Menanti Penerbitan Sekuritas Valas Bank Indonesia

ilustrasi valas
ilustrasi valas

Jakarta|EGINDO.co Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (Amerika Serikat) belakangan ini agaknya ‘memaksa’ Bank Indonesia (BI) untuk ‘menganulir’ kebijakannya. Klaim kecukupan dosis kenaikan suku bunga acuan akumulatif 225 basis poin sejak Agustus 2022 hingga Januari tahun berjalan tampaknya tidak bisa dipertahankan.

Revisi pun terjadi. Rapat Dewan Gubernur BI periode Oktober 2023 mengerek BI 7-day reverse repo rate 25 basis poin hingga di level 6%. Jika BI 7-day reverse repo rate tidak dinaikkan, dia akan sama besar dengan suku bunga The Fed. Minimnya suku bunga diferensial AS-Indonesia niscaya memantik pelarian modal.

Alhasil, kenaikan suku bunga acuan BI dipandang sebagai langkah antisipasi (pre-emptive) dan melihat jauh ke depan (forward looking) untuk memitigasi berbagai macam dampak negatif tersebut. Di satu sisi, kenaikan suku bunga acuan BI akan sedikit-banyak meredam hasrat pemodal asing melarikan dananya.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga acuan BI menjaga daya tarik pasar keuangan. Pemodal asing yang tadinya menyimpan di pasar negara berkembang (emerging market) akan memilih Indonesia sebagai tujuan alternatif. Kecukupan pasokan valuta asing (valas) dan stabilitas nilai tukar rupiah adalah manfaat yang bisa diraih.

Tidak berhenti sampai di situ, BI secara simultan juga akan merilis Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI). SVBI adalah sekuritas (surat berharga) dalam valas yang diterbitkan BI sebagai pengakuan utang jangka pendek. Di pasar perdana, SVBI hanya dapat dibeli oleh bank umum peserta operasi pasar terbuka.

Baca Juga :  Menjelang Rapat Bulanan Bank Indonesia Rupiah Menguat

Selanjutnya di pasar sekunder, instrumen absorbsi SVBI bisa dipindahtangankan dan dimiliki oleh lembaga non bank atau dimiliki baik itu penduduk maupun pihak asing. Masuknya pemain asing inilah yang diyakini akan mampu mendukung pasokan valas guna menstabilisasi nilai tukar rupiah.

Sampai di sini, racikan strategi BI menyasar pada dua aspek. Aspek harga direspons dari kebijakan suku bunga, sedangkan SVBI beroperasi dari ranah kuantitas. Prinsip matematika mengajarkan perhitungan dua nilai yang tidak diketahui mensyaratkan dua persamaan pula. Artinya, dua strategi tersebut secara kuantitas mencukupi.

Namun, jika ditelisik dari tataran kualitas, efektivitas kenaikan suku bunga acuan dan SVBI bisa diperdebatkan. Underlying penerbitan SVBI adalah surat berharga global berdenominasi valas yang dimiliki BI. Mayoritas cadangan devisa BI berbentuk surat berharga. Jelasnya, pasokan SVBI sejatinya lebih dari cukup.

Persoalan kemungkinan muncul dari sisi permintaan. Persoalan teknis berhubungan dengan aset rujukan tadi. Dedolarisasi yang tengah berkembang membuat surat berharga global berdenominasi dolar AS akan merosot. Padahal, surat berharga global itu dipegang sebagai portofolio oleh bank sentral di banyak negara.

Masalah psikologis terkait dengan alur penjualan SVBI. Pihak asing yang akan membeli SVBI sadar atau tidak sejatinya berstatus sebagai pembeli ‘ketiga’, yakni surat berharga dari pasar global ke BI, dari BI ke perbankan, lantas dari perbankan ke publik. Konfidensi sangat boleh jadi berperan di sini.

Baca Juga :  Lavrov Berharap Lewati Sanksi Dalam Perdagangan Dengan India

Mata rantai transaksi dari surat berharga global hingga ‘bermetamorfosis’ menjadi SVBI yang siap jual kepada publik selalu ada ongkos. “Harga” SVBI di tingkat pembeli akhir niscaya akan jauh lebih mahal. Konsekuensinya, prospek imbal hasil (yield) yang diterima pemain asing tadi juga kian tergerus.

Kalaupun persoalan teknis dan psikologis bisa dituntaskan sejak dini, cerita SVBI belum berakhir. Minat pemain asing untuk memegang SVBI tidak serta merta menjadi permintaan riil. Pertimbangan risiko dan return amat dominan dalam menentukan keputusannya. Tesis ini sejatinya masuk akal.

Piranti moneter SVBI yang diterbitkan mulai 21 November 2023 itu bertenor 1, 3, 6, 9, dan 12 bulan. Komposisi tenor itu tampaknya memang sudah merepresentasikan semua struktur preferensi yang ada. Preferensi pemain asing yang, misalnya, hanya ingin bermain ‘aman’ agaknya sudah terakomodasi di situ.

Hanya, penerbitan tenor SVBI itu akan bersaing head-to-head dengan instrumen serupa yang ditawarkan negara lain. Upaya menarik masuk aliran hot money jangka sangat pendek juga ditempuh oleh negara-negara sepantaran (peer). Artinya, persaingan untuk memperebutkan modal asing itu betul-betul terbuka.

Sementara, perbedaan suku bunga antara pasar keuangan Indonesia dan pasar berkembang lainnya belakangan toh terus menyempit. Perbankan sebagai pembeli pertama SVBI niscaya akan menuntut suku bunga diskonto tinggi. Demikian pula, pemain asing juga menghendaki return yang kompatibel.

Baca Juga :  Indeks Keyakinan Konsumen Melemah Kuartal III-2023

Pertanyaan besarnya apakah kenaikan BI 7-day reverse repo rate dan suku bunga diskonto SVBI mampu memengaruhi imbal hasil yang ditawarkan pasar aset keuangan substitusinya. Lemahnya daya tarik suku bunga SVBI membuat pemain asing tetap nyaman berkiprah di pasar saham atau obligasi di pasar luar negeri.

Dengan alur logika di atas, harapan agar pemain asing mau memegang SVBI sebagai aset alternatif menghendaki ikhtiar ekstra. Apalagi pasar sekunder untuk memfasilitasi transaksi sekuritas belum sekuat di negara lain. Intinya, penerbitan SVBI musti dibarengi dengan pengembangan semua perangkat yang melingkupinya.

Mengingat risiko dari transaksi SVBI selalu melibatkan lebih dari nilai dua mata uang, BI perlu menyiapkan instrumen derivatifnya, yaitu interest rate swap, serta memperdalam foreign exchange swap. Dengan wahana ini, investor asing memiliki alternatif untuk instrumen likuiditas jangka pendek.

Jika sejumlah isu di ekosistem permintaan tersebut dapat diselesaikan, SVBI niscaya akan dinantikan menjadi aset alternatif di pasar valas. Pada akhirnya, ketersediaan pasokan valas, pendalaman pasar keuangan, serta stabilisasi nilai tukar rupiah akan tercapai bebarengan. Bukan begitu, BI?

Sumber: Bisnis.com/Sn

Bagikan :