Mengenal Apa Dan Untuk Apa Bursa Karbon Indonesia

Fadmin Malau
Fadmin Malau

Catatan: Fadmin Malau

Pada Selasa 26 September 2023, Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) resmi meluncurkan Bursa Karbon Indonesia (KBI) dari hasil rancangan pemerintah dimana Bursa Karbon Indonesia atau IDX Carbon dibawah kendali PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Hal itu didasari dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendapatkan mandat melaksanakan Undang Undang (UU) Nomor 4 tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) untuk mengatur dan mengawasi perdagangan karbon.

Dari amanat UU Nomor 4 tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) untuk mengatur dan mengawasi perdagangan karbon itu maka OJK menerbitkan Peraturan OJK Nomor 14/2023 tentang Perdagangan Karbon melalui Bursa Karbon dan diiringi dengan Surat Edaran OJK 12/2023 tentang tata cara penyelenggaraan perdagangan karbon.

Sebuah perjalanan singkat, hanya hitungan bulan telah menghasilkan Bursa Karbon Indonesia dimana menjadi pengendalinya BEI. Hebatnya meskipun pengendalinya BEI akan tetapi bursa karbon tidak sama dengan pasar modal atau saham.

Baca Juga :  Rabu Pagi Rupiah Menguat 13 Poin

Penulis banyak mendapat pertanyaan, apakah Bursa Karbon Indonesia itu pasar modal atau saham? Pertanyaan itu wajar muncul dari masyarakat mengingat Bursa Karbon Indonesia yang menjadi pilotnya BEI. Akibat pilotnya BEI sebagian masyarakat menilai sama dengan pasar modal atau saham.

Meskipun sama pilotnya yakni BEI akan tetapi yang membedakannya adalah produk yang ditawarkan. Akibat dari produk yang ditawarkan tidak sama meskipun pilotnya BEI maka Bursa Karbon Indonesia bukan pasar modal atau saham.

Dalam transaksi bursa karbon ada dua produk yang diperdagangkan, yaitu Teknis Batas Atas Emisi Pelaku Usaha (PTBAE-PU) dan Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK).

Mengutip keterangan resmi Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia mengatakan perdagangan karbon hanya bisa dilakukan oleh pihak institusi dan tidak melayani ritel.

Kemudian dijelaskannya untuk satuan volume perdagangan berbeda. Dalam Bursa Karbon Indonesia menggunakan kelipatan 1 lot yang setara dengan 1 ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e).

Baca Juga :  Rusia Melarang 29 Jurnalis Inggris, Bersama Tokoh Pertahanan

Bursa karbon memiliki empat mekanisme perdagangan, yaitu bursa karbon, yaitu, pasar reguler, pasar negosiasi, pasar lelang dan marketplace (non reguler). Sedangkan pada pasar saham menggunakan sistem Jakarta Automated Trading System (JATS), maka sistem menggunakan teknologi berbasis blockchain milik AirCabon Exchange (ACX).

Masih mengutip keterangan Jeffrey adapun tujuannya untuk bagaimana agar negara Indonesia dapat mencapai net zero melalui perdagangan karbon, bukan untuk spekulasi. IDXCarbon telah menunjuk ACX sebagai vendor untuk sistem perdagangan bursa karbon dengan modifikasi sesuai dengan kebutuhan Indonesia.

Tentang sistem ACX yang dipakai dikarenakan sistem ACX sudah dipakai oleh Bursa Karbon Singapura dan Abu Dhabi. Dipakainya sistem ACX untuk pasar Indonesia tidak sama persis dengan sistem ACX yang dipakai Bursa Karbon Singapura dan Abu Dhabi. sistem ACX Indonesia telah dilakukan modifikasi dan penyelarasan dengan SRN-PPI. ACX memberikan layanan end-to-end dengan memanfaatkan teknologi blockchain untuk memastikan transparansi dan kemampuan audit untuk skema perdagangan pada bursa karbon.

Baca Juga :  Hari Ini 6 Oktober, Disahkan Adanya Lapangan Merdeka Medan

Memang wajar sebagian masyarakat belum paham tentang Bursa Karbon Indonesia yang kini telah dimulai. Sederhananya dapat diambil contoh pada perdagangan perdana Bursa Karbon Indonesia yang diperdagangkan PT Pertamina Power Energi atau Pertamina New and Renewable Energy (Pertamina NRE).

Pada perdagangan perdana itu Pertamina NRE menawarkan Unit Karbon dari Proyek Lahendong Unit 5 dan Unit 6 milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) di harga Rp 69.600 dan Rp 70.000. Dimana pada perdagangan perdana atau hari pertama volume perdagangan Bursa Karbon Indonesia perdagangan terjadi sebanyak 27 transaksi dengan total volume mencapai 459.953 ton CO2e berasal dari 15 pengguna jasa dengan nilai transaksi senilai Rp29,20 miliar.

Mari kita lihat untuk perdagangan hari berikutnya, apakah tujuan dari Bursa Karbon Indonesia agar negara Indonesia dapat mencapai net zero melalui perdagangan karbon bisa tercapai atau hanya spekulasi. Semoga Bursa Karbon Indonesia menjadikan negara Indonesia dapat mencapai net zero.@

***

Bagikan :