Mengenal Suku Banjar Dengan Filsafat Hidup Beragam

Suku Banjar

Banjarmasin | EGINDO.co – Suku Banjar adalah suku yang menempati wilayah Kalimantan Selatan, serta sebagian Kalimantan Tengah dan sebagian Kalimantan Timur. Populasi Suku Banjar dengan jumlah besar juga dapat ditemui di wilayah Riau, Jambi, Sumatra Utara dan Semenanjung Malaysia karena migrasi Orang Banjar pada abad ke-19 ke Kepulauan Melayu.

 

Asal Usul Suku Banjar

Asal-usul suku Banjar berasal dari percampuran beberapa suku, yang menjadi dominan adalah Suku Dayak bukit sebagai penduduk asli. Kesamaan tersebut dapat diidentifikasi bahasa banjar kuno sedangkan suku Melayu serta Jawa sebagai imigran yang datang secara besar-besaran yang kemungkinan sekali tidak terjadi dalam satu gelombang sekaligus. Kesimpulan tersebut di dukung oleh kenyataan yang dapat di lihat dari berbagai kesamaan dalam budaya Banjar dengan suku-suku tersebut.

Sedangkan asal nama Banjar sendiri artinya meletakkan pancing di suatu tempat agar kailnya dimakan ikan. Yang mempunyai arti dengan kehidupan sehari-hari orang Banjar pada masa lalu yaitu yang suka memancing ikan dengan cara “Membanjur”. Atau mengkail. Tetapi dari beberapa refrensi yang dikatakan oleh Alfani Daud menjelaskan bahwa kata Banjar berarti baris, dimana rumah orang Banjar yang berbaris-baris di tepi sungai barito Banjarmasin. Maka kampung tersebut disebut dengan Kampung Banjar, dan ada juga yang menjelaskan bahwa kata Banjar berasal dari Bandar yang berarti pelabuhan, maka terkenalah Banjarmasin yaitu pelabuhan yang airnya asin.

Sebutan Orang Banjar mulai digunakan sesudah tahun 1526 sejalan dengan proses islamisasi di wilayah inti Kesultanan Banjar sehingga terbentuklah 3 kelompok suku Banjar berdasarkan persfektif historisnya dengan melihat kawasan teritorialnya dan unsur pembentuknya maka suku Banjar dibagi menjadi :

  • Banjar Pahuluan adalah campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok)
  • Banjar Batang Banyu adalah campuran Melayu, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Maanyan sebagai ciri kelompok)
  • Banjar Kuala adalah campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok)

 

Islam Banjar

Inti dari Islam Banjar adalah terdapatnya karakteristik khas yang dimiliki agama Islam dalam proses sejarahnya di Tanah Banjar. Ciri khasnya adalah terdapatnya kombinasi pada level kepercayaan antara kepercayaan Islam, kepercayaan bubuhan, dan kepercayaan lingkungan. Kombinasi itulah yang membentuk sistem kepercayaan Islam Banjar. Di antara ketiga sub kepercayaan tersebut, yang paling tua dan lebih asli dalam konteks Banjar adalah kepercayaan lingkungan, karena unsur-unsurnya lebih merujuk pada pola-pola agama pribumi pra-Hindu. Oleh karena itu, dibandingkan kepercayaan bubuhan, kepercayaan lingkungan tersebut tampak lebih fleksibel dan terbuka bagi upaya-upaya modifikasi ketika dihubungkan dengan kepercayaan Islam.

Sejarah Islam Banjar dimulai seiring dengan sejarah pembentukan entitas Banjar tersebut. Menurut kebanyakan peneliti, Islam telah berkembang jauh sebelum berdirinya Kerajaan Banjar di Kuin Banjarmasin, meskipun dalam kondisi yang relatif lambat lantaran belum menjadi kekuatan sosial-politik. Kerajaan Banjar, dengan demikian, menjadi tonggak sejarah pertama perkembangangan Islam di wilayah Selatan pulau Kalimantan. Kehadiran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjar lebih kurang tiga abad kemudian merupakan babak baru dalam sejarah Islam Banjar yang pengaruhnya masih sangat terasa sampai sekarang.

