London | EGINDO.co – Harga minyak turun sekitar 6 persen pada hari Senin seiring dengan pembicaraan antara pejabat Iran dan Qatar untuk mengakhiri perang antara AS-Israel dan Iran. Hal ini memunculkan harapan akan berkurangnya gangguan pasokan dari Timur Tengah. Sementara itu, Presiden Iran menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi telah memberikan “wewenang tertentu” kepada pemerintah terkait perundingan damai.
Seorang pejabat yang mengetahui perihal pembicaraan tersebut mengatakan pada hari Senin bahwa negosiator Iran telah melakukan diskusi selama beberapa hari dengan mediator Qatar yang bertujuan untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat. Saat ini, sebuah draf usulan sedang diedarkan dan kemungkinan akan ada pertemuan lanjutan.
Harga minyak mentah Brent berjangka turun $6,78, atau 6,0 persen, menjadi $106,65 per barel pada pukul 13.57 GMT, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun $6,37, atau 6,1 persen, menjadi $97,75 per barel.
Menurut para analis, harga kontrak tersebut sempat menyentuh level terendah masing-masing di angka $105,86 dan $97,12, setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengungkapkan bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei telah memberikan wewenang tertentu kepada pemerintah untuk melakukan perundingan damai. Pernyataan ini meningkatkan ekspektasi akan adanya terobosan diplomatik.
Media pemerintah melaporkan bahwa Pezeshkian menambahkan bahwa Teheran “akan mencoba menyelesaikan masalah ini melalui dialog”, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Brent menutup bulan Oktober di level tertinggi dalam enam bulan terakhir, dipicu oleh kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah dapat kembali meningkat setelah pemilihan paruh waktu AS pada hari Selasa.
“Pasar minyak masih bereaksi dengan sangat sensitif terhadap setiap berita yang muncul dari Timur Tengah,” ujar analis UBS, Giovanni Staunovo. “Meskipun kekhawatiran akan eskalasi yang segera terjadi sempat mendorong kenaikan harga pekan lalu, harga justru turun tajam di awal pekan ini seiring berlanjutnya pembicaraan diplomatik antara AS dan Iran,” tambahnya.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan pada hari Minggu bahwa tujuan dari pembicaraan tersebut adalah untuk melanjutkan konsultasi dengan mediator Qatar, seraya menambahkan bahwa Teheran siap untuk menempuh “jalur pertahanan maupun diplomasi”.
Pembicaraan ini berlangsung menyusul peningkatan serangan terhadap kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, meskipun di sisi lain, terdapat pula tanda-tanda peningkatan volume pengiriman dari beberapa negara eksportir utama. Ekspor minyak mentah Arab Saudi pada bulan Oktober meningkat dibandingkan dengan bulan September—demikian menurut dua dari tiga perusahaan pelacak kapal—meskipun terdapat serangan terhadap infrastruktur energinya oleh kelompok Houthi Yaman yang berafiliasi dengan Iran.
Pecahnya perang yang melibatkan Iran pada akhir Februari telah menguras cadangan minyak. Dunia telah menggunakan hampir 1 miliar barel dari persediaan yang ada sejak perang tersebut mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz, ungkap Sultan Al Jaber, CEO ADNOC, perusahaan minyak milik negara Abu Dhabi.
Menurut beberapa analis, harga minyak berpotensi naik lebih lanjut. Pada hari Minggu, Goldman Sachs menaikkan prakiraan harganya dengan alasan meningkatnya risiko pasokan; mereka menyatakan bahwa harga minyak Brent bisa melonjak hingga $140 pada tahun 2027 jika produksi minyak di kawasan Teluk tetap berada 3,5 juta barel per hari di bawah rata-rata tahun 2025.
“Meningkatnya serangan terhadap kapal, kerusakan pada infrastruktur minyak, serta premi risiko yang lebih persisten tetap menjadi pemicu utama potensi kenaikan harga,” tulis bank tersebut dalam sebuah laporan.
Sumber : CNA/SL