Menteri Keuangan Filipina, Tidak Ada Alasan Suku Bunga Naik

Menteri Keuangan Filipina, Benjamin Diokno
Menteri Keuangan Filipina, Benjamin Diokno

Manila | EGINDO.co – Bank sentral Filipina tidak memiliki alasan untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut karena inflasi dalam negeri menurun, menteri keuangan negara itu mengatakan menjelang pertemuan kebijakan moneter tanggal 18 Mei.

Menteri Keuangan Benjamin Diokno menegaskan kembali pendiriannya untuk tidak menaikkan suku bunga ketika ia berbicara kepada para wartawan. Namun ia mengatakan bahwa ia hanya mengungkapkan pendapatnya dan hanya salah satu dari tujuh anggota dewan moneter yang akan memberikan suara pada saat pengambilan keputusan pada hari Kamis.

“Saya mendukung penundaan, itu pendapat saya. Inflasi turun, cadangan devisa yang besar, defisit transaksi berjalan telah melebar namun secara finansial masih dapat dikelola dan hal ini disebabkan oleh ekonomi yang membaik, belanja infrastruktur,” ujarnya. “Jadi secara keseluruhan, tidak ada alasan mengapa kita harus menaikkan suku bunga.”

Baca Juga :  Dengan Panas Bumi, Siapkan Indonesia Jadi Raksasa Energi Hijau Dunia

Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) telah menaikkan suku bunga dengan total 425 basis poin sejak Mei tahun lalu untuk memerangi inflasi, yang menurut Diokno belum sepenuhnya terserap oleh perekonomian mengingat kebijakan moneter sering kali bekerja dengan jeda waktu yang lama.

Inflasi tahunan Filipina menurun selama tiga bulan berturut-turut di bulan April menjadi 6,6%.

Gubernur BSP Felipe Medalla sendiri mengatakan bahwa tren inflasi bulan ke bulan secara khusus “memberikan argumen yang lebih kuat” untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan kebijakan 18 Mei.

Beberapa ekonom percaya bahwa tren penurunan inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang mendingin telah membangun argumen bagi BSP untuk berhenti sejenak dalam siklus pengetatannya.

Baca Juga :  Singapura Longgarkan Batasan Bagi Pekerja Migran Di Asrama

Namun, Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan pada hari Jumat bahwa dengan risiko-risiko terhadap inflasi yang masih ada, “bias pengetatan yang berkelanjutan mungkin sesuai sampai inflasi turun secara pasti dalam kisaran target 2-4%”.
Sumber : CNA/SL

Bagikan :
Scroll to Top