Masa Jepang Berkuasa, Eka Tjipta Widjaja Berubah Usaha

Toko toko masa Jepang di Indonesia umumnya toko serba ada. Deretan toko di pasar Glodok Jakarta (Sumber: Foto Japan Photo Library)
Toko toko masa Jepang di Indonesia umumnya toko serba ada. Deretan toko di pasar Glodok Jakarta (Sumber: Foto Japan Photo Library)

Mengenang Lima Tahun Meninggalnya Eka Tjipta Widjaja

Oleh: Fadmin Malau

AKHIRNYA Jepang masuk kesemua daerah di Indonesia, termasuk Makassar. Pada tahun 1941 Jepang masuk Makassar. Masuknya Jepang ke Makassar membuat situasi dan kondisi menjadi kacau. Kondisi ekonomi mengalami kehancuran. Bisnis biskuit Eka Tjipta Widjaja juga ikut bangkrut, untung masih ada tabungan untuk bertahan hidup. Eka Tjipta Widjaja masih bisa bernafas lega. Namun, rencana atau keinginannya mau melanjutkan pendidikan, bersekolah ke Hong Kong menjadi ragu-ragu dan akhirnya dibatalkan.

Kejatuhan atau kegagalan bisnis terjadi. Hal itu merupakan yang pertama dirasakan Eka Tjipta Widjaja. Kebangkrutan atau kegagalan berbisnis pada usia masih remaja. Hebatnya, kala itu hampir belum ada bisnismen muda seperti Eka Tjipta Widjaja. Kala itu umumnya teman-teman seusianya masih fokus bermain-main, bersenang-senang dan bersekolah. Beda halnya dengan Eka Tjipta Widjaja dalam usia muda sudah berbisnis dan sudah pula merasakan bagaimana rasanya ludes, gagal berbisnis.

Dirinya hampir putus asa, tidak tahu apa yang bisa dikerjakan lagi. Eka Tjipta Widjaja akhirnya lebih banyak menghabiskan waktunya bermain di pantai Losari. Dia terus berpikir bagaimana bisnisnya bisa bangkit kembali, berpikir apa yang bisa dikerjakan agar bisa menghasilkan uang.

Baca Juga :  Presiden: Jakarta Masuk 10 Besar Kota Termacet Dunia
Pantai Losari di Makassar duhulu Eka Tjipta Widjaja melihat tentara Jepang membuang barang-barang Belanda di tepi pantai indah itu

Eka Tjipta Widjaja cemas bila terus tidak ada bisnis yang dilakukan maka tabungan yang dimilikinya bisa habis untuk biaya hidup. Rencana ingin melanjutkan pendidikan, bersekolah di Hong Kong terpaksa dibuang jauh-jauh, dihilangkan dalam keinginan dan kini fokus membuka usaha atau bisnis yang baru dalam kondisi ekonomi yang kurang baik.

Pada era Pemerintahan Jepang di Indonesia orang-orang Tionghoa atau pengusaha Tionghoa banyak membuka kedai ransum (toko serba ada). Dikutip dari buku berjudul, “H. Adlin Umar Lubis, Anak Kebon Lintas Tiga Zaman,” yang disunting Ir. Fadmin Prihatin Malau dijelaskan bahwa para pengusaha Tionghoa fokus berdagang untuk menyediakan segala macam barang barang kebutuhan pokok.

Menurut penjelasan Adlin Umar Lubis dalam buku Anak Kebon Lintas Tiga Zaman terbitan Perdana Publishing Medan yang ditulis Fadmin Prihatin Malau itu bahwa orang-orang Tionghoa bukan saja berdagang bahan-bahan kebutuhan pokok di perkotaan akan tetapi juga di perkebunan dan pihak perkebunan memperkenankan orang-orang Tionghoa memasok segala macam kebutuhan pokok masyarakat yang ada di kebun.

Baca Juga :  Eka Tjipta Widjaja Menjadi Kontraktor, Harga Kopra Anjlok

Jepang masuk ke Indonesia dan juga masuk ke Makassar membuat suasana bisnis di kota Makassar berubah, dari yang sebelumnya suasana bisnis baik-baik saja akan tetapi mengalami banyak perubahan dan muncul berbagai kendala. Bisnis biskuit yang sebelumnya mulai berkembang dan mendatang uang sehingga dapat membayar utang-utang orangtua, bisa memperbaiki kondisi rumah mereka hingga lebih layak huni akan tetapi akhirnya kandas.

Satu hari Eka Tjipta Widjaja menghabiskan waktunya bermain di pantai Losari, saat duduk-duduk di bebatuan muncul inspirasi dalam dirinya. Semula Eka Tjipta Widjaja kaget melihat ada truk tentara Jepang yang membuang sampah di tanah yang tidak jauh dari pantai. Menurut penilaian Eka Tjipta Widjaja sampah yang dibuang dari truk tentara Jepang itu bukan sembarang sampah akan tetapi berupa reruntuhan bekas perang. Barang-barang yang dibuang tentara Jepang itu adalah dari barang barang dari gudang yang terbakar seperti besi, kayu, karung-karung terigu, karung semen, seng dan lain sebagainya.

Bagi seorang Eka Tjipta ketika melihat sampah yang dibuang dari truk tentara Jepang itu adalah sebuah peluang bisnis. Namun, muncul tantangan, bagaimana caranya mendekati tentara Jepang agar bisa meraih peluang yang ada itu. Eka Tjipta Widjaja memasang strategi yakni dengan berjualan makanan dan minuman di lokasi tentara Jepang yang membuang sampah bukan sembarang itu sebab ada Tepung, Semen, Gula dan yang lainnya.

Baca Juga :  One Way (SSA) Jangan Abai Terhadap Arus Berlawanan

Peluangnya, dengan berjualan makanan dan minuman, Eka Tjipta Widjaja bisa dekat dengan tentara Jepang dan memiliki peluang untuk melobby tentara Jepang agar Tepung, Semen dan Gula yang dibuang itu bisa diberi kepadanya. Berkat pendekatan, lobby yang baik akhirnya oleh pimpinan tentara Jepang mengizinkan Eka Tjipta Widjaja untuk mengambil Tepung, Semen dan Gula yang dibuang itu untuk dirinya.

Akhirnya, Eka Tjipta Widjaja berhasil mendekati tentara Jepang dan berbisnis dengan tentara Jepang itu. Eka Tjipta Widjaja beralih dagang barang kelontong yakni tepung terigu, arak, semen dan besi. Semua barang barang bekas Belanda yang dibuang tentara Jepang dari gudang Belanda dipungutnya dan menjualnya kembali.

Lagi satu inovasi baru yang kala itu tidak ada orang yang memikirkannya akan tetapi Eka Tjipta Widjaja sudah memikirkannya dan bukan saja sekadar memikirkannya akan tetapi juga telah melaksanakannya yakni menjual barang-barang bekas itu. Keuntungan yang diraih dari penjualan barang-barang bekas itu Eka Tjipta Widjaja membuka peternakan babi. (BERSAMBUNG besok bagian kedelapan)

***

 

Bagikan :