Mengenal Suku Ternate, Tradisi Menenangkan Alam

Suku ternate

Ternate | EGINDO.co – Suku Ternate adalah suku yang berasal dari provinsi Maluku Utara, tepatnya di Kota Ternate. Populasi mereka mencapai 50.000 jiwa. Selain berdiam di pulau asalnya, orang Ternate juga berdiam di daerah lain, misalnya di pulau Bacan dan pulau Obi yang termasuk wilayah kabupaten Halmahera Selatan, serta wilayah lain di dalam dan di luar Provinsi Maluku Utara.

 

Kepercayaan Suku Ternate

Sebelum agama Islam masuk ke wilayah Ternate, suku Ternate terbagi dalam kelompok-kelompok masyarakat. Masing-masing kelompok kerabat suku Ternate dipimpin oleh seseorang dengan sebutan mamole. Seiring dengan masuknya Islam. Mamole bergabung menjadi satu konfederasi yang dipimpin oleh kolano. Kemudian, setelah Islam menjadi lebih mantap, struktur kepemimpinan kolano berubah menjadi kesultanan.

Dalam struktur kolano, ikatan genealogis dan teritorial berperan sebagai faktor pemersatu, sedangkan dalam kesultanan agama Islamlah yang menjadi faktor pemersatu. Dalam struktur kesultanan, selain lembaga tradisional yang sudah ada, dibentuk pula lembaga keagamaan. Kesultanan Ternate masih ada sampai saat ini meskipun hanya dalam arti simbolik. Namun belakangan ini kesultanan Ternate tampak bangkit kembali.

Umumnya orang Ternate beragama Islam. Pada masa lalu kesultanan merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam di wilayah Indonesia bagian Timur.

 

Mata Pencaharian Orang Ternate

Pada zaman dulu Ternate terkenal sampai ke Eropa sebagai daerah penghasil rempah-rempah, seperti cengkeh, pala, kopra, kulit manis (Casia vera) dan sebagainya. Pada saat itu mereka masih senang bercocok tanam, dengan tanaman pokok padi ladang, ubi dan sayur-sayuran. Pada masa sekarang mereka sudah menetap dengan menanam padi, jagung, kacang-kacangan, ketela, ubi dan menangkap ikan di sungai dan lautan luas di sekitar mereka. Tanaman komoditi seperti pala, kopra, cengkeh, kulit manis, coklat, dan kopi tetap mempunyai peranan penting bagi ekonomi rakyat Ternate.

Orang Ternate juga sudah sejak lama mengembangkan kerajinan membuat wadah dari tembikar, membuat hiasan dan anyaman dari bambu dan pandan. Daerah tersebut juga telah menjadi penghasil ikan tongkol terbesar setelah Ambon. Sampai sekarang, menurut sensus 2010 bahwa 97% suku Ternate adalah orang Islam Sunni dan sedikit yang menganut agama Kristen Protestan.

 

Masyarakat Suku Ternate

Dalam hubungan garis keturunan orang Ternate menganut paham patrilineal, tetapi dalam kehidupan sehari-hari hubungan seseorang dengan kerabat-kerabatnya lebih bersifat bilateral.

Orang Ternate telah memeluk agama Islam sebelum orang Eropa datang ke sana. Agama Islam dibawa oleh para pedagang rempah-rempah dari Sumatera dan Jawa. Pada zaman Kesultanan Ternate wilayah tersebut terbagi ke dalam beberapa negeri (distrik) yang dikepalai oleh seorang pembesar kerajaan yang disebut sangaji. Sebuah Negeri membawahi pula sejumlah desa atau kampung yang biasanya dipimpin masing-masing oleh seorang kimetaha. Pada masa sekarang dalam pelapisan sosial masyarakat tidak terasa lagi adanya kelas-kelas sosial yang tajam seperti zaman kerajaan dulu.

Saat ini masyarakat Ternate membutuhkan bantuan penanam modal untuk menggali dan mengelola hasil-hasil kekayaan alam daerah yang berlimpah. Bidang kehutanan, kelautan dan pertanian merupakan tiga bidang utama bagi orang Ternate.

Dari tiga kekuatan utama tersebut, hanya sektor kehutanan yang telah digarap besar-besaran. Daerah Ternate juga memiliki kekayaan wisata alam dan wisata budaya seperti bangunan bekas benteng Portugis, istana Kesultanan Ternate, dan lain-lain. Hal tersebut membuat sektor pariwisata sangat potensial untuk dikembangkan, baik melalui pembangunan sarana transportasi maupun akomodasi yang memadai.

 

Tradisi Kololi Kie

Dalam kepercayaan masyarakat Maluku Utara, gunung dianggap sebagai representasi penguasa alam. Anggapan tersebut menempatkan keberadaan gunung dihormati. Dalam hal ini, masyarakat Ternate memiliki sebuah ritual yang dinamakan Kololi Kie.

Kololi Kie memiliki arti ‘keliling gunung’, merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Ternate yang bertujuan untuk menyapa dan berinteraksi dengan alam pada waktu-waktu tertentu. Meletusnya gunung Gamalama pada 4 Oktober lalu membawa satu kewaspadaan khusus bagi masyarakat Ternate. Pasalnya, meletusnya gunung Gamalama memang menimbulkan bencana yang tak bisa diremehkan, terutama bagi warga Ternate.

Gunung tersebut merupakan salah satu gunung paling aktif di Indonesia dan telah meletus lebih dari 60 kali. Letusan terbesar terjadi pada 1775 yang berimbas pada lenyapnya desa Soela Takomi. Lebih dari 140 orang tercatat tewas. Untuk itulah, masyarakat setempat menggelar prosesi adat khusus untuk ‘menenangkan’ gunung Gamalama.

Ritual Kololi Kie sudah dilakukan oleh masyarakat Ternate sejak ratusan tahun lalu. Prosesi adat tersebut merupakan salah satu dari dua ritual tertua di Ternate. Upacara adat tersebut juga dianggap satu paket dengan ritual “Fere Kie” yaitu kegiatan ritual naik ke puncak gunung Gamalama untuk berziarah.

Dalam tradisi Kololi Kie, masyarakat akan mengitari gunung Gamalama dengan menggunakan kapal yang telah dihias sedemikian rupa. Di dalam kapal juga telah disiapkan sesajen berbagai jenis makanan yang akan dilemparkan ke laut. Sang pemimpin adat pun kemudian memulainya dengan ucapan doa-doa kepada sang Pencipta. Harapan – harapan atas keselamatan jiwa pun terselip selama kapal berlayar.

Di tradisi yang dilakukan dalam rangka ‘menenangkan’ gunung Gamalama dilakukan tanpa adanya kisruh antar agama. Ritual tersebut oleh masyarakat setempat masih dianggap sebagai salah satu tradisi unik masyarakat yang harus dijaga eksistensinya. Para pemimpin adat selalu menekankan bahwa hal tersebut merupakan satu tradisi masyarakat yang harus dijaga eksistesinya.

(AR/dari berbagai sumber)