Meriam Bambu Warisan Belanda Pada Bulan Puasa Ramadhan

Meriam Bambu
Meriam Bambu

Medan | EGINDO.co – Belanda yang pernah menjajah Indonesia sudah pasti mewariskan budaya bagi bangsa Indonesia. Warisan budaya itu satu kebiasaan yang hidup dalam satu masyarakat dan muncul berdasarkan pemikiran, budi dan daya dari manusia itu sendiri.

Hal itu dikatakan Ketua Yayasan Badan Warisan Soematra (YBWS), Ir. Fadmin Malau kepada EGINDO.co kemarin sehubungan masih maraknya Meriam Bambu pada banyak daerah ketika bulan Ramadhan.

Menurutnya, warisan budaya karena peninggalan Belanda ketika menjajah Bangsa Indonesia dan terus hidup berkembang menjadi satu tradisi dalam masyarakat meskipun Belanda sudah tidak ada lagi di bumi Indonesia akan tetapi budaya yang ditinggalkannya tetap ada yakni meledakkan Meriam Bambu ketika bulan puasa Ramadhan.

Ada cerita unik yang terjadi kata Fadmin Malau tentang adanya Meriam Bambu di Indonesia. Menurut sejarah adanya Meriam digunakan para pasukan perang Blasteng tahun 1908 di Kamang. Pasukan perang itu mempergunakan Mariam yang dilawan dengan senjata Bambu Runcing dari Bangsa Indonesia karena tidak memiliki Meriam.

Baca Juga :  BEI Ajak Generasi Muda Investasi Di Pasar Modal

Kegigihan dalam berjuang Bangsa Indonesia sehingga mengilhami Bangsa Indonesia menciptakan Meriam Bambu dari hasil meniru Meriam yang dipergunakan pasukan perang waktu itu melawan para pejuang Indonesia.

“Ada Pepatah atau Peribahasa Indonesia mengatakan, Tidak ada rotan, akar pun berguna, yang memililiki makna tidak menyerah begitu saja. Kearifan lokal Bangsa Indonesia memiliki kecerdasan yang cemerlang dalam hal meniru sesuatu yang belum bisa dimiliki,” katanya.

Digambarkannya, begitu besarnya keinginan Bangsa Indonesia memiliki Meriam yang sebenarnya untuk berperang melawan Belanda. Namun, keinginan itu belum dapat diwujudkan akan tetapi ada kearifan lokal menciptakan Meriam Bambu.

Meriam yang sesungguhnya ditiru dengan membuat Meriam dari bahan batang bambu. Ternyata hasilnya luar biasa. Meriam Bambu itu mirip dengan Meriam sesungguhnya. Model dan bentuknya sama meskipun berbeda dalam hal kualitas bahan. Meriam yang sesungguhnya dari besi tapi yang bukan sesungguhnya dari bambu maka disebut Meriam Bambu.

Baca Juga :  Polisi Amankan Sepeda Motor Pelajar Ketangkap Bolos Sekolah 

Menurut Fadmin Malau, banyak kearifan lokal Bangsa Indonesia yang luar biasa. Ketika melihat pipa-pipa air dari besi, muncul ide untuk menirunya dengan memanfaatkan bahan lokal yang ada yakni batang bambu sebagai pipa air dan juga tempat air. Hasilnya bisa menyamai pipa air dari besi.

“Begitu juga dengan Meriam Bambu, hasilnya hampir bisa menyamai dengan Meriam yang sesungguhnya. Konon ceritanya, di Bukittinggi Provinsi Sumatera Barat Meriam Bambu yang dibuat kala itu ternyata mampu mengger­tak pasukan Belanda dan akhirnya lari ketakutan meninggalkan lawan karena mendengar suara ledakkan menggelegar dari Meriam Bambu,” katanya.

Belanda menganggap suara ledakkan dari Meriam Bambu itu adalah suara ledakkan dari Meriam benaran. Benar atau tidaknya cerita Belanda ketakutan ketika mendengar suara ledakkan Meriam Bambu ini menjadi cerita dari mulut ke mulut secara turun temurun sampai kini.

Baca Juga :  Arab Saudi Akan Izinkan Minuman Alkohol

Cerita dari mulut ke mulut itu kata Fadmin Malau mengilhami anak-anak pada beberapa daerah di Indonesia membuat Meriam Bambu saat bulan puasa atau bulan Ramadhan tujuannya untuk menanti waktu berbuka puasa.

“Umumnya hanya untuk menanti saat berbuka puasa pada petang hari dan itu terjadi di daerah pedesaan yang memiliki banyak pohon bambu, kalau di perkotaan anak-anak menanti berbuka puasa biasanya jalan jalan sore atau istilah ngetop sekarang Ngabuburit,” katanya menegaskan.@

Bs/timEGINDO.co

Bagikan :