Membaca Emiten Kinerja Keuangan Bisnis Group Sinarmas dari Perusahaan Lintas Sektor

Group Sinarmas
Group Sinarmas

Jakarta | EGINDO.com – Membaca kinerja keuangan Group Sinarmas sepanjang tahun 2025. Bagaimana kondisi group bisnis milik konglomerat keluarga Widjaja yang terdiri dari perusahaan-perusahaan lintas sektor.

Group Sinarmas dengan berbagai sektor yakni sektor energi dan infrastruktur lewat PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), bisnis pulp dan pabrik kertas lewat PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) serta bisnis sektor keuangan lewat PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) dan PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM). Kondisi kinerja keuangan bisnis group Sinarmas terlihat berbeda-beda arah laba bisnisnya.

Mengutip sumber dari laporan keuangan masing-masing emiten dan dari data perdagangan BEI yang dikutip EGINDO.com pada Minggu (19/4/2026) menyebutkan untuk sektor Pulp dan Kertas ada dua emiten yakni TKIM dan INKP.

Terlihat sepanjang 2025, TKIM membukukan laba bersih sebesar US$ 275,80 ribu atau setara Rp 4,61 triliun (berdasarkan kurs Rp 16.720 terhadap dolar AS). Jumlah tersebut turun 7,17% dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada 2024 sebesar US$ 297,13 juta. Adapun penjualan neto perseroan tercatat turun tipis dari US$ 985,14 juta menjadi US$ 984,72 juta secara tahunan atau year on year (yoy). Beban pokok pendapatan perseroan ikut turun menjadi US$ 833,77 juta dari US$ 837,12 juta secara yoy. Perseroan menjual produknya berupa perseroan berasal dari kertas budaya sebesar US$ 714,52 juta dan kertas industri dan lainnya sebesar US$ 270,19 juta.

Terlihat juga perseroan menjual produknya ke negara Asia, Afrika, Eropa, Amerika, Timur Tengah dan lainnya. Sementara itu, laba bersih INKP tercatat naik 6,84% menjadi US$ 453,34 juta atau Rp 7,57 triliun dari US$ 424,30 juta secara yoy. Perusahaan membukukan penjualan neto sebesar US$ 3,17 miliar, turun dari capaian 2024 sebesar US$ 3,19 miliar dimana beban pokok penjualan ikut turun menjadi US$ 2,14 miliar dari US$ 2,17 miliar.

Selanjutnya untuk laba bersih DSSA melorot 25% yakni DSSA mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 25,41% menjadi US$ 230,53 juta atau setara Rp 3,85 triliun dari US$ 309,08 juta secara tahunan.

Anjloknya laba bersih DSSA terjadi seiring dengan penurunan pendapatan perseroan dari US$ 3,01 miliar dari US$ 2,79 miliar secara yoy. Adapaun beban pokok pendapatan perseroan juga berkurang menjadi US$ 1,84 miliar dari US$ 1,78 miliar secara yoy.

Pendapatan perseroan berasal dari segmen bisnis pertambangan dan perdagangan batu bara sebesar US$ 2,48 miliar, penyediaan TV kabel, internet dan teknologi sebesar US$ 211,79 juta, perdagangan sebesar US$ 90,91 ribu, energi terbarukan sebesar US$ 316,95 ribu dan pendapatan lain-lain sebesar US$ 559,56 juta. Sepanjang tahun 2025, perseroan tidak mendapatan pendapatan dari bisnis penyediaan tenaga uap dan listrik, padahal di tahun sebelumnya pendapatan perseroan pada segmen tersebut sebesar US$ 9,73 juta.

Kemudian untuk sektor Keuangan Sinarmas yakni BSIM dan SMMA membukukan membukukan laba bersih sebesar Rp 285,74 miliar pada 2025, menyusut 1,75% secara yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 290,84 miliar.  Susutnya laba besih BSIM karena pendapatan bunga bersih yang menurun 27,61% secara you dari Rp 2,70 triliun pada 2024 menjadi Rp 1,95 triliun pada akhir 2025. Sementara itu, SMMA terpantau belum melaporkan kinerja keuangan hingga periode 31 Desember 2025 perseroan.

Sedangkan untuk Sektor Properti yakni BSDE dan DMAS yang tercatat di BEI yakni PT Bumi Serpong Tbk (BSDE) dan PT Puradelta Sentosa Tbk (DMAS). Keduanya mencatatkan kinerja keuangan yang menyusut pada 2025.

BSDE membukukan laba bersih senilai Rp 2,54 triliun, nilai tersebut melorot 41,6% dibandingkan laba bersih perseroan pada tahun sebelumnya senilai Rp 4,35 triliun. Penurunan tersebut terjadi seiring dengan turunnya pendapatan usaha perseroan yang berkurang dari Rp 13,79 triliun menjadi Rp 12,78 triliun.

DMAS mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 39,93% menjadi Rp 800,30 miliar dari Rp 1,33 triliun. Pendapatan usaha perseroan juga terpantau susut menjadi Rp 1,3 triliun dari Rp 2,03 triliun.

Menurut Direktur DMAS Tondy Suwanto, dalam keterangan resminya yang dikutip EGINDO.com menyebutkan sebesar 88% pendapatan usaha Perseroan berasal dari segmen industri. Selain itu turut berkontribusi pula dari segmen hunian, segmen komersial, serta segmen rental dan hotel.

Tondy Suwanto mengatakan dalam tahun 2025 perseroan telah menjual lahan industri kepada pelanggan dari sektor data center, sektor FMCG, sektor pangan dan turunanya, serta sektor lainnya.@

Bs/fd/timEGINDO.com

Scroll to Top