Mengenal Lie Yak Heng Kini, Berbaring Di Makam Pahlawan Medan

Lie Yak Heng
Lie Yak Heng

Oleh: Fadmin P Malau

Medan, ibukota Provinsi Sumatera Utara memiliki Istana Chong Afie, berdasarkan catatan sejarah Chong Afie suka membantu pembangunan rumah ibadah. Lantas, ada Laksamana Cheng Ho tahun 1500-an mengatakan orang dari Tiongkok daratan telah ribuan tahun datang dan bermukim di Nusantara.

Dari daftar ribuan pejuang veteran di Indonesia ada nama-nama berasal dari etnis Tionghoa. Hal ini karena sudah ratusan tahun etnis Tionghoa ada di Indonesia. Namun, nama-nama  pejuang veteran berasal dari etnis Tionghoa kurang muncul kepermukaan.

Hal ini berkaitan dengan perjalanan sejarah sosial yang terjadi di Indonesia masa lalu, akan tetapi para pejuang veteran itu telah berbuat untuk Indonesia. Satu diantaranya Lie Yak Heng atau dikenal Bung Lie, seorang pahlawan kemerdekaan yang resmi diakui negara.

Pasca kemerdekaan, Bung Lie memilih kembali menjadi rakyat biasa dan menutup cerita perjuangan merebut kemerdekaan yang dilakukannya meskipun Bung Lie ada dalam Lembaga Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Boleh jadi akibat Lie Yak Heng atau Bung Lie menutup diri tentang kisah perjuangannya merebut kemerdekaan menjadi tidak banyak masyarakat yang mengetahui kisah hidupnya. Kini, seorang anak Bung Lie, dr. Julijamnasi dan pada Poliklinik Kebaktian Veteran RI di Serdangbedai sebagai saksi perjuangan Bung Lie buat bangsa dan negara.

Lie Yak Heng lahir 20 Oktober 1930 di Kisaran, Sumatera Utara dan masa kanak-kanak di kota kelahirannya bersama masyarakat hidup dalam keprihatinan, kala itu rakyat sulit memenuhi kebutuhan hidupnya termasuk kebutuhan pokok yakni makan.

Jika memenuhi kebutuhan makan saja sulit tentunya juga kebutuhan pendidikan lebih sulit lagi. Bung Lie bersama anak-anak seusianya tidak mengenal bangku sekolah atau tidak memperoleh pendidikan formal.

Lie Yak Heng, anak ketiga dari empat bersaudara harus berjuang untuk hidup sebab pada usia 11 tahun, ayahnya sudah meninggal dunia. Lie menjadi harapan keluarga mencari nafkah. Bung Lie berjualan tebu di stasiun kereta api bersama teman-teman sebayanya yang sama-sama susah. Tahun 1942, ketika Bung Lie berusia 12 tahun, terjadi penyerangan kepada masyarakat oleh tentara Jepang. Keadaan saat itu sangat mencekam sebab tentara Jepang menyerang masyarakat yang tinggal di sekitar stasiun tempat Bung Lie berada.

Bung Lie bersama teman-temannya menyelamatkan diri meninggalkan lokasi stasiun kereta api. Situasi semakin tidak kondusif, tahun 1944, Bung Lie bersama keluarganya pindah dari Kisaran ke Tebing Tinggi. Setahun di Tebing Tinggi, Indonesia Merdeka. Berita tentang Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan sampai ke Tebing Tinggi bukan pada 17 Agustus 1945 tetapi berita tentang Indonesia sudah merdeka baru diketahui masyarakat di Tebing Tinggi bulan Oktober 1945.

Kabar Indonesia sudah merdeka membuat rakyat di tebing Tinggi bersemangat. Bung Lie bersama teman-temannya melucuti senjata, sepeda dan peralatan yang dimiliki tentara Jepang. Semangat dan keberanian rakyat Tebing Tinggi waktu itu muncul dan membara membuat tentara Jepang hilang nyali dan lari dari Tebing Tinggi.

Semangat karena Indonesia sudah merdeka membuat para pejuang bergerak dan menyerang termasuk Bung Lie bersama rakyat di Tebing Tinggi, bergabung dengan Laskar Napindo. Tentara Jepang mundur teratur sebab Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaannya.

Jepang Menyerah Belanda Masuk

Apa yang dialami Bung Lie bersama rakyat di Tebing Tinggi hampir sama dengan yang dialami rakyat di daerah lain di Indonesia. Udara kebebasan, nikmat kemerdekaan tidak berlangsung lama sebab ketika Jepang menyerah dan angkat kaki dari bumi Indonesia, Belanda masuk kembali ke Indonesia tahun 1947 melancarkan agresi militernya yang dicatat dalam sejarah agresi militer Belanda pertama.

