Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
Keluhan tentang generasi muda sering muncul di pertemuan marga: dianggap jauh dari adat, tak kenal tarombo, jarang hadir, lebih dekat ke media sosial daripada tradisi. Namun, apakah sesederhana itu?
Pertanyaan lebih tepat bukan mengapa anak muda menjauh, tetapi apa yang dilakukan marga agar mereka mau mendekat. Keterlibatan lahir bukan dari tuntutan, tetapi dari rasa diterima, dipercaya, dan diberi ruang tumbuh.
Dalam Now That I Know, Kathryn Dahlstrom menunjukkan anak muda yang dianggap sulit ternyata hanya butuh perhatian, kehadiran, dan kepercayaan. Saat didampingi, mereka berubah karena merasa dilihat dan didengar.
Ini sejalan dengan Paulo Freire: partisipasi lahir dari dialog, bukan perintah. Saat komunitas hanya berbicara, jarak tumbuh. Anak muda bukan menolak nilai adat, tetapi belum menemukan ruang yang membuat mereka merasa bagian penting.
Bagi Batak, marga bukan sekadar nama, tetapi identitas, sejarah, dan jaringan sosial. Di dalamnya ada gotong royong, solidaritas, hormat, dan tanggung jawab lintas generasi. Robert Putnam menyebutnya modal sosial: kekuatan dari kepercayaan dan jejaring.
Maka generasi muda perlu literasi baru tentang marga: tarombo bukan hanya hafalan, tetapi pemahaman akar diri. Keterlibatan bukan sekadar hadir, tetapi membangun jejaring, solidaritas, dan kolaborasi.
Di era digital, kontribusi tidak lagi terbatas pada jabatan atau dana. Anak muda bisa mendigitalisasi silsilah, mengelola media sosial, arsip sejarah, dokumentasi keluarga, hingga menyebarkan nilai budaya lewat teknologi. Tradisi dan teknologi bisa berjalan bersama.
Namun, keberlanjutan marga tidak boleh hanya dibebankan pada anak muda. Generasi tua perlu refleksi: sudahkah memberi ruang, sudahkah memberi kepercayaan?
Banyak anak muda hadir hanya sebagai penonton. Diminta membantu, tetapi jarang dilibatkan merancang masa depan. Akibatnya, yang tumbuh bukan rasa memiliki, tetapi keterasingan.
Karena itu, regenerasi penting. Tulisan Barth and Sally Middleton dalam Leader to Leader berjudul Who Will Replace You mengingatkan: tugas pemimpin adalah menyiapkan pengganti, namun sering diabaikan. Organisasi sibuk kegiatan, tetapi lemah kaderisasi.
Fenomena ini juga terjadi di marga: horja, muayawarah besar (MUBES) dan rapat kerja tahunan berjalan, tetapi regenerasi lemah. Padahal masa depan ditentukan kesiapan pemimpin berikutnya, bukan hanya sukses hari ini.
Regenerasi dimulai dari tugas kecil: media sosial, dokumentasi, MC adat, database anggota, literasi budaya. Dari sini tumbuh kemampuan, percaya diri, dan rasa memiliki. Kepemimpinan dibangun, bukan diwariskan instan.
Generasi tua perlu menerima bahwa penerus tidak sama. Mereka lebih digital, kolaboratif, dan dialogis. Ini bukan ancaman selama nilai dasar terjaga.
Sejarah membuktikan budaya bertahan karena adaptasi, bukan penolakan perubahan. Tradisi mati bukan karena berubah, tetapi karena tak lagi relevan bagi generasi hidup.
Ukuran sukses marga harus diperluas: bukan hanya acara dan dana, tetapi juga keterlibatan, pemahaman sejarah, dan rasa memiliki generasi muda.
Masa depan marga bukan hanya panjangnya tarombo, tetapi kuatnya hubungan antargenerasi. Silsilah tanpa pewarisan nilai hanya menjadi arsip.
Seperti pendaki yang telah sampai di puncak, kepemimpinan tidak pernah dimaksudkan sebagai tempat untuk menetap dan menikmati ketinggian, melainkan sebagai posisi untuk melihat ke belakang dan memastikan perjalanan tidak berhenti pada diri sendiri. Justru di titik tertinggi itulah ukuran kebijaksanaan seorang pemimpin diuji: apakah ia hanya berdiri sendiri di atas, atau berbalik, merendahkan ego, dan mengulurkan tangan agar yang lain ikut naik. Kepemimpinan bukan soal memperpanjang jarak dengan yang dipimpin, tetapi memperpendek jarak antara potensi dan kesempatan. Karena itu, jabatan tidak seharusnya dipahami sebagai tujuan akhir yang mengukuhkan posisi, melainkan sebagai jembatan sementara yang fungsinya justru akan selesai ketika orang lain berhasil menyeberang dan melanjutkan lebih jauh dari kita.
Pada akhirnya, marga hidup bukan karena tercatat, tetapi karena dihidupi. Generasi muda perlu literasi, generasi tua perlu ruang. Nilai leluhur bermakna jika terus diwariskan, diperbarui, dan dijembatani menuju masa depan berkelanjutan.@
***
Penulis adalah Penggiat Lingkungan Berbasis Budaya