Mengenal Sosok Kahar Tjandra,Si Pendiri Betadine

Kahar Tjandra Penemu Betadine
Kahar Tjandra Penemu Betadine

Jakarta | EGINDO.co – Kahar Tjandra , mantan pasukan baret merah RPKAD (sekarang Kopassus) penemu obat anti septik Betadine.

Profil dan biodatanya tak banyak diketahui orang, yang ternyata merupakan pendiri produk dengan merek dagang Betadine.

Betadine adalah kesuksesan, buah dari jerih payah usaha yang Kahar Tjandra jalankan.

‘Sejarah Betadine, Bermula dari Eks Kopassus yang Berjualan Obat Merah’

Perjalanannya mendirikan perusahaan farmasi itu dilaluinya dalam pergulatan panjang.

Kahar Tjandra atau Tjan Ke Hoat lahir di Padang pada 24 November 1929.

Ayahnya, Hardi Sjarif, dan ibunya, Noviar Sjarif, membesarkannya di Sawahlunto.

Ia bersekolah hingga kelas 7, sempat terhenti sebelum kemudian menamatkannya di sekolah Jepang.

Karena tidak ada SMP di kota kecil itu, ia pun bertani, memelihara ayam, membuat tambak ikan, dan menjual hasilnya.

“Dulu saya sekolah nyolong-nyolong. Tidak pakai sandal, tidak pakai sepatu.

Belajar dengan lampu 15 watt. Saya nyolong beras di rumah untuk dijual dan dipakai bayar sekolah,” kata Kahar Tjandra

Tahun 1948, ia diantarkan ayahnya ke Padang untuk melanjutkan sekolah SMP dan dititipkan di rumah neneknya.

Ayahnya adalah seorang pegawai negeri di tambang batu bara. Gajinya pas-pasan.

“Saya ditinggal ayah saya di Padang dan tidak pernah diberi uang. Baju setahun cuma punya satu saja.

Di Padang ini saya banyak belajar. Saya punya dua nenek. Yang satu inovatif dan satunya lagi sangat hemat,” tuturnya.

Di belakang rumah neneknya ada kebun sangat luas.

Ada pohon pisang dan kelapa di sana. Ia menjual buah pisang dan daunnya, juga buah kelapa, dengan gerobak dorong.

Kacang asin dan cuka juga ia jual.

Ketika masuk SMA, ia memilih sekolah di Jakarta. Ayahnya meminta dipindahkan tugas ke Jakarta untuk menemaninya.

“Waktu SMA saya nyatut-nyatut skuter. Saya pesan, beli tiga skuter. Uang mukanya cuma 1/10.

Enam bulan kemudian kalau pesanan sudah datang harganya langsung naik. Lalu saya jual suratnya.

Dua skuter saya jual, yang satu saya dapat gratis. Saya pulang bawa skuter, orangtua tidak berani tanya dari mana saya dapat motor,” ujar Tjandra.

Dalam perantauannya di Pulau Jawa, awalnya Kahar ingin bercita-cita menjadi arsitek, namun di tengah jalan dirinya justru memilih berkuliah kedokteran di FKUI, Jakarta.

Ia batal kuliah arsitek karena ITB yang diincarnya berada di Bandung.

Karena di Jakarta yang paling top dan bergengsi saat itu adalah kedokteran, maka masuklah Kahar Tjandra ke FKUI.

Tjandra membuka Apotik Mahakam tahun 1967.

Setelah pensiun, ia menggeluti bisnis secara penuh-salah satu produknya yang terkenal adalah obat anti septik atau obat merah bermerek dagang Betadine.

Kelompok Mahakam miliknya sangat dikenal.

Anak-anak asuhnya yang sudah jadi dokter bekerja di klinik miliknya.

Ia juga ingin membuka klinik di pabriknya di Pulogadung.

“Kalau bisa, saya ingin mendirikan rumah sakit khusus. Lebih bagus lagi kalau itu dikelola anak-anak asuh saya,” kata Kahar.

Selain farmasi, Kahar juga memperluas bisnisnya dengan merambah perhotelan.

Dia mendirikan hotel berbintang di Jakarta Selatan yang kini dikenal dengan nama Hotel Gran Mahakam @

trb/kps/sry/SL