.41 GMT, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun $2, atau 2,1 persen, menjadi $92,61 per barel.
Negosiator AS dan Iran di New York sedang menjajaki jalan keluar bertahap dari perang yang akan melibatkan pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Teheran dan pencabutan blokade ekonomi AS terhadap Iran, menurut sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut minggu ini.
Pada hari Kamis, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa keputusan mengenai kapan perang Iran akan berakhir bergantung pada AS.
Sejak perang dimulai pada akhir Februari, sekitar seperlima dari pengiriman minyak dan gas dunia telah terhambat.
“Harapan diplomatik pada dasarnya membantu harga minyak bertahan menghadapi serangan militer terbaru di Timur Tengah, dengan perdagangan minyak mentah yang cenderung melemah tipis meskipun ada serangan tersebut,” kata Tim Waterer, kepala analis di KCM Trade.
Pada hari Kamis, harga minyak sempat menyentuh level tertinggi dalam satu minggu, di mana kedua kontrak acuan tersebut naik hingga 5 persen. Untuk minggu ini, Brent naik 1,7 persen, sementara WTI turun 7,2 persen.
Selisih harga (spread) antara Brent dan WTI mencapai titik terlebar sejak Mei, yakni sebesar $12,50 per barel.
Kekhawatiran akan larangan ekspor solar oleh AS yang dapat membanjiri pasar domestik menjadi penyebab utama perbedaan pergerakan harga ini, mengingat kedua acuan tersebut biasanya bergerak naik dan turun secara bersamaan, meskipun kontrak AS umumnya diperdagangkan dengan harga lebih rendah (diskon).
“Melebarnya selisih harga Brent-WTI mencerminkan divergensi yang kian besar antara risiko pasokan global dan fundamental pasar AS,” ujar Sugandha Sachdeva, pendiri SS WealthStreet, sebuah perusahaan riset yang berbasis di New Delhi. Harga minyak Brent mencerminkan premi risiko geopolitik yang signifikan akibat terbatasnya pasokan dari kawasan Teluk, sementara peningkatan produksi dan cadangan minyak AS menjaga harga WTI tetap jauh lebih rendah dibandingkan Brent, ujar Sachdeva.
Arab Saudi mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan oleh kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran, sehingga menggagalkan serangan terhadap provinsi Taif di wilayah selatan dan kawasan Yanbu di tepi Laut Merah, menurut pernyataan koalisi pimpinan Saudi di Yaman.
Arab Saudi sedang meningkatkan volume pemompaan minyak mentah melalui Pipa Timur-Barat yang mengarah ke pusat ekspor Yanbu di Laut Merah, meskipun kegiatan pemuatan minyak ke kapal tanker belum kembali berjalan, menurut sumber industri, citra satelit, dan data pelayaran.
Sumber : CNA/SL