Mengenal Sosok Ibu Dalam Kampanye Pencegahan Covid-19

Pengendara melintas di depan baliho edukasi penerapan protokol kesehatan di Makassar, Sulawesi Selatan
Pengendara melintas di depan baliho edukasi penerapan protokol kesehatan di Makassar, Sulawesi Selatan

Jakarta, | EGINDO.co – Sosok ibu belakangan ini muncul gencar dalam kampanye pencegahan COVID-19 melalui pesan berkalimat tagar ingat pesan ibu, #ingatpesanibu, diikuti tagar jaga jarak, #jagajarak, menghiasi berita-berita di media daring, pamflet, iklan di televisi, dan sosial media.

Bukan sosok ibu dalam gambaran seorang perempuan yang ditampilkan dalam kampanye pencegahan COVID-19 namun lebih pada makna dan filosofi ibu sebagai panutan bagi anak-anak sekaligus keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat. Pesan seorang ibu diyakini akan dipatuhi, bahkan melekat terbawa hingga anak-anak berangkat dewasa.

Pemerintah dengan mengampanyekan #ingatpesanibu berharap, masyarakat Indonesia akan patuh terhadap protokol kesehatan pencegahan COVID-19, sebagaimana seorang anak patuh terhadap ibunya sendiri. “Kampanye ingat pesan ibu kami munculkan karena setelah beberapa bulan kita melihat berbagai cara, kita upayakan dalam rangka meyakinkan masyarakat agar bisa patuh pada protokol kesehatan,” kata Juru Bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito, beberapa waktu lalu.

Gerakan pemerintah mengampanyekan #ingatpesanibu dengan 3M, memakai masker, menjaga jarak aman, dan mencuci tangan, terus diserukan kepada masyarakat sebagai satu paket protokol kesehatan demi mencegah penularan COVID-19 semakin meluas. Kampanye pesan ibu dilatarbelakangi dari pencarian cara yang universal dalam mengampanyekan gaya hidup sehat, supaya terhindar dari penularan COVID-19. Di sisi lain, masyarakat Indonesia terdiri atas bermacam latar belakang budaya hingga tingkat pendidikan. Ada satu hal yang menyatukan beragam latar belakang itu, yakni semua warga Indonesia pasti dilahirkan oleh ibu. “Kita melihat ibu adalah sosok yang penting di dalam keluarga. Semua orang pasti dilahirkan dari seorang ibu, maka dari itu kita menempelkan pesan itu betul-betul dari ibu agar bisa mengingatkan anak-anaknya. Orang tua pun juga asalnya dari ibu,” kata Wiku.

Penanganan wabah penyakit tidak bisa jika dilakukan dengan hanya melibatkan aspek medis namun perlu pendekatan sosial budaya. Ibu dalam budaya masyarakat Indonesia menjadi sosok disegani, dihormati, dan sekaligus sebagai panutan. Bila Satuan Tugas COVID-19 kemudian meluncurkan kampanye 3M dengan menjadikan ibu sebagai kata kunci maka hal itu demi mendorong kesadaran masyarakat untuk peduli akan bahaya virus corona jenis baru yang menjadi penyebab COVID-19.

Bagi Giwo Rubianto, salah seorang tokoh perempuan Indonesia, sosok ibu adalah model pewaris nilai-nilai budaya kepada anggota keluarganya. Kesantunan, adat-istiadat bertingkah laku, adab bergaul merupakan item-item yang diwariskan orang tua, khususnya ibu kepada anak-anaknya. “Di dalam rumah akan terjadi ‘transfer of culture’,” ujarnya.

Ibu sebagai individu yang selalu intens, merupakan aktor untuk berperan terhadap pewarisan budaya. Ibu merupakan agen perubahan terhadap budaya-budaya yang berlaku di masyarakat. Oleh karena ibu yang paling sering berkomunikasi dengan anak-anak maka sadar atau tidak penyaluran adat dan budaya akan selalu terjadi sehingga pemilihan sosok ibu dalam kampanye pencegahan COVID-19 sudah tepat.

Cara terbaik
Seiring dengan masifnya penyebaran virus corona di Indonesia maka mengingat kembali pesan ibu menjadi cara yang terbaik di tengah situasi pandemi yang tidak kunjung usai. AC Nielsen bekerja sama dengan UNICEF melaksanakan survei di enam kota besar di Indonesia dengan responden sebanyak 2.000 orang untuk menggali sikap masyarakat terkait dengan praktik pencegahan COVID-19 pada kehidupan sehari-hari.

Survei tersebut menyatakan sebanyak 69,6 persen responden mengaitkan COVID-19 dengan aspek negatif, seperti berbahaya, menular, darurat, mematikan, menakutkan, khawatir, wabah, pandemi, dan penyakit. Meski mayoritas responden mengasosiasikan COVID-19 dengan aspek negatif, namun hal-hal ini bisa mengarahkan perilaku seseorang untuk bertindak positif dalam mencegah penularannya.

Selanjutnya, 23,2 persen melakukan salah satu dari perilaku 3M dan hanya 9,3 persen dari responden yang tidak melakukan kepatuhan terhadap 3M sama sekali, sedangkan hasil analisa secara individual, menjaga perilaku jaga jarak (47 persen) lebih rendah daripada memakai masker (71 persen) dan mencuci tangan (72 persen).

Perilaku jaga jarak dengan persentase lebih rendah karena kebanyakan responden berpikir bahwa penularan COVID-19 melalui orang yang batuk dan bersin (71 persen). Hanya 23-25 persen responden yang menyebutkan penularan COVID-19 melalui berbicara dan bernapas.

Kondisi ini menjelaskan mengapa jaga jarak dianggap tidak terlalu perlu saat berbicara dengan orang lain selama lawan bicara tidak batuk atau bersin. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara tegas menyatakan jarak fisik membantu membatasi penyebaran COVID-19, yakni menjaga jarak setidaknya satu meter dari satu sama lain dan menghindari menghabiskan waktu di tempat ramai atau berkelompok.

Demikian pula, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dilanjutkan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 sejak awal pandemi merebak telah meminta masyarakat untuk disiplin melakukan jaga jarak lebih dari satu meter supaya terhindar dari cairan mulut dan hidung (droplet) yang keluar dari orang lain. Sebab, droplet berpotensi membawa virus corona

Persoalan jagak jarak yang masih belum sepenuhnya dipatuhi, lebih disebabkan sikap masyarakat Indonesia masih kental dengan budaya “ewuh pakewuh” atau sungkan yang sudah menjadi kebiasaan dalam pergaulan sehari-hari, baik dengan orang yang sudah dikenal maupun orang lain.

Untuk berani menegur sesorang tidak bermasker, meminta orang lain menjaga jarak saat dalam antrean, menjaga jarak saat berbicara, nampaknya masih menjadi masalah tersendiri bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Alasan klasik ketika mau bersikap disiplin terhadap orang lain yaitu khawatir tersinggung, terjadi pertengkaran, tidak sopan dan sebagainya harus berani dihilangkan demi kepentingan, keamanan, dan kenyamanan bersama. Ketika anjuran menjaga jarak terbukti lebih banyak tidak dipatuhi ketimbang 2M lainnya, memakai masker dan mencuci tangan maka ingatlah pesan ibu karena kepatuhan menjaga jarak sama bobotnya mematuhi perintah ibu agar virus corona tidak menular kepada orang yang kita [email protected]

ant/TimEGINDO.co