Oleh: Wilmar Simandjorang
PAGI itu di Huta Ginjang, angin dari kaldera naik pelan. Danau di bawah masih berkabut. Seorang ibu menjemur ulos di depan rumah, motifnya bukan lagi burung, melainkan garis-garis geometris yang rapi.
Saya teringat cerita lama tentang seekor burung. Orang Tionghoa menyebutnya Fenghuang. Di Medan, di Bagansiapiapi, di Singkawang, orang menyebutnya Hong. Bukan burung yang bisa ditangkap jaring atau dilihat di daftar burung Danau Toba. Ia burung cerita.
Literatur menyebutnya raja segala burung. Jantannya Feng, betinanya Huang. Kini ia disatukan, sebagai lambang kelembutan yang berpasangan dengan naga sebagai lambang keperkasaan. Paruhnya seperti ayam jantan, lehernya seperti ular, ekornya seperti merak. Ia adalah rangkuman dari semua yang indah.
Ia tidak hidup secara biologis. Tapi ia hidup secara budaya. Jejaknya ada di Nusantara. Di atap kelenteng tua, Hong selalu berdampingan dengan naga — simbol suami-istri yang rukun. Di batik pesisir, para perajin Jawa menerima pengaruh Tionghoa itu dan menenunnya kembali. Dalam dunia batik, burung ini disebut burung Hong. Di Jawa, ia ditafsir sebagai penolak bala, sebagai kelembutan.
Di Toba, kita mengenalnya dengan nama lain. Dalam Pustaha, ada Manukmanuk Hulambujati — ayam ajaib yang bertelur tiga dan melahirkan para dewa. Ia juga burung langit, penghubung Banua Ginjang dan Banua Tonga. Saya tidak menyamakan asal-usul keduanya. Saya hanya melihat fungsinya yang mirip: sama-sama penjaga ambang.
Lalu, di mana Hong di Danau Toba hari ini? Saya tidak mencarinya dengan teropong. Saya mencarinya dengan membaca tanda, seperti orang tua dulu membaca musim.
Pertama, membaca air. Dalam cerita, Hong adalah burung yang sangat bersih. Ia hanya makan biji bambu dan hanya hinggap di pohon paulownia yang tumbuh di tanah yang damai. Ia tidak akan hinggap di air yang berbusa. Maka ketika keramba menumpuk di Situmurun dan air menjadi keruh, kita bisa berkata: Hong sedang tidak di sini. Ketika air kembali jernih dan ikan Batak kembali memijah di batu-batu, kita tahu ia sedang pulang.
Kedua, membaca kain. Ulos yang dijemur ibu di Huta Ginjang pagi itu tidak lagi bermotif burung. Motif burung perlahan hilang dari tenun kita. Padahal, ketika sebuah kebudayaan kehilangan motif burung dalam kainnya, mungkin ia sedang kehilangan langitnya. Menjaga motif burung bukan soal estetika, melainkan soal ingatan.
Ketiga, membaca diri kita. Orang Tionghoa punya pelajaran tua: kebahagiaan perkawinan hanya terjadi jika naga dan Hong berpasangan seimbang. Yin dan Yang. Danau Toba pun demikian. Ia butuh naga — kekuatan ekonomi, keramba, hotel, jalan lingkar. Tapi ia juga butuh Hong — kelembutan untuk menahan diri, etika untuk tidak mengambil semua.
Selama ini kita hanya membesarkan naga. Di warung kopi lingkar danau, kita bicara tentang tonase ikan, tentang jumlah kamar hotel, tentang investasi. Jarang kita bicara tentang kapan terakhir kali kita mendengar burung di hutan itu, atau kapan terakhir kali anak-anak berenang tanpa gatal.
Mencari Burung Hong di Danau Toba, pada akhirnya, bukan pekerjaan ornitolog. Ini pekerjaan kita semua. Bukan untuk menemukan burung itu, melainkan untuk menjadi seperti burung itu: makhluk yang hanya mau tinggal di tempat yang damai, yang hanya mengambil secukupnya, yang kehadirannya membuat angin berhenti dan debu mengendap.
Danau Toba tidak kekurangan gelar. Di lingkar danau ini ada doktor, insinyur, perencana, teolog. Yang langka adalah orang yang mau menjadi penolak bala bagi danaunya sendiri.
Pagi di Huta Ginjang beranjak siang. Kabut di atas danau menipis. Ibu itu selesai menjemur ulos. Tidak ada burung Hong yang terbang lewat. Tapi untuk sejenak, danau terlihat teduh kembali. Mungkin itu sudah cukup.@
***
Penulis adalah Wilmar Simandjorang adalah pegiat lingkungan. Ia hidup dan bekerja di lingkar Geopark Kaldera Toba.