Menjemput Rindu di Tanah Haram, Menembus Langit Makkah, Perjuangan di Jabal Bersejarah

Jabal Nur terlihat dari kota Makkah, indah dengan jalan mulus seperti di dataran tanpa bukit. (Foto: Fadmin Malau)
Jabal Nur terlihat dari kota Makkah, indah dengan jalan mulus seperti di dataran tanpa bukit. (Foto: Fadmin Malau)

Catatan: Fadmin Malau

MENJEMPUT rindu di tanah haram yang mana wilayah di bumi ini tempat menembus langit bernama Makkah. Berjejer jabal yang dalam bahasa Arab artinya gunung atau bukit. Deretan jabal, sambung menyambung di Makkah itu merupakan “pintu-pintu” langit yang menghubungkan bumi dengan langit. Tercatat perjuangan Nabi Muhammad SAW di jabal bersejarah kota Makkah.

Makkah yang merupakan gugusan jabal dengan batu cadas yang keras kini menjadi sebuah kota yang indah dengan jalan yang mulus bak seperti di dataran tanpa bukit. Kini Makkah Al-Mukarramah kota yang datar dengan hamparan aspal dan gedung-gedung pencakar langit.

Ya, itu yang dirasakan ketika melintasi jalanan di kota Makkah. Namun, jika kita melayangkan pandangan ke sekeliling jalanan yang mulus itu tanpa tanjakan kita akan melihat kota Makkah ternyata dikelilingi oleh jajaran perbukitan batu cadas yang kokoh.

Jamaah umroh Miqot Awal Hidayah Travel & Hajj Agency Medan berfoto bersama dengan latar belakang Jabal Nur (Foto: dok Miqot)

Subhanallah, walhamdulillah. Dalam tradisi Arab, bukit atau gunung ini disebut Jabal. Namun, meskipun bukit atau gunung akan tetapi jalanan dibangun tidak seperti jalanan di gunung yang harus berliku-liku, berkelok-kelok, mendaki dan menurun. Pembangunan jalan tidak mengikuti alur gunung atau bukit akan tetapi bukit diratakan dan dilintasi dengan terowongan. Kondisi itu membuat berjalan di jalanan kota Makkah menjadi nyaman, terasa bukan seperti di pegunungan yang gersang dan cadas.

Selaras, serasi dan seirama dengan itu, bagi umat Islam, jabal-jabal di Makkah bukan sekadar pemandangan alam gersang akan tetapi memiliki nilai spiritual dalam hidup dan kehidupan beragama. Jabal-jabal yang ada di Makkah adalah saksi bisu, monumen abadi, dan “panggung” tempat transisi sejarah peradaban Islam.

Dari begitu banyak jabal di kota Makkah ada beberapa jabal paling bersejarah dan memiliki nilai penting bagi umat Islam dan itu menjadi kunjungan bagi jemaah haji dan umroh serta keinginan semua umat Islam untuk dapat berkunjung dan melihat langsung jabal-jabal tersebut.

Jabal yang ada di kota Makkah itu seperti Jabal Nur yang berjarak sekira 6 kilometer di sebelah utara dari Masjidil Haram. Jabal Nur merupakan menara cahaya tempat lahirnya Islam. Jabal Nur dapat diartikan Gunung Cahaya dimana bukit yang paling menggetarkan jiwa.

Jabal Nur, bermula cahaya Islam datang, Iqra’ bacalah. Wahyu pertama. (Foto: Fadmin Malau)

Jabal atau bukit Nur itu dengan tinggi sekira 642 meter dari permukaan laut akan tetapi meskipun dinilai tidak terlalu tinggi Jabal Nur posisinya sangat curam dimana memiliki kondisi “medan” yang sangat curam dan berbatu. Artinya, berdiri tegak dengan curam pada posisi datar dan bukit menjulang tinggi sehingga pada puncak bukit mengerucut ke langit.

