Mengenal Tradisi Unik Barapan Kebo ala Sumbawa

Barapan Kebo 1

Sumbawa | EGINDO.co – Jika di Madura memiliki Karapan Sapi serta Sumatera Barat mempunyai Pacu Jawi sebagai tradisi, tidak ketinggalan Sumbawa juga memiliki tradisi Barapan Kebo / Karapan Kerbau yang sudah berlangsung secara turun temurun.

Tepatnya di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, tradisi Barapan Kebo tidak hanya diselenggarakan di Pamulung akan tetapi eksis juga di Desa Moyo Hulu, Desa Senampar, Desa Poto, Desa Lengas, Desa Batu Bangka, Desa Maronge hingga Desa Utan sebagai event budaya khas Sumbawa.

Konon acara ini bermula ketika para petani mulai merasa bosan dan jenuh saat membajak sawahnya menggunakan kerbau. Akhirnya muncul ide untuk memberikan hiburan disela aktivitas para petani tersebut yaitu mengadu kerbau-kerbau terbaik dalam sebuah perlombaan yang disebut Barapan Kebo.

Barapan Kebo ala Sumbawa ini diselenggarakan pada sebelum dan setelah musim panen sebagai wujud rasa syukur masyarakat Sumbawa kepada Yang Maha Kuasa, sekaligus menjadi penyambung silaturahmi antar masyarakat Sumbawa terhadap sesama dengan berbagi kebahagiaan.

Lokasi atau arena Barapan Kebo adalah sawah yang telah basah atau sudah digenangi air sebatas lutut. Perlakuan pemilik kerbau jargon Barapan Kebo sama seperti perlakuan audisi Main Jaran. Kerbau-kerbau peserta dikumpulkan 3 hari atau 4 hari sebelum event budaya ini digelar, untuk diukur tinggi dan usianya. Hal ini dimaksudkan, agar dapat ditentukan dalam kelas apa kerbau-kerbau tersebut dapat dilombahkan. Durasi atau lamanya event adalah ditentukan dari seberapa banyak jargon Kerbau yang ikut dalam event budaya Barapan Kebo.

Foto : Indonesia Kaya

 

Istilah – istilah yang digunakan pada aksesoris dan moment budaya Barapan Kebo juga tak kalah unik, diantaranya adalah :

  • Noga : kayu penjepit leher penyatu sepasang jargon Barapan.
  • Kareng : tempat berdiri atau bilah pijakan kaki sang joki barapan yang dirakit berbentuk segitiga.
  • Mangkar : pelecut atau pecut pemacu kerbau Jargon.
  • Sandro : sebutan untuk orang-orang sakti dengan ilmu supranatural ala Sumbawa yang dimiliki dengan pakaian khas berwarna serba hitam.
  • Lawas : lantunan syair pantun daerah Sumbawa yang dilakukan diantara teriakan kemenangan sang joki, saat kerbaunya mampu menyentuh dan menjatuhkan tanpa sedikitpun terjatuh dari kareng-nya.
  • Ngumang : sesumbar kemenangan sebagai pemikat wanita penonton barapan dan merayu-rayu dengan lantunan lawas yang dikuasainya.

Aturan Barapan Kebo sendiri terdiri dari dua kerbau yang dipasangi kayu pada lehernya atau yang biasa disebut “Noga” sehingga dua kerbau tersebut dapat berlari beriringan. Kemudian ditengah kayu tersebut dipasang lagi kayu yang memanjang ke belakang sebagai tempat berpijak para joki yang disebut “Kareng”. Masing-masing joki juga dibekali dengan cambuk.

Barapan Kebo dilakukan tidak dengan melepas semua kerbau peserta lomba, tapi dilepaskan satu-satu. Kebo pemenang adalah kebo tercepat dan tepat mengenai Saka yang dipasang di garis finish.

Saat diadakannya Barapan Kebo, masyarakat Sumbawa dan sekitarnya akan beramai-ramai menyaksikan jalannya perlombaan. Serunya pertandingan menjadi tontonan yang sangat menarik. Apalagi area persawahan yang berlumpur kadang membuat wajah para joki menjadi hitam terkena lumpur dan ini sangat ditunggu oleh para penggemar barapan kebo karena mengundang gelak tawa.

Foto : Indonesia Kaya

 

Tugas joki di area barapan kebo tidak hanya mengendarai kerbau. Kecepatan dan cara menyeimbangkan tubuh dalam mengendarai kerbau untuk mengenai saka juga hal yang tak mudah dilakukan. Saka yang merupakan tongkat kayu ditancapkan di salah satu sudut sawah menjadi tonggak para joki untuk bisa menjatuhkan atau mengenai saka dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Hal-hal yang membuat Barapan Kebo jauh berbeda dari Karapan Sapi Madura atau Mekepung di Bali yakni pentas para Sandro (Seni Beladiri) beradu ilmu, masing-masing kerbau memiliki dukun tersendiri. Tugas para sandro adalah memastikan kerbau lawan tidak mengenai Saka di garis finish, bahkan membuat kerbau lain berbelok dan lari tidak karuan. Tidak heran bahwa ajang barapan kebo ini menjadi pertarungan para sandro.

Bagi masyarakat Sumbawa, jika kerbaunya menang akan menjadi simbol kebanggan tersendiri. Seringkali hadiah yang ditawarkan dalam event ini tidak terlalu besar, bahkan biaya operasional untuk mengikuti event ini jauh lebih besar daripada hadiah yang ditawarkan. Akan tetapi, kerbau pemenang selain memberikan nilai gengsi pada pemiliknya, harganya bisa melambung tinggi hingga ratusan juta rupiah.

AR