Mengenang Lima Tahun Meninggalnya Eka Tjipta Widjaja

Eka Tjipta Widjaja
Eka Tjipta Widjaja

Oleh: Fadmin Malau

MENGENANG lima tahun meninggalnya Eka Tjipta Widjaja pada Sabtu 26 Januari 2019 lalu, menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Kini bulan Januari 2024 dan EGINDO.co akan menyajikan kisah perjalanan hidup Eka Tjipta Widjaja secara bersambung setiap hari.

Kisah hidup adalah perjalanan waktu. Seratus tahun bukan waktu yang singkat, satu abad telah berlalu meninggalkan jejak-jejak masa lalu, menorehkan jalan kepada masa depan. Seratus tahun bagi Oei Ek Tjhong atau yang bernama Eka Tjipta Widjaja telah berhasil menorehkan keberhasilan Pulp (bubur kertas) dan Paper (kertas) Indonesia. Sumbangsih untuk negeri tercinta, Indonesia hingga dunia melalui putra dan cucu yang tekun mengembangkan bisnis.

Seiring dengan itu Indonesia berhasil berada pada posisi 10 (sepuluh) besar produsen pulp and paper terbesar di dunia. Bila bicara Pulp and Paper di Indonesia maka tersebut nama Eka Tjipta Widjaja, memiliki perjalanan hidup yang panjang berliku, dari kota Makassar Provinsi Selawesi Selatan pindah ke Surabaya dan akhirnya menetap di Jakarta.

Awalnya di Makassar Eka Tjipta Widjaja membantu ayahnya berjualan untuk membayar utang kepada renternir yang dipinjam sebagai modal, bekerja keras, berjualan di toko selama dua tahun untuk melunasi utang utang sang ayah. Tidak ada pilihan lain harus bekerja keras, hanya lulusan sekolah dasar di Makassar karena hidup serba kekurangan.

Baca Juga :  Elon Musk Mundur Sebagai CEO Twitter Setelah Ada Pengganti

Gigih membantu orangtua berjualan di Kota Makassar, berjualan permen, kue dan berbagai barang yang ada di toko ayahnya dengan cara bersepeda berkeliling Kota Makassar. Bermodalkan keuletan dan kegigihan pada usia 15 tahun menjadi pemasok kembang gula dan biskuit. Berkat kerja keras dan pantang menyerah keberhasilan diraihnya. Dalam hitungan bulan Eka Tjipta yang dulu menggunakan sepeda akhirnya membeli becak untuk menjajakan barang dagangannya.

Ketika Jepang datang menyerbu Kota Makassar, Eka Tjipta Widjaja tidak putus asa, tantangan datang menghadang tetapi Eka Tjipta Widjaja melihat dalam tantangan itu ada peluang. Pasalnya, di daerah itu truk-truk tentara Jepang membuang Tepung, Semen dan Gula yang masih ada dalam kondisi baik.

Muncul tantangan, bagaimana caranya mendekati tentara Jepang, Eka Tjipta Widjaja berjualan makanan dan minuman di lokasi tentara Jepang membuang Tepung, Semen dan Gula. Eka Tjipta Widjaja berjualan makanan dan minuman sambil mendekati tentara Jepang, melobby agar Tepung, Semen dan Gula yang dibuang itu bisa diberi kepadanya.

Akhirnya, pimpinan tentara Jepang mengizinkan mengambil Tepung, Semen dan Gula yang dibuang itu untuk dirinya. Eka Tjipta Widaja membawa barang-barang tersebut ke rumahnya dan jadilah dia sebagai kontraktor pembuat kuburan orang kaya sebab sudah memiliki banyak semen, besi dan beton.

Baca Juga :  Semarak Ramadan, Kompetisi Foto #siAPPuasa Bersama Keluarga

Bahan baku habis, Eka Tjipta Widjaja berhenti menjadi kontraktor membuat kuburan orang kaya dan keuntungan sebagai kontraktor menjadi pedagang kopra. Berlayar berhari-hari ke Selayar atau daerah Sulawesi Selatan dan daerah daerah sentra kopra agar mendapatkan kopra yang harganya murah. Namun, Jepang mengeluarkan aturan berdagang kopra, Eka Tjipta Widjaja mengalami kerugian besar.

Ketika Indonesia merdeka, kondisi perekonomian Indonesia mulai bangkit. Jiwa seorang Entrepreneurs terus membara. Eka Tjipta Widjaja, membuka usaha bergerak dalam bisnis kertas, membeli PT. Indah Kiat dan pabrik kertas yang dibelinya itu berkembang.

Eka Tjipta Widjaja menjadi seorang entrepreneurs berkat kegigihan, keuletan dan jiwa pantang menyerah dengan keadaan. Prinsipnya setiap tantangan yang menghadang pasti ada peluang. Baginya dalam kesulitan apapun yang dihadapi dalam menjalankan bisnis, asal punya keinginan untuk berjuang, pasti semua kesulitan itu dapat diatasi.

Untuk mewujudkan prinsip hidupnya itu harus berlaku jujur, menjaga kredibilitas, bertanggungjawab, baik terhadap keluarga, pekerjaan dan lingkungan sekitar. Dalam menjalani itu harus hemat bukan pelit atau kikir. Hidup hemat adalah hidup yang tidak berfoya-foya, tidak hura-hura.

Eka Tjipta Widjaja yakin dengan “Menanam kebaikan maka akan menuai kesejahteraan” atau “Good deeds create good seeds” Kini, seratus Tahun Eka Tjipta Widjaja untuk Pulp and Paper Indonesia. Artinya, lewat produksi pulp dan kertas Indonesia dikenal dunia. Produksi Pulp dan Kertas itu lewat unit usaha Asia Pulp and Paper (APP) yang kini menjadi produsen kertas dan bubur kertas terbesar kedua di dunia.

Baca Juga :  APP Dukung Muara Angke, Jadi Pusat Lingkungan Di Jakarta

Kini, seratus tahun Eka Tjipta Widjaja untuk Pulp and Paper Indonesia. Eka Tjipta Widjaja membangun Sinarmas untuk Indonesia. Eka Tjipta Widjaja berkontribusi untuk bangsa dan negara melalui Asia Pulp dan Paper. Indonesia dikenal dunia lewat Eka Tjipta Widjaja yang mendirikan industri pengolahan produksi pemisahan serat dari bahan baku berserat yakni bahan kayu, non kayu maupun kertas bekas untuk pulp dan kertas untuk level nasional dan internasional, mendunia.

Karya dan jasa Eka Tjipta Widjaja nyata bagi bangsa dan negara Indonesia buat generasi mendatang meskipun kini Eka Tjipta Widjaja telah tiada, meninggalkan kita semua pada Sabtu 26 Januari 2019 lalu, menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Tak ada gading yang tak retak, tak ada karya yang sempurna adalah semboyan untuk menyatakan bahwa kisah Eka Tjipta Widjaja yang akan ditampilkan di EGINDO.co setiap hari kedepan meskipun masih memiliki banyak kekurangan. Selamat membaca. (BERSAMBUNG besok bagian kedua)

***

Bagikan :