 

Bahasa Banjar

Bahasa Banjar merupakan bahasa ibu Suku Banjar. Bahasa tersebut berkembang sejak zaman Kerajaan Negara Dipa dan Daha yang bercorak Hindu-Buddha hingga datangnya agama Islam di Tanah Banjar. Banyak kosakata-kosakata bahasa yang sangat mirip dengan Bahasa Dayak, Bahasa Melayu, maupun Bahasa Jawa.

Pada dasarnya Bahasa Banjar termasuk dalam rumpun bahasa Melayik Dayak seperti halnya bahasa Dayak Iban, Dayak Kanayatn, dll. Tetapi bahasa orang Banjar sekarang sudah mengalami perubahan dengan masuknya kosakata Bahasa Melayu, dan Bahasa Jawa. Bahasa Banjar asli hanya dipakai saat diselenggarakannya ritual aruh adat Kaharingan Dayak Meratus (Banjar Arkhais) oleh para Balian Kaharingan. Sebagian besar orang Banjar dan orang Meratus sekarang sudah tidak bisa lagi membahasakan bahasa asli mereka.

 

Filsafat Hidup Suku Banjar

Suku Banjar memiliki unsure filsafat dalam kehidupannya, baik yang bersifat positif maupun negatif. Antara lain :

  • Baiman. Yaitu setiap Urang Banjar meyakini adanya Tuhan/Allah.
  • Bauntung. Urang Banjar harus punya keterampilan
  • Batuah. Arti berkah atau bermanfaat bagi kehidupan orang lain.
  • Cangkal. Yaitu ulet dan rajin dalam bekerja.
  • Baik Tingkah laku. Yaitu Urang Banjar dalam pergaulan sehari-hari harus menunjukkan budi pekerti yang luhur agar dia disenangi orang lain.
  • Kompetitif individual. Yaitu orang Banjar terkenal sebagai pekerja keras dalam menggapai cita-citanya tetapi bekerja sendiri-sendiri tidak secara kolektif.
  • Materialis pragmatis. Gaya hidup Urang Banjar sekarang dikarenakan pengaruh globalisasi dengan trend hidup yang materialis-pragmatis, sehingga pola hidup Urang Banjar sangat konsumtif.
  • Sikap qanaahdan pasrah. Urang Banjar selagi muda adalah pekerja keras untuk meraih cita-citanya, tapi kalau sudah berhasil dan sudah tua hidupnya santai untuk menikmati hidup dan beribadah kepada Allah untuk mengisi waktu.
  • Haram manyarahdan waja sampai kaputing. Yaitu pantang menyerah dan tegar pendirian.

 

Kebudayaan Suku Banjar

Umumnya adat kebudayaan Banjar berakar dari adat kebudayaan Dayak Kaharingan yang setelah pengislaman massal adat kebudayaan Kaharingan tersebut disunting untuk disesuaikan dengan keyakinan baru mereka yaitu Islam.

Salah satu contohnya adalah adat baayun anak yang pada zaman dahulu adalah ritual pemberkatan anak Kaharingan dengan dibacakan mantra-mantra Balian, sekarang dalam adat Banjar yang Islam baayun anak tidak lagi menggunakan mantra-mantra Balian akan tetapi dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW.

 

Rumah Tradisional Suku Banjar

Rumah Banjar adalah rumah tradisional suku Banjar. Bangunan tersebut memiliki ciri-ciri memiliki perlambang, mempunyai penekanan pada atap, ornamental, dekoratif dan simetris. Rumah tradisonal Banjar adalah tipe-tipe rumah khas Banjar dengan gaya dan ukirannya sendiri mulai berkembang sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Dari sekian banyak jenis-jenis rumah Banjar, tipe Bubungan Tinggi merupakan jenis rumah Banjar yang paling dikenal dan menjadi identitas rumah adat suku Banjar.

 

(AR/dari berbagai sumber)