Mengenal Suku Samin, Poligami Sebuah Dosa Besar

Suku Samin

Blora | EGINDO.co – Suku Samin adalah sekelompok masyarakat asli dari Pulau Jawa yang mengikuti ajaran Samin Surosentiko. Pada masa kolinialisme Hindia Belanda di Indonesia, suku Samin menjadi kelompok yang paling gencar mengadakan perlawanan dalam bentuk lain di luar kekerasan. Bentuk perlawanan tersebut diantaranya adalah menolak membayar pajak dan menolak segala peraturan yang dibuat oleh pemerintah kolonial.

Suku Samin sangat membenci kolonialisme karena merasa hanya dimanfaatkan oleh Hindia Belanda. Mereka memutuskan untuk menutup diri hingga akhirnya pada tahun 1970-an mereka baru mengetahui bahwa Indonesia telah merdeka dari segala bentuk kolonialisme. Suku Samin kini banyak terkonsentrasi di daerah Blora, Jawa Tengah dan Bojonegoro, Jawa Timur.

Jumlah mereka tidak banyak dan tinggal di kawasan pegunungan Kendeng di perbatasan dua provinsi. Kelompok Samin lebih suka disebut wong sikep, karena kata Samin bagi mereka mengandung makna negatif.

 

Ajaran Saminisme

Suku Samin menganut ajaran Saminisme, salah satu agama asli nusantara di Pulau Jawa. Pengikut Saminisme memiliki beberapa ajaran yang selalu dipegang erat. Tidak ada yang aneh maupun menyimpang dari ajaran Saminisme. Sama seperti agama lainnya, Saminisme mengajarkan kebaikan kepada sesama penganutnya bahkan juga diluar penganutnya. Ajaran tersebut adalah sebagai berikut. :

  • Tidak bersekolah, tidak berpoligami, dan tidak berdagang.
  • Mengenakan iket, semacam kain yang diikatkan di kepala.
  • Menolak kapitalisme.
  • Agama adalah senjata dan pegangan hidup. Semua agama adalah sama maka suku Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Yang terpenting adalah tabiat hidupnya.
  • Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan iri hati, dan jangan mengambil milik orang.
  • Sabar dan tidak boleh sombong.
  • Manusia harus memahami makna kehidupannya karena hidup sama dengan roh yang hanya satu dan dibawa abadi selamanya. Kepercayaan Suku Samin, orang yang meninggal tidaklah mati namun hanya menanggalkan pakaiannya.
  • Menjaga mulut saat berbicara, jujur dan saling menghormati.

 

Sistem Kekerabatan

Dalam hal kekerabatan masyarakat Samin memiliki persamaan dengan kekerabatan Jawa pada umumnya. Sebutan-sebutan dan cara penyebutannya sama. Hanya saja mereka tidak terlalu mengenal hubungan darah atau generasi lebih ke atas setelah Kakek atau Nenek.

Hubungan ketetanggaan baik sesama Samin maupun masyarakat di luar Samin terjalin dengan baik. Dalam menjaga dan melestarikan hubungan kekerabatan masyarakat Samin memiliki tradisi untuk saling berkunjung terutama pada saat satu keluarga mempunyai hajat sekalipun tempat tinggalnya jauh.

 

Kebudayaan Suku Samin

Seperti paham agama lain, suku Samin juga memiliki kitab suci. Kitab suci tersebut adalah Serat Jamus Kalimasada yang terdiri atas beberapa buku, antara lain Serat Punjer Kawitan, Serat Pikukuh Kasajaten, Serat Uri-uri Pambudi, Serat Jati Sawit, dan Serat Lampahing Urip.

Ajaran dalam buku Serat Pikukuh Kasajaten (pengukuhan kehidupan sejati) ditulis dalam bentuk puisi tembang, yaitu suatu genre puisi tradisional kesusasteraan Jawa.

Dengan berpedoman dengan kitab itulah orang Samin ingin membangun sebuah negara batin yang jauh dari sikap drengki srei (jangan dengki), tukar padu (suka bertengkar), dahpen kemeren (jangan iri). Sebaliknya, mereka hendak mewujudkan perintah “Lakonana sabar trokal. Sabare dieling-eling. Trokali dilakoni.” yang artinya manusia hidup harus sabar, kesabaran menjadi pengingat, dan jangan sombong.

 

Tradisi dan Adat Perkawinan

Upacara tradisi yang ada pada masyarakat Samin antara lain nyadran (bersih desa) sekaligus menguras sumber air pada sebuah sumur tua yang banyak memberi manfaat pada masyarakat. Tradisi selamatan yang berkaitan dengan daur hidup yaitu kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian. Mereka melakukan tradisi tersebut secara sederhana.

Bagi masyarakat suku Samin, perkawinan adalah sebuah jalan untuk meraih hidup mulia dan menghasilkan anak-anak berbudi luhur. Suku Samin tidak mengenal penghulu, jika kedua mempelai sudah sepakat maka sang pria akan mengucapkan semcam ijab kabul dihadapan masyarakat Suku Samin lainnya.

Masyarakat suku Samin menganggap bahwa hubungan perkawinan adalah sesuatu yang sakral dan tidak boleh dikotori oleh hal tercela apapun. Perselingkuhan maupun poligami adalah sebuah dosa besar yang pantang dilakukan oleh suku Samin. Namun ketika pasangan hidup meninggal, maka diijinkan untuk menikah lagi.

Berkat ajaran tersebut membuat kehidupan masyarakat suku Samin dapat menjalani hidup dengan baik dan tidak mendewakan kehidupan dunia. Sesuatu yang sangat langka dan sulit ditemukan di zaman modern seperti sekarang. Dari masyarakat Suku Samin dapat dipelajari bahwa harta dan dunia bukanlah penentu kebahagiaan.

 

Kehidupan Suku Samin

Masyarakat Samin biasanya mengelompok dalam satu deretan rumah-rumah agar memudahkan untuk berkomunikasi. Rumah tersebut terbuat dari kayu terutama kayu jati dan juga bambu, jarang ditemui rumah berdinding batu bata. Bangunan rumah relatif luas dengan bentuk limasan, kampung, atau joglo. Penataan ruang sangat sederhana dan masih tradisional, terdiri dari ruang tamu yang cukup luas, kamar tidur, dan dapur. Kamar mandi dan sumur terletak agak jauh dan biasanya digunakan oleh beberapa keluarga. Kandang ternak berada di luar, di samping rumah.

Pandangan masyarakat Samin terhadap lingkungan sangat positif, mereka memanfaatkan alam (misalnya mengambil kayu) secukupnya saja dan tidak pernah mengeksploitasi. Hal tersebut sesuai dengan pikiran masyarakat Samin yang cukup sederhana, tidak berlebihan dan apa adanya. Tanah bagi mereka ibarat ibu sendiri, artinya tanah memberi penghidupan kepada mereka. Sebagai petani tradisional maka tanah mereka perlakukan sebaik-baiknya. Dalam pengolahan lahan (tumbuhan apa yang akan ditanam) mereka hanya berdasarkan musim saja yaitu penghujan dan kemarau. Masyarakat Samin menyadari isi dan kekayaan alam habis atau tidak tergantung pada pemakainya.

 

(AR/dari berbagai sumber)