Jakarta|EGINDO.co Ancaman keterbatasan stimulus fiskal memaksa Indonesia untuk mencari mesin pertumbuhan ekonomi alternatif. Asian Development Bank Institute (ADBI) menilai kecerdasan artifisial (AI) memiliki potensi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih tahan lama ketimbang bergantung pada stimulus jangka pendek.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2026 tumbuh kuat di angka 5,29%, membawa capaian semester I/2026 ke level 5,45%—laju tertinggi sejak 2015. Meski demikian, draf anggaran 2027 telah menetapkan target pertumbuhan yang lebih ambisius di level 6,0%.
Dean & CEO ADB Institute, Bambang Brojonegoro, mengungkapkan bahwa mengejar setengah poin persentase terakhir menuju target tersebut merupakan fase paling menantang. Peningkatan produktivitas berbasis teknologi menjadi kunci utama untuk menutup celah tersebut.
“Stimulus fiskal dinilai terbatas daya tahannya jika basis pendapatan negara, khususnya pajak, belum kuat. Karena itu, fokus pergeseran ke mesin pertumbuhan nonfiskal menjadi masuk akal,” ujar Bambang dalam acara konferensi internasional di ITB, Jumat (28/8/2026).
Peluang Produktivitas dan Kesiapan Dasar AI
Paparan ADBI menunjukkan bahwa negara berkembang tidak perlu memfokuskan modal pada pembangunan frontier model AI yang rumit. Penguatan kesiapan AI dasar melalui infrastruktur digital dan tenaga kerja terampil sudah cukup untuk menyumbang tambahan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,4 poin persentase. Secara keseluruhan, adopsi AI diproyeksikan memberi nilai tambah 0,2 hingga 1,8 poin persentase bagi kawasan Asia berkembang hingga 2030, dengan dampak yang bertahan hingga 2040.
Perspektif ini diperkuat oleh World Development Report 2026 dari Bank Dunia. Risiko otomatisasi pekerjaan di negara berkembang tercatat hanya 4,5%—jauh di bawah negara berpenghasilan tinggi (14,2%). Sebaliknya, potensi AI dalam mendongkrak produktivitas tenaga kerja di negara berkembang mencapai 16,2%.
Dari sisi tenaga kerja, Laporan Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat 21,7% pekerjaan di Indonesia terpapar AI generatif. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi ketiga di ASEAN setelah Singapura dan Filipina. Bambang menegaskan bahwa tingginya angka pemaparan ini merupakan gambaran besarnya peluang sekaligus indikator urgensi pelatihan ulang (upskilling) bagi para pekerja.
Tantangan Modal dan Dukungan Internasional
Meskipun 33% pekerja Indonesia tergolong pengguna AI tingkat lanjut (melampaui rata-rata global 16%) dan status Indonesia sebagai ekonomi digital terbesar di kawasan, ketimpangan alokasi modal masih menjadi hambatan. Porsi pendanaan untuk startup AI di Indonesia baru menyerap USD 91 juta atau sekitar 4% dari total USD 2,3 miliar pendanaan di Asia Tenggara.
Guna mempercepat adopsi teknologi yang inklusif, Asian Development Bank (ADB) menyiapkan komitmen pendanaan hingga USD 70 miliar hingga 2035. Alokasi tersebut mencakup USD 20 miliar untuk program Asia-Pacific Digital Highway yang menargetkan penyediaan jaringan broadband bagi 200 juta orang serta pelatihan digital bagi 3 juta tenaga kerja. Integration antara infrastruktur digital, pengembangan talenta, dan pemerataan alokasi modal diharapkan mampu membawa pendapatan negara berpenghasilan menengah naik hingga 14% pada 2040. (Sn)