Mengenal Suku Asmat, Katanya Titisan Dewa

Suku Asmat

Papua | EGINDO.co – Suku Asmat adalah sebuah etnis di Papua yang terkenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. Populasi mereka terbagi menjadi dua yaitu yang tinggal di pesisir pantai dan yang tinggal di bagian pedalaman. Kedua populasi tersebut berbeda satu sama lain, dari dialek, cara hidup, struktur sosial serta ritual.

Sebagai contoh, dari sisi mata pencaharian mereka misalnya, suku Asmat yang berada di wilayah pedalaman biasanya mempunyai pekerjaan sebagai pemburu dan petani kebun, sedangkan mereka yang tinggal di pesisir lebih memilih menjadi nelayan. Perbedaan kedua populasi tersebut disebabkan juga oleh kondisi wilayah tempat mereka tinggal dan besarnya pengaruh masyarakat pendatang yang umumnya lebih terbuka daripada kebudayaan Asmat sendiri.

Wilayah persebaran suku Asmat dimulai dari pesisir pantai laut Arafuru hingga pegunungan Jayawijaya. Secara keseluruhan mereka menempati wilayah Kabupaten Asmat yang punya kurang lebih 7 kecamatan. Walau nampaknya dekat, namun jarak antar kampung dan kampung dengan kota kecamatan sangat jauh, bahkan perjalanannya dapat memakan 1 hingga 2 hari dengan berjalan kaki. Hal tersebut mereka lakukan bukan karena mereka tidak bisa memasukkan kendaraan ke Asmat, namun wilayah Asmat yang berawa-rawa hanya bisa dilewati dengan perahu atau berjalan kaki.

 

Asal Usul Suku Asmat

Menurut mitologi yang dipercaya oleh Suku Asmat, pada jaman dahulu kala, ada Dewa bernama Fumeripitsy turun ke bumi. Ia menjelajah bumi dan memulai petualangannya dari ufuk barat matahari terbenam. Dalam petualangannya, Sang Dewa harus berhadapan dengan seekor buaya raksasa dan mengalahkannya. Walaupun menang, sang Dewa terluka parah dan terdampar di sebuah tepian sungai.

Dalam kesakitan sang Dewa berusaha bertahan hingga akhirnya ia bertemu seekor burung Flaminggo yang berhati mulia dan merawat Sang Dewa hingga pulih dari lukanya. Setelah sembuh, sang Dewa tinggal di wilayah tersebut dan membuat sebuah rumah serta mengukir dua buah patung yang sangat indah. Ia juga membuat sebuah genderang yang sangat nyaring bunyinya untuk mengiringinya menari tanpa henti. Gerakan sang Dewa sungguh dahsyat hingga membuat kedua patung yang diukirnya menjadi hidup. Tak lama kemudian, kedua patung tersebut ikut menari dan bergerak mengikuti sang Dewa. Kedua patung tersebut adalah pasangan manusia pertama yang menjadi nenek moyang suku Asmat.

Mitos diatas membuat suku Asmat masih mempercayai bahwa mereka adalah titisan dewa hingga sekarang. Suku Asmat memang memiliki kebudayaan yang sangat dihormati. Bahkan, suku Asmat sudah dikenal hingga ke mancanegara, sehingga tidak asing bila ada peneliti-peneliti dari seluruh penjuru dunia sering berkunjung ke kampung suku Asmat. Mereka umumnya tertarik untuk mempelajari kehidupan suku Asmat, sistem kepercayaannya, serta adat istiadat yang begitu unik dari suku Asmat.

 

Kepercayaan Suku Asmat

Masyarakat Asmat mempercayai macam-macam roh yang digolongkan ke dalam 3 (tiga) jenis, yaitu :

  • Arwah nenek moyang yang baik, yang disebut Yi – ow
  • Arwah nenek moyang yang jahat, yang disebut Osbopan
  • Arwah nenek moyang yang jahat akibat orang itu mati konyol disebut Dambin – ow

Orang Asmat juga mengenal upacara keagamaan untuk berkomunikasi dengan arwah nenek moyangnya, antara lain dengan menghiasi perisai, mengukir topeng, atau pembuatan patung. Pembuatan benda-benda tersebut biasanya dimeriahkan dengan pesta makan, nyanyian dan tarian serta peragaan kisah petualangan dewa Fuumeripitsy dengan gerakan dan dialog.

 

Adat Istiadat Suku Asmat

Seperti masyarakat pada umumnya, dalam menjalankan proses kehidupannya, masyarakat Suku Asmat juga memiliki ritual atau acara-acara khusus, antara lain:

1.. Kehamilan

Saat ada orang Asmat yang hamil, sang ibu dan bayi akan dijaga dengan baik supaya sang bayi dapat lahir dengan selamat dengan bantuan ibu kandung atau ibu mertua.

2. Kelahiran

Setelah kelahiran bayi akan dilaksanakan upacara selamatan secara sederhana dengan acara pemotongan tali pusar yang memakai Sembilu, alat yang terbuat dari bambu yang dilanjarkan. Selanjutnya bayi akan diberi ASI sampai berusia 2 atau 3 tahun.

3. Pernikahan

Pernikahan berlaku bagi orang Asmat yang sudah berusia 17 tahun dan dilakukan oleh pihak orang tua lelaki setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan serta melalui uji keberanian untuk membeli wanita dengan mas kawinnya piring antik yang berdasarkan pada nilai uang kesepakatan kapal perahu Johnson. Jika ternyata ada kekurangan dalam penafsiran harga perahu Johnson, maka pihak pria wajib melunasinya dan selama masa pelunasan pihak pria dilarang melakukan tindakan aniaya meskipun sudah diperbolehkan tinggal dalam satu atap.

4. Kematian

Bila kepala suku atau kepala adat ada yang meninggal, maka jasadnya disimpan dalam bentuk mumi dan dipajang di depan joglo suku Asmat. Namun bila masyarakat umum, jasadnya dikuburkan. Proses tersebut dijalankan dengan iringan nyanyian berbahasa Asmat dan pemotongan ruas jari tangan dari anggota keluarga yang ditinggalkan.

 

Rumah Adat Suku Asmat

Selain terkenal dengan ukirannya, Suku Asmat juga memiliki rumah adat yang cukup terkenal yakni rumah Jew. Rumah yang bisa juga disebut dengan rumah bujang hanya ditinggali oleh pria-pria yang belum menikah. Sesekali wanita boleh masuk tetapi harus dalam situasi pertemuan besar.

Rumah Jew adalah bagian penting yang tidak terpisahkan dari kehidupan suku Asmat. Jew menjadi rumah utama tempat mengawali segala kegiatan suku Asmat di tiap desa yang ada layaknya seperti sebuah balai desa. Saking pentingnya, dalam mendirikan Jew pun ada upacara khusus yang harus dilakukan.

Rumah Jew terbuat dari kayu dan didirikan menghadap arah sungai. Panjang rumat adat Jew bisa sampai berpuluh-puluh meter. Atap rumah adat terbuat dari daun sagu atau daun nipah yang telah dianyam. Warga menganyam beramai-ramai sampai selesai.

(AR/dari berbagai sumber)