Belanda masuk membonceng NICA dengan alasan melucuti tentara Jepang dari Indonesia. Belanda awalnya berhasil menguasai daerah Jawa Timur, Jawa Barat dan masuk ke Sumatera Utara. Ketika Belanda mulai memasuki Sumatera, terjadi perlawanan rakyat di Sumatera Utara dan Aceh.

Belanda masuk ke Sumatera Utara, Medan dan terus ke Tebing Tinggi. Semua daerah di Sumatera Utara, rakyat dan para pejuang tidak menerima kedatangan Belanda, terjadi perlawana pada setiap daerah di Sumatera Utara yang ingin diduduki Belanda. Rakyat bangkit melawan dengan peran masing-masing tetapi dengan tujuan yang sama mengusir Belanda. Bung Lie dipercaya sebagai mata-mata melaporkan informasi yang diketahuinya kepada tentara nasional.

Bung Lie menyamar sebagai pengantar sayuran ke kediaman Belanda, penyamarannya berjalan mulus sehingga mengetahui kekuatan Belanda. Bung Lie diuntungkan sebab tentara Belanda waktu itu menilai etnis Tionghoa tidak akan berpihak kepada Indonesia. Penilaian Belanda terhadap etnis Tionghoa tidak berpihak kepada Indonesia dimanfaatkan Bung Lie sebagai mata-mata meskipun tugas itu sangat berbahaya karena jika ketahuan sebagai mata-mata maka nyawa menjadi taruhannya.

Bukan saja Bung Lie dari etnis Tionghoa waktu itu yang berjuang tetapi banyak lagi yang lain menjadi anggota laskar penghubung TKR, TRI dan TNI. Bung Lie menjadi anggota laskar penghubung TKR, TRI dan TNI selama 4 tahun dengan daerah operasi Kisaran, Tebing Tinggi, Pulau Raja dan Labuhanbatu.

Bekerja Menghidupi Keluarga

Bung Lie setelah usai perang kemerdekaan mendapat tawaran bergabung sebagai tentara nasional, tetapi Lie memilih ingin menjadi masyarakat sipil dan bekerja menghidupi keluarganya. Lie bekerja sebagai supir truk dan terakhir bekerja mengikat tali jerami. Hebatnya ketika bekerja sebagai pengikat tali jerami, Bung Lie belajar baca-tulis dengan anak majikannya sehingga memiliki pengetahuan baca-tulis. Berbekal ilmu yang dimilikinya itu tahun 1950 melamar pekerjaan di Rumah Sakit Rambutan, Perkebunan Gunung Pamela, Tebing Tinggi.

Lebih hebat lagi selama bekerja di Rumah Sakit Rambutan, Lie belajar merawat dan mengobati pasien yang sakit. Bung Lie memiliki pengetahuan merawat dan mengobati pasien dan akhirnya membangun poliklinik sendiri untuk para veteran. Lie membangun poliklinik untuk para veteran karena mengetahui kehidupan para pejuang masih memprihatinkan dari segi ekonomi. Para veteran tidak memiliki biaya berobat ketika mereka sakit. Lie membantu teman-temannya sesama veteran dengan membangun Poliklinik Kebaktian Veteran di Serdangbedagai tahun 1962.

Tahun 1970-an Lie pindah ke Medan dan bergabung dengan LVRI, ia kembali bertemu dengan teman-teman lama seperjuangan dan teman-temannya mendaftarkan Bung Lie sebagai pejuang kemerdekaan dan akhirnya Bung Lie diminta menjadi Kepala Kesehatan LVRI Sumatera Utara hingga akhir hayatnya.

Dari perjalanan hidup Bung Lie selama hidupnya terus berjuang untuk kemajuan bangsa dan negaranya. Ketika merebut dan mempertahankan kemerdekaan serta setelah Indonesia merdeka terus berjuang dengan membangun Poliklinik untuk teman-teman seperjuangannya.

Perjuangan yang dilakukannya tanpa pamrih dan didasarkan rasa cinta pada bangsa dan negara. Bung Lie tidak pernah berhenti berjuang dan melayani teman-temannya sesama anggota LVRI. Pantaslah Pemerintah Indonesia menganugerahkannya beberapa penghargaan kepada Bung Lie, antara lain Bintang Gerilya, Bintang Perang Kemerdekaan I dan Bintang Perang Kemerdekaan II. Bung Lie kini terbaring di antara para pejuang Indonesia di Taman Makam Pahlawan Bukit Barisan Medan.

***

Penulis Pimpinan Redaksi EGINDO.co, Ketua Yayasan Badan Warisan Sumatra (YBWS)