Untuk itu di puncak bukit atau Jabal Nur ada celah berbentuk gua. Dalam sejarah celah berbentuk gua itu disebut Gua Hira. Dalam Gua Hira itu Nabi Muhammad SAW tersembunyi dari keramaian. Gua Hira tempat yang sunyi dan jauh dari hiruk-pikuk jahiliyah Makkah, Nabi Muhammad SAW menyendiri (tahannuts) mencari kebenaran. Kemudian pada suatu malam di bulan Ramadhan, kegelapan gua itu runtuh oleh pancaran cahaya wahyu pertama yakni Iqra’! atau Bacalah!

Mengapa dinamakan Jabal Nur? Pertanyaan ini terjawab karena di jabal ini bermula cahaya Islam itu datang. Di jabal ini cahaya Islam, hidayah, dan ilmu pengetahuan pertama kali memancar ke seluruh alam semesta. Iqra’! atau Bacalah adalah manifestasi dari semua aktivitas di bumi yang mengubah wajah peradaban manusia.

Kemudian ada Jabal Thaur, jabal di kota Makkah yang menjadi saksi bisu strategi dan mukjizat hijrah. Jabal Thaur rangkaian dari Jabal Nur. Hal itu karena Jabal Nur adalah tempat Islam dimulai sedangkan Jabal Thaur adalah bukit yang menyelamatkan masa depan Islam.

Sama dengan Jabal Nur, ternyata Jabal Thaur juga terjal dengan “medan” yang curam. Jabal Thaur berada di bagian selatan kota Makkah, bukit atau Jabal Thaur memiliki tiga puncak yang saling berdekatan dan terkenal dengan “medan”-nya yang sangat terjal.

Sejarah mencatat di bukit atau Jabal Thaur ini juga terdapat Gua Thaur, tempat persembunyian Rasulullah Muhammad SAW dan sahabat setianya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, selama tiga hari tiga malam saat dikejar oleh para algojo kafir Quraisy yang ingin membunuh mereka.

Allah SWT maha kuasa, ketika Nabi Muhammad SAW berada di Gua Thaur, keajaiban Allah bekerja lewat hal-hal sederhana. Ada sarang laba-laba, ada burung dara yang bertelur di mulut gua yang hal itu membuat nalar manusia bekerja secara logika. Kondisi yang ada maka akal manusia bekerja secara logika, tidak mungkin ada manusia di dalam Gua Thaur maka Allah SWT mengecoh para pengejar yang sudah berdiri tepat di depan gua.

Makna yang tersimpan pada Jabal Thaur adalah monumen tentang pentingnya ikhtiar, strategi yang matang, dan kepasrahan total (tawakkal) seorang hamba kepada Sang Pencipta, Allah SWT.

Jamaah umroh Miqot Awal Hidayah Travel & Hajj Agency Medan mendengarkan kisah Jabal Nur dari ustad Ariyanda Septian dan ustad Ahmad Sidiq di Jabal Nur (Foto: Fadmin Malau)

Selanjutnya ada Jabal Rahmah dimana jabal itu merupakan episentrum cinta dan kesempurnaan agama. Jabal Rahmah atau bukit kasih sayang adalah sebuah bukit kecil setinggi 70 meter yang berdiri anggun di tengah luasnya Padang Arafah. Bukit atau Jabal Rahmah memancarkan aura spiritual yang syahdu dan penuh kehangatan. Di sinilah, ribuan tahun lalu, Nabi Adam AS dan Ibnu Hawa dipertemukan kembali oleh Allah setelah ratusan tahun terpisah pasca diturunkan ke bumi.

Kota Makkah yang berbukit-bukit batu cadas yang kuat dan kokoh tak khawatir akan longsor dan aman menatap kota Makkah dari ketinggian jabal. Ketika seorang pengunjung, jemaah umroh atau jemaah haji berdiri di kaki atau puncak jabal-jabal maka angin gurun yang berembus seolah membisikkan kembali gema suara masa lalu.

Pastinya ketika menatap Makkah dari atas jabal membuat kita sadar bahwa setiap jengkal tanah cadas itu telah dibasahi oleh keringat, darah, dan air mata perjuangan dalam menegakkan kalimat Laa ilaha illallah. Makkah tanah haram adalah wilayah bumi yang menembus langit yang berlandaskan jabal-jabal menjulang tinggi di tanah haram.@

***

(Bersambung pada Jum’at pekan depan; Menjemput rindu di Tanah Haram……)

Scroll to Top