Seoul | EGINDO.co – Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun membahas situasi di Timur Tengah, termasuk kebebasan navigasi di Selat Hormuz, melalui sambungan telepon pada hari Jumat (11 September) dengan mitranya dari Iran, Abbas Araghchi; demikian disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Korea Selatan.
Cho menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi tersebut dan menyuarakan harapannya akan pemulihan perdamaian serta stabilitas yang langgeng di kawasan itu, ungkap kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan.
Cho menyampaikan kepada Araghchi bahwa Korea Selatan secara konsisten mendukung navigasi yang bebas dan aman bagi semua kapal serta berpartisipasi dalam upaya internasional untuk mendukung keamanan maritim, tambah pernyataan itu.
Araghchi memaparkan posisi Iran terkait perkembangan situasi di kawasan, dan kedua menteri sepakat untuk menjaga komunikasi yang terbuka, menurut pernyataan tersebut.
Percakapan telepon itu—yang menurut kementerian luar negeri dilakukan atas permintaan Iran—berlangsung setelah Seoul mengirim tim inspeksi ke Timur Tengah untuk menilai apakah perlu mengirim pasukan ke wilayah tersebut.
Kantor kepresidenan Korea Selatan pekan lalu menyatakan bahwa Seoul sedang meninjau berbagai opsi, termasuk langkah-langkah militer, untuk mendukung kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Langkah ini menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump pada bulan Agustus untuk mengurangi skala latihan militer gabungan AS-Korea Selatan; Trump saat itu mengkritik Seoul karena tidak bergabung dalam upaya AS terkait situasi Iran serta menyoroti biaya pelaksanaan latihan tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran sebelumnya menyatakan di platform X pada minggu ini bahwa kehadiran militer atau partisipasi Korea Selatan dalam operasi apa pun di Teluk dan Selat Hormuz akan dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap “agresi” AS dan akan menimbulkan konsekuensi serius.
Pemerintah Korea Selatan menyatakan bahwa belum ada keputusan yang diambil terkait pengerahan pasukan.
Sumber : CNA/SL