Mengenal Suku Dayak Dengan Ragam Kebudayaannya

Suku Dayak

Kalimantan | EGINDO.co – Suku Dayak berasal dari Kalimantan dan terdiri dari berbagai etnis suku. Masing-masing suku memiliki dialek, kebiasaan, adat, wilayah dan budayanya sendiri. Dulu budaya masyarakat Dayak adalah budaya maritim atau bahari. Hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan “perhuluan” atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya.

Berdasarkan data sensus 2010, suku Dayak tersebar di seluruh provinsi Kalimantan mulai dari Kalimantan Barat, Tengah, Selatan, Timur, hingga Utara. Sebagian dari mereka juga tersebar di negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.

Suku Dayak terbagi dalam enam rumpun yakni rumpun Klemantan alias Kalimantan, rumpun Iban, rumpun Apokayan yaitu Dayak Kayan, Kenyah dan Bahau, rumpun Murut, rumpun Ot Danum-Ngaju dan rumpun Punan. Namun secara ilmiah, para linguis melihat 5 kelompok bahasa yang dituturkan di pulau Kalimantan dan masing-masing memiliki kerabat di luar pulau Kalimantan:

  • “Barito Raya” (33 bahasa, termasuk 11 bahasa dari kelompok bahasa Madagaskar, dan Sama-Bajau termasuk satu suku yang berdiri dengan nama sukunya sendiri yaitu Suku Paser.
  • “Dayak Darat” (13 bahasa), termasuk bahasa Rejang di Bengkulu.
  • “Borneo Utara” (99 bahasa), termasuk bahasa Yakan di Filipina serta satu suku yang berdiri dengan nama sukunya sendiri yaitu Suku Tidung.
  • “Sulawesi Selatan” dituturkan 3 suku Dayak di pedalaman Kalbar: Dayak Taman, Dayak Embaloh, Dayak Kalis disebut rumpun Dayak Banuaka.
  • “Melayik” dituturkan: Dayak Meratus/Bukit (alias Banjar arkhais), Dayak Iban (dan Saq Senganan), Dayak Keninjal, Dayak Bamayoh (Malayic Dayak), Dayak Kendayan (Kanayatn). Beberapa suku asal Kalimantan beradat Melayu yang terkait dengan rumpun ini sebagai suku-suku yang berdiri sendiri yaitu Suku Banjar, Suku Kutai, Suku Berau, Suku Sambas, dan Suku Kedayan.

 

Asal Usul Suku Dayak

Jika ditinjau dari asal – usul tempat tinggal, Coomans (1987) didukung oleh Inoue (1999) menyatakan bahwa suku Dayak adalah keturunan imigran dari Propinsi Yunnan di China Selatan tepatnya di Sungai Yangtse Kiang, Sungai Mekhong dan Sungai Menan. Sebagian dari kelompok tersebut menyeberang ke semenanjung Malaysia sebagai batu loncatan pertama dan kemudian menyeberang ke bagian Utara Pulau Kalimantan.

Seorang tokoh Kayan juga menjelaskan bahwa suku dayak adalah ras Indo China yang bermigrasi ke Indonesia pada abad ke -11.

 

Pembagian Sub Etnis

Suku Dayak yang masih mempertahankan adat budayanya akhirnya memilih masuk ke pedalaman dikarenakan arus migrasi yang kuat dari para pendatang. Karena itulah suku Dayak terpencar-pencar dan terbagi sub-sub etnisnya.

Kelompok suku Dayak terbagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub (menurut J. U. Lontaan, 1975). Masing-masing sub suku Dayak di pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip, merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbedaan adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas. Masa lalu masyarakat yang kini disebut suku Dayak, mendiami daerah pesisir pantai dan sungai-sungai di tiap-tiap pemukiman mereka.

Etnis Dayak Kalimantan menurut seorang antropologi J.U. Lontaan, 1975 dalam Bukunya Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil, yang menyebar di seluruh Kalimantan.

 

Kepercayaan Suku Dayak

Masyarakat rumpun Dayak Ngaju dan rumpun Dayak Ot Danum menganut agama leluhur yang diberi nama oleh Tjilik Riwut sebagai agama Kaharingan yang memiliki ciri khas adanya pembakaran tulang (Ijambe) dalam ritual penguburan sekunder. Sedangkan agama asli rumpun Dayak Banuaka tidak mengenal adanya pembakaran tulang jenazah. Bahkan agama leluhur masyarakat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan lebih menekankan ritual dalam kehidupan terutama upacara/ritual pertanian maupun pesta panen yang sering dinamakan sebagai agama Balian.

 

Kebudayaan Suku Dayak

Suku Dayak memiliki beragam kebudayaan seperti contohnya upacara adat yang masih sering dilakukan sampai sekarang. Beberapa upacara adat tersebut antara lain :

  • Upacara Tiwah
  • Ngehawa’k
  • Ngugu Tahu
  • Dahau
  • Beliatn

Terdapat 2 bagian pakaian adat suku Dayak yaitu pakaian adat untuk kaum wanita dan pakaian adat untuk kaum lelaki. Sepei sadaq adalah sebutan baju adat untuk kaum laki-laki. Ciri-cirinya yaitu memakai ikat kepala terbuat dari pandan yang biasanya dikenakan oleh orang tua. Baju atasannya menggunakan rompi dan bawahannya berupa cawan bisa disebut juga abed ko aq. Selain pakaiannya juga disertai dengan mandau yang diikat pada pinggangnya.

Ta’a adalah sebutan untuk baju adat wanita suku Dayak. Pakaiannya bermotif yang tidak jauh dari pakaian adat laki-laki. Hanya saja yang membedakannya yaitu baju atasannya. Untuk kaum wanita disebut sepei inoq. Sedangkan bawahannya berupa rok. Pakaian adat wanita memiliki manik-manik cantik yang dibuat hiasan.

 

Tradisi Penguburan Suku Dayak

Tradisi penguburan dan upacara adat kematian pada suku Dayak diatur tegas dalam hukum adat. Sistem penguburan beragam sejalan dengan sejarah panjang kedatangan manusia di Kalimantan. Dalam sejarahnya terdapat tiga budaya penguburan di Kalimantan:

  • Penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat.
  • Penguburan di dalam peti batu (dolmen).
  • Penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang.

Menurut tradisi Dayak Benuaq baik tempat maupun bentuk penguburan dibedakan:

  • Wadah (peti) mayat–> bukan peti mati: lungun, selokng dan kotak
  • Wadah tulang-beluang: tempelaaq (bertiang 2) dan kererekng (bertiang 1) serta guci

Berdasarkan tempat peletakan wadah (kuburan) Suku Dayak Benuaq:

  • lubekng (tempat lungun)
  • garai (tempat lungun, selokng)
  • gur (lungun)
  • tempelaaq dan kererekng

Pada umumnya terdapat dua tahapan penguburan:

  • Penguburan Primer
  • Penguburan Sekunder

 

(AR/dari berbagai sumber)